Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Jelajah Sorong Selatan, Menyusuri Pesona Alam dan Gastronomi dari HutanVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Lifestyle

Jelajah Sorong Selatan, Menyusuri Pesona Alam dan Gastronomi dari Hutan

Liputan6 Lifestyle 3 menit baca 598 kata
Jelajah Sorong Selatan, Menyusuri Pesona Alam dan Gastronomi dari Hutan — gambar dari Liputan6 Lifestyle
Gambar dari Liputan6 Lifestyle. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Sorong Selatan, Papua Barat Daya, memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari hutan, sungai, rawa gambut, mangrove, hingga pesisir. Kawasan Konda, Bariat, dan Klaogin menjadi bagian dari lanskap tersebut, sekaligus ruang hidup masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan alam.

Di Bariat, perjalanan ekosistem berlangsung dari hutan menuju kawasan gambut dan mangrove. Sementara di Klaogin, aliran sungai menghubungkan wilayah daratan dengan mangrove sampai pesisir. Keragaman bentang alam ini menjadi habitat bagi berbagai flora dan fauna yang dimanfaatkan, serta dijaga masyarakat setempat.

Senior Vice President and Executive Chair Konservasi Indonesia, Meizani Irma Dianni, mengungkap jumlah keanekaragaman hayati yang telah teridentifikasi di Sorong Selatan. "Di Sorong Selatan sudah teridentifikasi 416 tumbuhan dan 372 satwa," katanya saat jumpa pers di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kekayaan alam juga dapat ditemukan di Hutan Adat Konda. Kawasan ini memiliki nilai penting bagi masyarakat karena berkaitan dengan sejarah, pengetahuan lokal, serta kehidupan yang diwariskan antargenerasi.

Masyarakat Sorong Selatan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hutan menyediakan bahan pangan dan hasil alam, sedangkan sungai menjadi sumber ikan. Pengetahuan mengenai pemanfaatan sumber daya tersebut dikenalkan sejak dini melalui kehidupan keluarga dan aktivitas sehari-hari.

Keterikatan dengan alam turut terlihat dalam berbagai praktik kehidupan masyarakat, termasuk pengolahan bahan pangan yang berasal dari lingkungan sekitar menjadi makanan khas setempat.

Alam Jadi Ruang Hidup yang Perlu Dijaga Hubungan masyarakat dengan alam menjadi bagian penting dalam kehidupan di Sorong Selatan. Cara pandang tersebut juga memengaruhi pengalaman wisata di kawasan ini.

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, menilai wisatawan perlu memiliki keterikatan dengan destinasi yang dikunjungi. "Sejatinya, sebuah destinasi yang baik adalah ketika kita yang telah berkunjung pulang, ada perasaan seperti kita harus ikut menjaga," kata dia.

Kedekatan serupa tergambar dalam kehidupan masyarakat Klaogin. Kepala Kampung Klaogin, Martinus Sawen, menjelaskan alasan hutan memiliki posisi penting bagi warga setempat.

"Karena kami anggap bahwa hutan itu adalah mama. Mama kandung kita. Karena kita makan minum ada di hutan. Bisa ambil kayu bakar, bisa ambil sayur, bisa ambil ikan, bisa ambil daging," ujar Martinus. Pemaknaan tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Klaogin dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Gastronomi yang Berasal dari Ruang Hidup Kekayaan alam Sorong Selatan turut hadir dalam kuliner lokal. Bahan-bahan tersebut diperoleh dari lingkungan sekitar dan diolah menjadi makanan yang lekat dengan keseharian warga.

Papeda menjadi salah satu makanan pokok berbahan sagu yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hidangan ini biasanya disajikan bersama kuah kuning berbahan ikan, menciptakan sajian yang menjadi bagian dari tradisi makan masyarakat setempat.

Pengetahuan memasak diperkenalkan sejak anak-anak melalui keluarga. Para mama mengajarkan cara mengolah bahan pangan secara bertahap, sementara anak-anak belajar dengan mengamati aktivitas di dapur dan mengikuti kebiasaan orangtua.

Ulat sagu menjadi sajian lain yang memperlihatkan pemanfaatan bahan pangan lokal. Ulat yang masih hidup ditusuk satu per satu seperti sate, kemudian dibakar hingga siap disantap. Cara pengolahan tersebut memperlihatkan keberadaan bahan pangan lokal dalam tradisi kuliner masyarakat Sorong Selatan.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/jelajah-sorong-selatan-menyusuri-pesona-alam-dan-gastronomi-dari-hutan-2404d0fa/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle