Jangan Salah Pilih, Ini Perbedaan Transmisi CVT dan Matic Konvensional
Liputan6.com, Jakarta - Mobil bertransmisi otomatis menjadi salah satu pilihan praktis bagi pengendara yang kerap menghadapi kemacetan lalu lintas perkotaan. Berbeda dengan mobil manual, pengemudi mobil matik tidak perlu mengoperasikan pedal kopling sehingga aktivitas berkendara terasa lebih sederhana.
Namun, ketika hendak membeli mobil baru, konsumen biasanya akan menemukan beberapa pilihan transmisi otomatis. Dua di antaranya yang cukup umum adalah CVT (Continuously Variable Transmission) dan matic konvensional atau Automatic Transmission (AT).
Meski sama-sama tidak menggunakan pedal kopling, kedua jenis transmisi tersebut memiliki mekanisme kerja, karakter perpindahan tenaga, hingga sensasi berkendara yang berbeda.
Dilansir dari laman Daihatsu, Jumat (2/10/2026), berikut sejumlah perbedaan antara transmisi CVT dan matic konvensional yang perlu diketahui sebelum membeli mobil.
1. Mekanisme dan Rasio Gigi Berbeda Perbedaan paling mendasar antara CVT dan transmisi matic konvensional terdapat pada komponen internal yang digunakan untuk menyalurkan tenaga mesin ke roda.
CVT mengandalkan sepasang puli (pulley) yang dihubungkan dengan sabuk baja (steel belt). Sistem ini memungkinkan rasio transmisi berubah secara kontinu menyesuaikan putaran mesin dan kecepatan kendaraan.
Karena tidak memiliki tingkatan gigi konvensional seperti gigi 1, 2, 3, dan seterusnya, perubahan rasio pada CVT berlangsung secara halus.
Sementara itu, matic konvensional (AT) menggunakan rangkaian planetary gear set dan torque converter. Sistem tersebut memiliki sejumlah rasio gigi tetap yang akan berpindah sesuai kondisi berkendara.
Perbedaan mekanisme inilah yang kemudian menghasilkan karakter berkendara yang berbeda antara CVT dan matic konvensional.
2. CVT Unggul dalam Kehalusan, Matic Konvensional Punya Respons Berbeda Karakter berkendara menjadi salah satu perbedaan yang paling mudah dirasakan pengemudi.
Transmisi CVT dirancang untuk memberikan perpindahan rasio yang halus karena tidak terdapat jeda perpindahan gigi seperti pada transmisi otomatis konvensional.
Karakter ini membuat CVT terasa nyaman ketika digunakan dalam kondisi stop-and-go, terutama saat menghadapi kemacetan.
Selain itu, CVT memungkinkan mesin bekerja pada putaran yang sesuai dengan kebutuhan kendaraan. Kondisi tersebut dapat membantu efisiensi konsumsi bahan bakar, tergantung pada desain kendaraan dan kondisi penggunaannya.
Di sisi lain, matic konvensional memiliki perpindahan gigi yang lebih terasa ketika transmisi melakukan upshift maupun downshift. Karakter tersebut memberikan umpan balik yang berbeda ketika pengemudi melakukan akselerasi atau deselerasi.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/jangan-salah-pilih-ini-perbedaan-transmisi-cvt-dan-matic-konvensional-eb0832bb/.
Baca juga
Juara FIFA ASEAN Cup 2026: Penebusan Dosa John Herdman Bersama Timnas Indonesia
FIFA ASEAN Cup 2026 Juara FIFA ASEAN Cup 2026: Penebusan Dosa John Herdman Bersama Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026 jadi cara sempurna John Herdman selaku pelatih Timnas Indonesia menebus dosa kegagalannya di Piala AFF.
Pelatih Portugal Buka Pintu untuk Ronaldo: Asalkan Dia Bermain
Pelatih Portugal Jorge Jesus membuka pintu untuk Cristiano Ronaldo tetap bermain di tim nasional usai lolos ke perempat final UEFA Nations League A, Senin (5/10) dini hari WIB.
Teun Koopmeiners Bicara soal Peran Tak Biasa saat Belanda Tekuk Serbia
Liputan6.com, Jakarta - Teun Koopmeiners menjadi salah satu pemain penting dalam kemenangan Belanda atas Serbia pada laga UEFA Nations League. Selain mencetak gol pembuka, pemain tersebut mendapat tugas tak biasa dengan bermain sebagai bek tengah.
Xavi Puas dengan Kerja Keras Belanda saat Kalahkan Serbia
Pelatih Timnas Belanda,Xavi Hernandez, puas dengan kerja keras anak asuhannya untuk mengalahkan Serbia. Ia menilai Serbia sempat sulitkan De Oranje.