Batuk Pilek Tak Selalu Perlu ke Dokter, Kenali Kapan Bisa Self Care
Liputan6.com, Jakarta - Memasuki musim pancaroba, batuk, pilek, dan flu menjadi keluhan yang cukup sering dialami masyarakat. Sebelum memutuskan pergi ke dokter, masyarakat dapat melakukan self care atau perawatan mandiri apabila gejala masih ringan dan tidak menunjukkan gejala yang semakin parah.
Dokter Ikhsanuddin Qoth’I atau karib disapa dokter Ikhsan mengatakan masyarakat dapat mempertimbangkan tiga hal sebelum menentukan apakah keluhan cukup ditangani secara mandiri atau perlu diperiksakan. Hal tersebut meliputi waktu, gejala, dan siapa yang mengalaminya.
“Kalau misalkan gejalanya itu katakanlah atau flu batuk pileknya itu baru beberapa hari, kemudian tidak ada pemburukan, itu sebetulnya tidak perlu khawatir berlebihan,” ujarnya dalam acara Actifed Media Event: Better Self Care Starts from Better Preparation on Transitional Weather pada Kamis (1/10/2026) di Depok, Jawa Barat.
Ikhsan mengatakan batuk, pilek, atau flu yang baru berlangsung beberapa hari dan tidak menunjukkan pemburukan dapat dipantau terlebih dahulu. Kondisi tersebut bisa saja termasuk ke dalam self-limiting disease, yaitu kondisi penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya.
Meski dapat sembuh sendiri, flu dan batuk tetap menimbulkan gejala. Maka perlu dilakukan penanganan untuk membantu mengatasi gejala yang muncul seperti konsumsi obat-obatan simptomatik, yaitu jenis obat yang bertujuan untuk meredakan atau gejala.
Selain itu, self care juga dapat dilakukan dengan menjaga kondisi tubuh selama masa pemulihan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan asupan makanan dan minuman serta beristirahat dan tidur yang cukup.
Tepat Pilih Obat dengan Bantuan Apoteker Self care juga berkaitan dengan pemilihan obat untuk meredakan gejala. Pharmacist & Clinical Pharmacy Expert Ikatan Apoteker Indonesia (IKI), Dr. apt. Lucy Novianti, MM, mengatakan masyarakat sebaiknya tidak langsung membeli obat berdasarkan pengalaman sebelumnya. Sebab, gejala yang dialami saat ini bisa berbeda sehingga obat digunakan belum tentu sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.
“Kadang ada pasien yang menganggap sudah biasa, dan akhirnya dia datang ke apotek dengan (anggapan) saya biasa pakai obat ini. Tanpa mau mendengarkan edukasi atau tanpa mau bertukar diskusi dengan apoteker. Padahal, mungkin pada saat dia menggunakan obat tersebut gejalanya berbeda,” ungkap Lucy di kesempatan yang sama.
Ia mengambil contoh saat seseorang batuk. Di apotek atau toko obat tersedia beragam jenis obat batuk itu membuat masyarakat bingung memilih obat yang sesuai. Karena itu, pasien perlu menyampaikan keluhan dan gejala yang dialami kepada apoteker agar bisa mendapatkan obat yang tepat.
“Kalau pasiennya ini menyampaikan atau kita menggali informasi sebetulnya keluhannya apa, gejalanya apa, kita bisa membantu pasien untuk memilihkan obat yang tepat. Karena pada dasarnya obat yang tepat pun kalau diberikan pada pasien yang salah, akibatnya obat itu tidak bisa bekerja,” ujarnya.
Di sisi lain, keinginan untuk segera sembuh terkadang membuat sebagian orang mengonsumsi beberapa jenis obat sekaligus. Menanggapi hal tersebut, Ikhsan mengingatkan penggunaan obat perlu disesuaikan dengan dosisnya karena konsumsi secara berlebihan dapat menimbulkan toksisitas yaitu kondisi ketika obat berubah menjadi racun yang merusak tubuh.
Hal serupa juga menjadi perhatian Lucy. Menurutnya, keinginan untuk cepat sembuh bukanlah sebuah masalah, tetapi penggunaan banyak jenis obat justru dapat menimbulkan efek samping.
“Cepat sembuh tidak ada yang salah. Tapi yang salah adalah ketika kemudian dia menggunakan banyak jenis obat dan akibatnya bukan cepat sembuh, tapi justru menjadi malah efek sampingnya luar biasa. Itulah peran apoteker,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diharapkan dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan apoteker sebelum memilih obat. Hal ini bertujuan agar obat yang diberikan sesuai dengan keluhan dan gejala yang dialami.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/batuk-pilek-tak-selalu-perlu-ke-dokter-kenali-kapan-bisa-self-care-5e7aba4b/.
Baca juga
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto kembali memastikan, dana hasil penertiban kawasan hutan dan lahan yang berhasil dilakukan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk…
Dahlia Poland Ungkap Momen Kenalan dengan Rangga Azies yang Kini Jadi Kekasihnya
- Dahlia Poland berpacaran dengan Rangga Azies, bertemu tak sengaja di Bandung. - Hubungan pacaran mereka berjalan tiga bulan, setelah perkenalan lima bulan. - Dahlia kini lebih selektif dan berhati-hati dalam memulai hubungan baru.
Pagi Selalu Sibuk? Begini Cara Bikin Shower Routine Pria Lebih Praktis
Liputan6.com, Jakarta - Rutinitas pagi sering kali berpacu dengan waktu. Bangun tidur, mandi, sarapan, mengecek pekerjaan, lalu berangkat ke kantor atau kampus. Bagi pria dengan mobilitas tinggi, setiap menit sebelum memulai aktivitas bisa terasa berharga.
MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran Rakabuming, Gugatan Tak Dapat Diterima
Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran Rakabuming Raka memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas (SMA) atau…