Review Film: Verity
Ekspektasi tinggi sering kali jadi bumerang paling mematikan buat adaptasi novel laris ke layar lebar. Terbatasnya durasi kerap kali jadi tantangan menggarap kedalaman cerita dalam novel.
Verity menjadi korban terbaru karena terjebak dalam lubang yang persis sama. Film psychological erotic thriller yang premisnya di atas kertas sangat menjanjikan ini justru tersungkur gara-gara eksekusi mentah.
Menit-menit awal patut diacungi jempol. Penceritaan dibuka lewat penerjemahan visual yang nyaris menyalin sumber aslinya kata demi kata hingga mampu menahan ekspektasi penonton, terutama yang sudah membaca novelnya.
Sayangnya, situasi itu hanya bertahan sebentar. Begitu durasi berjalan, film ini ternyata bermain terlalu aman. Banyak elemen krusial dari novelnya dipangkas habis atau dirombak sembarangan padahal itu nyawa utama penceritaan.
Nick Antosca sebagai penulis naskah seperti kebingungan menentukan pijakan fokus. Apakah meneror penonton lewat naskah sinting milik Verity? Mengulik gairah erotis antara Verity dan Jeremy? Membedah manipulasi gila di antara mereka? Tidak ada yang benar-benar matang.
Naskah film ini terasa hanya mencomot adegan-adegan yang dianggap penting, lalu menjahitnya secara paksa menjadi satu tontonan utuh. Hasilnya hambar.
Alih-alih menggoda otak dan mata, tontonan ini berujung tidak seksi sekaligus tidak cerdas, biarpun diisi jajaran pemain yang secara visual dan reputasi tak perlu diragukan lagi.
Karakterisasinya juga begitu dangkal. Kedalaman emosi tokohnya menguap begitu saja hingga bikin penonton mungkin akan sulit untuk peduli pada nasib mereka.
Dakota Johnson yang memerankan Lowen terlihat datar kaku. Monolog internal Lowen di buku yang jadi kunci utama bagaimana ia dihajar ketidakpastian, paranoia, dan tarik-ulur antara percaya atau ragu-dihilangkan tanpa ampun.
Di layar, Lowen jadi sekadar terlihat kebingungan. Parahnya lagi, tak ada percikan chemistry antara dirinya dan Josh Hartnett yang memerankan Jeremy. Romansa mereka ya mendadak mekar begitu saja.
Catatan utama untuk film ini jelas berada pada sisi gelap dan absurditas Verity yang jadi candu di versi tulisan gagal diterjemahkan ke layar.
Angan-angan melihat Anne Hathaway menggila sebagai Verity harus dikubur dalam-dalam. Dialog-dialog tajam Verity lenyap. Kebenciannya sebagai ibu, terutama perlakuannya ke anak-anaknya di-tone down hingga benar-benar tawar.
Showalter dan Antosca gagal menangkap dinamika mematikan trio Verity, Jeremy, dan Lowen. Rasa iri, manipulasi, dan nafsu yang seharusnya membanjiri layar malah terasa kering kerontang.
Satu-satunya yang masih mampu menopang film ini adalah absennya kompas moral hitam-putih. Sebagai thriller psikologis, ketiadaan batasan jelas antara pahlawan dan penjahat jadi nilai plus.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/review-film-verity-aab5663b/.
Baca juga
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah
Prabowo Salurkan Rp400 T Hasil Satgas PKH untuk Rumah Rakyat-Sekolah Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto kembali memastikan, dana hasil penertiban kawasan hutan dan lahan yang berhasil dilakukan oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) untuk…
Dahlia Poland Ungkap Momen Kenalan dengan Rangga Azies yang Kini Jadi Kekasihnya
- Dahlia Poland berpacaran dengan Rangga Azies, bertemu tak sengaja di Bandung. - Hubungan pacaran mereka berjalan tiga bulan, setelah perkenalan lima bulan. - Dahlia kini lebih selektif dan berhati-hati dalam memulai hubungan baru.
Pagi Selalu Sibuk? Begini Cara Bikin Shower Routine Pria Lebih Praktis
Liputan6.com, Jakarta - Rutinitas pagi sering kali berpacu dengan waktu. Bangun tidur, mandi, sarapan, mengecek pekerjaan, lalu berangkat ke kantor atau kampus. Bagi pria dengan mobilitas tinggi, setiap menit sebelum memulai aktivitas bisa terasa berharga.
MK Tak Temukan Bukti Ijazah Setara SMA Gibran Rakabuming, Gugatan Tak Dapat Diterima
Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran Rakabuming Raka memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat dijadikan dasar penyetaraan dengan pendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas (SMA) atau…