Anak Bertengkar, Kapan Orang Tua Perlu Turun Tangan?
Pertengkaran antara kakak dan adik mungkin menjadi pemandangan yang cukup akrab di rumah. Mulai dari berebut mainan, saling mengejek, hingga berujung pada dorong-dorongan.
Orang tua biasanya refleks langsung melerai atau menentukan siapa yang salah. Padahal, cara orang tua merespons pertengkaran juga dapat memengaruhi bagaimana anak belajar menyelesaikan konflik dengan saudaranya.
Ketika pertengkaran masih sebatas adu mulut ringan, orang tua sebenarnya tidak selalu perlu buru-buru turun tangan. Namun, jika sudah muncul hinaan, makian, ancaman, atau kekerasan fisik, orang tua perlu segera menghentikannya.
Mengutip Cleveland Clinic, orang tua dapat berperan sebagai mediator atau pelatih ketika konflik terjadi, bukan sekadar menjadi wasit yang menentukan siapa yang menang atau kalah.
Lantas, bagaimana cara menghadapi kakak dan adik yang sedang bertengkar? Berikut triknya:
1. Tetap tenang dan segera hentikan kekerasan Ketika melihat kakak dan adik mulai saling mendorong atau memukul, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memisahkan mereka dengan tenang. Hindari ikut berteriak atau menunjukkan kemarahan.
Anak perlu memahami bahwa kekerasan bukan cara yang dapat diterima untuk menyelesaikan masalah. Orang tua dapat mengatakan secara singkat bahwa memukul, menendang, atau menyakiti saudara tidak diperbolehkan. Setelah situasi lebih tenang, barulah orang tua membantu keduanya membicarakan masalah.
Orang tua juga sebaiknya memperhatikan tanda-tanda konflik sebelum pertengkaran berkembang menjadi kekerasan sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal.
2. Jangan langsung menentukan siapa yang salah Saat dua anak bertengkar, orang tua mungkin tergoda untuk langsung membela anak yang lebih kecil. Misalnya dengan mengatakan, 'Kamu kan kakaknya, harus mengalah,' atau, 'Adik masih kecil, biarin saja.' Melansir CNN Health, terapis keluarga menyebut cara seperti ini justru dapat memunculkan rasa tidak adil dan membuat anak semakin kesal kepada saudaranya. Karena itu, orang tua sebaiknya menghindari keberpihakan dan mencoba memahami sudut pandang masing-masing anak. Perbedaan usia bukan berarti salah satu anak selalu harus mengalah.
3. Jika masih aman, beri kesempatan mereka menyelesaikannya Tidak semua pertengkaran harus langsung dihentikan orang tua. Untuk perselisihan ringan, orang tua dapat memberi ruang agar anak mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Anak juga dapat diarahkan untuk menggunakan kata-kata daripada terus berteriak atau saling menyalahkan.
Anak di bawah usia 8 tahun umumnya belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengelola konflik secara mandiri. Karena itu, orang tua dapat membantu sebagai mediator. Biarkan anak tetap memiliki kesempatan belajar menyelesaikan konflik, tetapi pastikan mereka tahu bahwa orang tua siap membantu jika keadaan memburuk.
4. Dengarkan cerita kakak dan adik secara bergantian Setelah keadaan tenang, jangan buru-buru meminta anak saling meminta maaf. Dengarkan terlebih dahulu apa yang terjadi dari sudut pandang masing-masing.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan perilaku anak. Perasaan marah atau kecewa boleh muncul, tetapi tetap perlu ada batas bahwa menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk meluapkannya.
Dengan mendengarkan kedua sisi, orang tua juga dapat membantu anak memahami bahwa saudaranya memiliki perasaan dan sudut pandang yang berbeda.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/anak-bertengkar-kapan-orang-tua-perlu-turun-tangan-bd4ffe04/.
Baca juga
KTM Hadirkan SX-E 2.12, Motor Trail Listrik untuk Pengendara Cilik dengan Motor 1,8 kW
KTM SX-E 2.12 2027, motor trail listrik anak dengan motor 1,8 kW, dijual di Inggris mulai £2.549 atau sekitar Rp60,5 juta pada pertengahan Oktober.
Terduga Pelaku Bully Telkom University Bertambah Jadi 4 Orang
Terduga pelaku perundungan seorang mahasiswa Telkom University bertambah jadi empat orang. Jumlah tersebut bertambah berdasarkan hasil pemeriksaan dan sidang internal yang dilakukan pihak kampus.
Chicco Kurniawan Merasa Dekat dengan Isu Kesehatan Mental di Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Chicco Kurniawan Merasa Dekat dengan Isu Kesehatan Mental di Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Chicco Kurniawan menilai pemulihan kesehatan mental bukan proses sederhana yang cukup diselesaikan dengan bercerita atau menerima nasihat.
Tren Wellness Ubah Cara Konsumen Memilih Produk Kesehatan dan Kecantikan
Liputan6.com, Jakarta - Kebutuhan wellness konsumen Indonesia semakin beragam seiring perubahan gaya hidup dan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan, serta perawatan diri.