Skip to content

Wednesday, 30 September 2026188 stories

Bahaya Rupiah Tembus Rp18 Ribu Mengintai Kantong MasyarakatWamenperin: Penetrasi Pasar Produk Industri Hijau Harus DiperluasIHSG Naik 1%, Ini PenyebabnyaUpdate Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau DiangkatPolisi Bongkar Rumah Produksi Narkoba Etomidate WN China di PIK 2Pemerintah Target Net Zero Emission Lebih Cepat Tercapai pada 20504,1 ton sianida asal Filipina digagalkan di Gorontalo UtaraTrump, bos teknologi sepakati keamanan Super IntelligenceKemenag salurkan Rp65,2 miliar untuk pemulihan pesantren di AcehTaufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya YTR Mulai Diadili Hari Ini
Economy

Bahaya Rupiah Tembus Rp18 Ribu Mengintai Kantong Masyarakat

CNN Indonesia 4 min read 733 kata
Bahaya Rupiah Tembus Rp18 Ribu Mengintai Kantong Masyarakat — gambar dari CNN Indonesia
Image from CNN Indonesia. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Rupiah kembali keok menembus level Rp18 ribu per dolar AS. Pada perdagangan Selasa (29/9) sore, mata uang Garuda ditutup loyo di Rp17.981 per dolar AS, setelah sempat merosot ke level Rp18.012 per dolar AS di siang hari.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menyebut pelemahan rupiah dipengaruhi berlanjutnya kekhawatiran akan tekanan inflasi global serta risiko fiskal.

Tekanan tersebut sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang telah menembus US$108 per barel di tengah belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz.

"Hal ini mendorong ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat lebih lanjut," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9).

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari kebutuhan valuta asing (valas) importir menjelang akhir kuartal III 2026. Arus keluar dana dari portofolio aset negara-negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi juga ikut menekan rupiah.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memproyeksikan apabila rupiah terus melemah dan bertahan di level Rp18 ribu per dolar AS, dampak yang akan dirasakan masyarakat adalah kenaikan biaya barang-barang yang bergantung pada dolar AS.

Menurut dia, kenaikan biaya tersebut tidak hanya menyasar produk jadi yang diimpor, tetapi juga barang-barang domestik yang proses produksinya mengandalkan komponen luar negeri.

Proses produksi saat ini masih mengandalkan impor, terutama dari kebutuhan bahan bakunya.

Hal itu terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari-Juli 2026 yang menunjukkan impor bahan baku dan bahan penolong mencapai US$116,7 miliar dari total impor US$163,3 miliar atau sekitar 71,45 persen dari keseluruhan impor.

Dampak pelemahan rupiah dapat masuk ke harga domestik melalui bahan kimia, komponen elektronik, plastik dan bahan kemasan, bahan farmasi, mesin dan suku cadang, serta berbagai bahan produksi manufaktur lainnya.

"Ini pula yang menjelaskan mengapa depresiasi rupiah tidak hanya menaikkan harga barang impor yang terlihat di toko, tetapi juga dapat meningkatkan biaya barang yang diproduksi di Indonesia," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (29/9).

Ia menilai barang-barang yang patut diawasi ketat mencakup produk berbasis gandum dan kedelai, pakan ternak, obat-obatan, produk kesehatan, elektronik, kendaraan dan suku cadang, serta biaya transportasi dan logistik.

Contohnya, kenaikan harga gandum dan kedelai akan langsung diteruskan menjadi kenaikan harga mie, roti, tahu, dan tempe. Kemudian, pakan ternak yang mahal berimbas langsung pada lonjakan harga ayam serta telur.

"Masyarakat tidak harus membeli barang impor secara langsung untuk terkena dampak pelemahan rupiah," ujar Josua.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/bahaya-rupiah-tembus-rp18-ribu-mengintai-kantong-masyarakat-1cb5850e/.

Related

IHSG Naik 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Naik 1%, Ini Penyebabnya Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan sesi I pagi ini Rabu (30/9/2026). IHSG melaju hijau ke 6.185,37 atau naik 1,04% pada pukul 09.30 WIB.

CNBC Indonesia

4,1 ton sianida asal Filipina digagalkan di Gorontalo Utara

Menindaklanjuti informasi terpercaya itu, tim gabungan langsung bergerak dan membagi kekuatan menjadi lima tim untuk melaksanakan penyekatan ketat, baik dari sektor darat maupun laut Gorontalo (ANTARA) - Tim gabungan TNI AL, Polri, Bea Cukai, dan Satgas Tombak Pusintelal…

Antara

Semua berita Ekonomi