Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Gletser Swiss Hilang 20 Persen dalam 5 Tahun Imbas Krisis IklimVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Teknologi

Gletser Swiss Hilang 20 Persen dalam 5 Tahun Imbas Krisis Iklim

CNN Teknologi 2 menit baca 382 kata
Gletser Swiss Hilang 20 Persen dalam 5 Tahun Imbas Krisis Iklim — gambar dari CNN Teknologi
Gambar dari CNN Teknologi. Ringkasan oleh Zona News.

Para peneliti mengungkap Swiss kehilangan hampir seperlima esnya hanya dalam lima tahun terakhir imbas krisis iklim, mengubah gletser putih besar menjadi gurun batu mirip Bulan.

Menurut laporan pemantauan tahunan, gletser Swiss menyusut sebesar 5,5 persen pada delapan bulan pertama tahun 2026 akibat dilanda gelombang panas terik pada musim panas dan salju yang semakin sedikit pada musim dingin.

Penyusutan volume es tahun ini disebut hampir sama dengan rekor penyusutan es pada 2022. Dalam lima tahun terakhir, total penyusutan es gletser sejak tahun 2021 diketahui sebesar 19,4 persen.

Matthias Huss, seorang ahli gletser di ETH Zürich yang juga penulis utama penelitian tersebut mengatakan banyak orang tidak menyadari seberapa cepat gletser menyusut. Menurut pengamatannya, beberapa lokasi yang sekarang tandus dulunya berada di bawah lapisan es setebal ratusan meter.

"Saya mengunjungi salah satunya minggu lalu dan sangat berkesan untuk berdiri di lahan seperti Bulan ini, yang pernah berada di bawah lapisan es yang tebal dan luas, hanya beberapa tahun lalu," kata Huss, dikutip dari The Guardian, Kamis (1/10).

Ia mengatakan saat ini lokasi tersebut telah menjadi gurun batu di mana masih ada beberapa bongkahan es tua yang tersebar dan terus mencair di atas bebatuan panas.

Para peneliti belum menyusun penghitungan resmi penyusutan gletser tahun ini, tetapi mereka mengatakan sejumlah gletser kecil telah menghilang.

Penelitian terbaru ini merupakan kolaborasi antara Swiss Glacier Monitoring Network dan Swiss Commission for Cryosphere Observation. Para peneliti menemukan bahwa ketebalan rata-rata gletser turun antara 2,5-4 meter pada tahun ini.

Mereka mengatakan semakin sering melihat gletser runtuh dari dalam akibat aliran internal di bawah es yang membentuk gua, daripada hanya sekadar menyusut di permukaan karena panas Matahari.

"Ada lubang-lubang besar di tengah es yang atapnya runtuh, seperti keju. Ini adalah proses yang merusak gletser dan membuatnya menyusut lebih cepat," kata Huss.

Wilayah Alpen mengalami perubahan paling dramatis di tengah peningkatan suhu yang diketahui meningkat dua kali lebih cepat di Eropa jika dibandingkan rata-rata global akibat efek pemerangkapan panas dari polusi bahan bakar fosil dan kerusakan alam.

Penelitian yang diterbitkan di MeteoSwiss pada Selasa (29/9) tersebut menemukan bahwa setengah tahun musim panas dari April hingga September adalah yang terpanas dan terkering sejak pencatatan dimulai pada 1864.

Dalam kurun waktu tersebut, umat manusia telah menghasilkan 1,8 triliun ton emisi karbon dioksida yang menumpuk di atmosfer dan membuat planet ini mengalami pemanasan sekitar 1,4 derajat Celcius.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/gletser-swiss-hilang-20-persen-dalam-5-tahun-imbas-krisis-iklim-0d9e27e3/.

Baca juga

Semua berita Teknologi