Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Ini Bahaya AI, Nyaris Bikin AS dan China Perang Gegara Laporan Palsu!Alarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Teknologi

Ini Bahaya AI, Nyaris Bikin AS dan China Perang Gegara Laporan Palsu!

CNN Internasional 3 menit baca 543 kata
Ini Bahaya AI, Nyaris Bikin AS dan China Perang Gegara Laporan Palsu! — gambar dari CNN Internasional
Gambar dari CNN Internasional. Ringkasan oleh Zona News.

Penggunaan akal imitasi (AI) yang tidak teliti dalam militer Amerika Serikat nyaris memicu perang dengan China.

Sebuah laporan intelijen palsu yang dibuat dengan bantuan AI hampir membuat militer AS mencegat kapal China di Timur Tengah karena diduga membawa komponen senjata nuklir.

Insiden itu terjadi pada musim semi tahun ini, saat AS tengah berperang dengan Iran.

Menurut empat sumber yang mengetahui kejadian tersebut, militer AS sempat merencanakan operasi untuk mencegat kapal China setelah menerima laporan intelijen yang mencurigakan.

Dua sumber menyebut personel militer AS bersenjata bahkan telah bersiap menaiki kapal. Pesawat militer juga sudah berada di udara untuk mendukung operasi tersebut.

Namun, menjelang pelaksanaan operasi, sejumlah pejabat memeriksa kembali laporan itu. Mereka menemukan bahwa seorang analis Komando Operasi Khusus AS menyusun laporan tersebut dengan bantuan AI.

Chatbot yang digunakan analis itu ternyata salah mengidentifikasi material yang diangkut kapal China. CNN tidak mengetahui jenis muatan sebenarnya.

Salah satu sumber menyebut laporan tersebut "sepenuhnya salah" dan "hampir memicu perang". Pasalnya, tindakan militer AS terhadap kapal China berisiko memicu konflik bersenjata antara kedua negara.

Insiden ini menyoroti bahaya penggunaan AI dalam pengambilan keputusan militer, terutama saat perang berlangsung. Informasi yang keliru berpotensi memicu kesalahan perhitungan yang berakibat fatal.

Dalam kasus tersebut, analisis menggunakan chatbot untuk memeriksa sejumlah laporan intelijen tentang manifes kapal dari Komando Operasi Khusus AS Pasifik di Hawaii. Chatbot itu menggabungkan informasi dari sumber terbuka dan intelijen rahasia pemerintah AS, lalu menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Analis kemudian kembali menggunakan AI untuk menyusun temuan tersebut menjadi laporan intelijen resmi. Laporan itu selanjutnya disebarkan kepada pihak militer.

Menurut salah sumber sumber, kejadian serupa bukan hal baru. Fenomena "halusinasi" AI, ketika sistem menghasilkan informasi yang salah seolah-olah benar, juga ditemukan dalam penggunaan AI di komunitas intelijen AS.

Di sisi lain, militer dan intelijen AS, terus mempercepat penggunaan AI untuk berbagai kebutuhan, mulai dari analisis intelijen, penentuan target serangan, hingga pengelolaan anggaran, logistik, dan rantai pasokan.

Pada Januari, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, meluncurkan strategi percepatan AI untuk memperluas penggunaan teknologi tersebut di lingkungan militer.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/ini-bahaya-ai-nyaris-bikin-as-dan-china-perang-gegara-laporan-palsu-2787ec22/.

Baca juga

Daftar HP Tak Bisa WhatsApp Mulai Oktober 2026

Daftar Isi WhatsApp menghentikan dukungan untuk sejumlah HP lawas setelah memperbarui persyaratan minimum sistem operasi. Mulai Oktober 2026, HP Android harus menjalankan setidaknya Android 6.0 agar tetap bisa menggunakan WhatsApp.

Detik Inet

Semua berita Teknologi