Skip to content

Wednesday, 30 September 2026188 stories

Dosen di Universitas NU Riset Cara Optimalkan Jaringan 6GWamenperin: Penetrasi Pasar Produk Industri Hijau Harus DiperluasIHSG Naik 1%, Ini PenyebabnyaUpdate Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau DiangkatPolisi Bongkar Rumah Produksi Narkoba Etomidate WN China di PIK 2Pemerintah Target Net Zero Emission Lebih Cepat Tercapai pada 20504,1 ton sianida asal Filipina digagalkan di Gorontalo UtaraTrump, bos teknologi sepakati keamanan Super IntelligenceKemenag salurkan Rp65,2 miliar untuk pemulihan pesantren di AcehTaufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya YTR Mulai Diadili Hari Ini
Technology

Dosen di Universitas NU Riset Cara Optimalkan Jaringan 6G

Tempo 3 min read 547 kata
Dosen di Universitas NU Riset Cara Optimalkan Jaringan 6G — gambar dari Tempo Tekno
Image from Tempo Tekno. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

DOSEN sekaligus peneliti di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, I Nyoman Apraz Ramatryana, menawarkan cara untuk mengoptimalkan performa jaringan 6G agar lebih efisien dan ramah energi. Dosen Fakultas Teknologi Informasi UNU Yogyakarta yang saat ini tengah menjalani studi postdoctoral di Khalifa University, Uni Emirat Arab (UEA), itu mengungkap metode optimalisasi melalui teknologi Frequency-Time Index Modulation Multiple Access (FT-IMMA).

"Dengan cara optimalisasi itu hasilnya memungkinkan miliaran perangkat mengirimkan data secara bersamaan tanpa harus memicu kemacetan jaringan," kata Apraz dalam keterangannya, Senin, 3 Agustus 2026.

Scroll ke bawah untuk me epat tersebut.

Nyoman mempublikasikan hasil risetnya di jurnal IEEE Transactions on Vehicular Technology volume 74 edisi 5 tahun 2025 lalu. Penelitiannya itu berfokus untuk memangkas kerumitan prosedur pengiriman data pada sistem pemancar.

"Secara sederhana, riset ini mengusulkan sebuah metode baru agar banyak perangkat bisa mengirimkan data secara bersamaan di jaringan komunikasi 6G tanpa harus mengantre atau meminta izin jadwal terlebih dahulu ke menara pemancar," ujar Apraz.

Ia menjelaskan, teknologi 6G dirancang dengan kecepatan hingga 100 kali lipat dibanding 5G untuk mendukung integrasi Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), hingga dunia virtual. Namun, implementasinya masih dibayang-bayangi tantangan besar. Seperti mahalnya biaya infrastruktur, jangkauan frekuensi gelombang tinggi yang sangat pendek, hingga kendala transmisi yang terhalang bangunan fisik.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, Apraz mengibaratkan lalu lintas data dalam sistem telekomunikasi 6G layaknya kendaraan yang melintas di jalan tol bebas hambatan. "Ibarat jalan tol, sebelumnya kendaraan (data) hanya bisa diatur masuk berdasarkan jalur (frekuensi) atau waktu (jam masuk) secara terpisah," kata dia.

Cara kerja sistem FT-IMMA yang dirisetnya itu, ujar Apraz, menggabungkan keduanya menjadi sistem dua dimensi. "Sehingga data bisa menyelinap masuk secara cerdas dengan memilih kombinasi sumber daya jalur frekuensi dan waktu tertentu." Langkah penggabungan frekuensi dan waktu secara dua dimensi ini menjadi kebaruan (novelty) utama yang ditawarkan dalam risetnya. Pendekatan tersebut diklaim ampuh menghemat penggunaan spektrum gelombang serta meminimalkan pemborosan energi saat proses transmisi berlangsung.

"Hasilnya, pengiriman data menjadi jauh lebih efisien secara spektrum dan energi, serta mampu menekan risiko tabrakan data dibandingkan metode konvensional," tutur lulusan doktor IT Convergence Engineering dari Kumoh National Institute of Technology Korea Selatan tersebut.

Penerapan skema FT-IMMA ini diproyeksikan bakal membawa dampak besar pada enam bidang strategis. Mulai dari immersive communication, smart cities, industry 5.0, layanan cerdas berbasis AI hingga jaringan ramah lingkungan (sustainability & green network).

Pada pengembangan smart city, kata Apraz, teknologi ini nantinya dapat diterapkan pada sistem sinyal kereta api dan lampu lalu lintas real-time guna meningkatkan keselamatan publik. "Ini bisa mengurangi kemacetan 15-30 persen dan meningkatkan public safety," kata Apraz.

Sementara pada aspek pelestarian alam, penggunaan jaringan efisien ini disebutnya mampu menopang sistem pemantauan area hijau untuk mendeteksi kerusakan hutan secara dini. Menurut Apraz, kehadiran teknologi ini bakal turut berperan aktif dalam mencegah risiko kerusakan lingkungan yang lebih parah serta menanggulangi persoalan iklim global di masa depan.

Kebutuhan akan jaringan efisien ini makin mendesak mengingat lonjakan jumlah perangkat pintar dunia yang kian masif. Menurutnya, berdasarkan data DataReportal dan Statista, saat ini terdapat sekitar 7,64 miliar unit smartphone aktif di dunia. Sebuah populasi perangkat yang berisiko memicu kepadatan lalu lintas data serta memperlambat koneksi internet.

"Sistem FT-IMMA memungkinkan perangkat-perangkat tersebut untuk saling berkomunikasi secara mulus, karena sangat memangkas beban komunikasi jaringan atau overhead yang biasanya membuat koneksi menjadi lambat," ungkapnya.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/dosen-di-universitas-nu-riset-cara-optimalkan-jaringan-6g-6e17282c/.

Related

Trump, bos teknologi sepakati keamanan Super Intelligence

Washington DC (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (29/9), menandatangani kesepakatan mengenai keselamatan kecerdasan buatan (AI) dengan sejumlah eksekutif terkemuka industri teknologi tersebut dan membagikan salinan kesepakatan itu di platform Truth Social…

Antara

AI Meta Muse Dilaporkan Bocorkan Alamat Rumah YouTuber

Agen AI buatan Meta, Muse, mendapat sorotan terkait masalah privasi. AI yang dirancang untuk melakukan berbagai tugas atas nama pengguna itu dilaporkan memberikan alamat rumah seorang YouTuber kepada orang asing setelah diberi akses ke Facebook Marketplace.

Detik Inet

Semua berita Teknologi