Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Review Film: VerityAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Lifestyle

Review Film: Verity

CNN Hiburan 3 menit baca 514 kata
Review Film: Verity — gambar dari CNN Hiburan
Gambar dari CNN Hiburan. Ringkasan oleh Zona News.

Ekspektasi tinggi sering kali jadi bumerang paling mematikan buat adaptasi novel laris ke layar lebar. Terbatasnya durasi kerap kali jadi tantangan menggarap kedalaman cerita dalam novel.

Verity menjadi korban terbaru karena terjebak dalam lubang yang persis sama. Film psychological erotic thriller yang premisnya di atas kertas sangat menjanjikan ini justru tersungkur gara-gara eksekusi mentah.

Menit-menit awal patut diacungi jempol. Penceritaan dibuka lewat penerjemahan visual yang nyaris menyalin sumber aslinya kata demi kata hingga mampu menahan ekspektasi penonton, terutama yang sudah membaca novelnya.

Sayangnya, situasi itu hanya bertahan sebentar. Begitu durasi berjalan, film ini ternyata bermain terlalu aman. Banyak elemen krusial dari novelnya dipangkas habis atau dirombak sembarangan padahal itu nyawa utama penceritaan.

Nick Antosca sebagai penulis naskah seperti kebingungan menentukan pijakan fokus. Apakah meneror penonton lewat naskah sinting milik Verity? Mengulik gairah erotis antara Verity dan Jeremy? Membedah manipulasi gila di antara mereka? Tidak ada yang benar-benar matang.

Naskah film ini terasa hanya mencomot adegan-adegan yang dianggap penting, lalu menjahitnya secara paksa menjadi satu tontonan utuh. Hasilnya hambar.

Alih-alih menggoda otak dan mata, tontonan ini berujung tidak seksi sekaligus tidak cerdas, biarpun diisi jajaran pemain yang secara visual dan reputasi tak perlu diragukan lagi.

Karakterisasinya juga begitu dangkal. Kedalaman emosi tokohnya menguap begitu saja hingga bikin penonton mungkin akan sulit untuk peduli pada nasib mereka.

Dakota Johnson yang memerankan Lowen terlihat datar kaku. Monolog internal Lowen di buku yang jadi kunci utama bagaimana ia dihajar ketidakpastian, paranoia, dan tarik-ulur antara percaya atau ragu-dihilangkan tanpa ampun.

Di layar, Lowen jadi sekadar terlihat kebingungan. Parahnya lagi, tak ada percikan chemistry antara dirinya dan Josh Hartnett yang memerankan Jeremy. Romansa mereka ya mendadak mekar begitu saja.

Catatan utama untuk film ini jelas berada pada sisi gelap dan absurditas Verity yang jadi candu di versi tulisan gagal diterjemahkan ke layar.

Angan-angan melihat Anne Hathaway menggila sebagai Verity harus dikubur dalam-dalam. Dialog-dialog tajam Verity lenyap. Kebenciannya sebagai ibu, terutama perlakuannya ke anak-anaknya di-tone down hingga benar-benar tawar.

Showalter dan Antosca gagal menangkap dinamika mematikan trio Verity, Jeremy, dan Lowen. Rasa iri, manipulasi, dan nafsu yang seharusnya membanjiri layar malah terasa kering kerontang.

Satu-satunya yang masih mampu menopang film ini adalah absennya kompas moral hitam-putih. Sebagai thriller psikologis, ketiadaan batasan jelas antara pahlawan dan penjahat jadi nilai plus.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/review-film-verity-aab5663b/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle