Lewati ke konten

Senin, 5 Oktober 20262062 berita

Dulu Dicaci, Kini Buat Happy: Ini Drama Panjang Lahirnya TransJakartaLaboratorium pemikiran lingkar dalam PresidenHarga Minyak Dunia Turun ke US$101 usai G7 Lepas Cadangan DaruratPemerintah gulirkan sejumlah stimulus ekonomi untuk kuartal IV 2026Wamenlu Havas usul MoU kemitraan mineral hijau RI-ChilePrabowo Beri Tanda Kehormatan ke Sejumlah Tokoh TNI, Ini Daftar Lengkapnya!Modus Kuras Rekening Beredar di Sekitar MRT, Kenali TandanyaVideo: Houthi Klaim Serang Fasilitas Aramco di RiyadhPrabowo Beri Bintang Kehormatan ke Eks Menko Polkam hingga Panglima TNIJuara FIFA ASEAN Cup 2026: Penebusan Dosa John Herdman Bersama Timnas Indonesia
Lifestyle

Dulu Dicaci, Kini Buat Happy: Ini Drama Panjang Lahirnya TransJakarta

CNBC Indonesia 3 menit baca 630 kata
Dulu Dicaci, Kini Buat Happy: Ini Drama Panjang Lahirnya TransJakarta — gambar dari CNBC Indonesia
Gambar dari CNBC Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Dulu Dicaci, Kini Buat Happy: Ini Drama Panjang Lahirnya TransJakarta Jakarta, CNBC Indonesia - TransJakarta kini menjadi salah satu moda transportasi andalan warga Ibu Kota dan sekitarnya.

Jutaan perjalanan dilakukan menggunakan layanan ini setiap hari. Namun, perjalanan panjang TransJakarta tidak terjadi begitu saja. Semuanya bermula dari gagasan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso untuk menghadirkan sistem transportasi massal berbasis bus di tengah persoalan kemacetan Jakarta.

Pada 2003, Sutiyoso mulai mendorong pembangunan sistem bus rapid transit (BRT) atau busway di Jakarta. Sutiyoso sebenarnya hanya melanjutkan gagasan lama transportasi Jakarta yang selalu gagal.

Perlu diketahui, jauh sebelum Sutiyoso, Pemda DKI Jakarta sudah pernah menyiapkan proposal pembangunan angkutan massal ketika R. Suprapto (1987-1997) menjabat sebagai gubernur.

Saat itu, pemerintah daerah telah melakukan 11 riset transportasi Jakarta serta studi banding ke Inggris, Kanada, dan Jepang.

Proposal tersebut disusun oleh tiga pejabat, yakni Wakil Gubernur Bidang Ekonomi dan Pembangunan Bun Yamin Ramto, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Giri Suseno, dan Direktur Jenderal Bina Marga Suryatin Sastromijoyo.

Mereka merancang kereta ringan yang akan berputar mengelilingi Jakarta. Jalurnya membentang dari Cinere, melewati kawasan Sudirman dan Thamrin, kemudian menuju Ancol dan Gunung Sahari sebelum kembali ke Cinere.

Namun, rencana kereta ringan tersebut tidak terealisasi. Opsi lain turut dihadirkan oleh Menteri Riset dan Teknologi B.J Habibie yang memilik angkutan massal berbasis bus. Hanya saja, opsi ini juga tidak berjalan lancar. Terlebih usai terjadi krisis ekonomi 1997-1998.

Barulah bertahun-tahun kemudian, gagasan angkutan massal berbasis bus diwujudkan pada ea Sutiyoso.

Dalam pemberitaan Suara Karya (23 November 2004) tahun 2003, gubernur berlatar tentara itu mulai khawatir kemacetan Jakarta akan semakin parah, sehingga kebijakan transportasi massal harus segera dibuat. Caranya dengan memanfaatkan anggaran daerah, tanpa perlu melibatkan pemerintah pusat.

Sutiyoso kemudian melihat sistem busway di Bogotá, Kolombia, sebagai salah satu contoh yang bisa diterapkan di Jakarta. Pada Mei 2003, ia mengunjungi Bogotá dan melihat langsung sistem TransMilenio.

Sepulang dari sana, pemerintah DKI membentuk tim lintas dinas untuk mengembangkan konsep serupa di Jakarta. Dalam bayangan Sutiyoso dan tim, akan ada sistem bus dengan jalur khusus terpisah dari kendaraan lain.

Namun, rencana tersebut tidak langsung diterima. Jalur khusus bus berarti sebagian ruang jalan harus dialihkan dari kendaraan lain. Kekhawatiran muncul bahwa busway justru akan mengurangi ruang bagi kendaraan pribadi dan memperparah kemacetan.

Atas dasar inilah, pembangunan TransJakarta tidak berjalan mulus.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/dulu-dicaci-kini-buat-happy-ini-drama-panjang-lahirnya-transjakarta-27a7c887/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle