Skip to content

Wednesday, 30 September 2026188 stories

Duo Arab Pecah! Saudi-UEA Kini Didesak Bersatu Lawan Houthi di YamanWamenperin: Penetrasi Pasar Produk Industri Hijau Harus DiperluasIHSG Naik 1%, Ini PenyebabnyaUpdate Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau DiangkatPolisi Bongkar Rumah Produksi Narkoba Etomidate WN China di PIK 2Pemerintah Target Net Zero Emission Lebih Cepat Tercapai pada 20504,1 ton sianida asal Filipina digagalkan di Gorontalo UtaraTrump, bos teknologi sepakati keamanan Super IntelligenceKemenag salurkan Rp65,2 miliar untuk pemulihan pesantren di AcehTaufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya YTR Mulai Diadili Hari Ini
International

Duo Arab Pecah! Saudi-UEA Kini Didesak Bersatu Lawan Houthi di Yaman

CNBC Indonesia 5 min read 1085 kata
Duo Arab Pecah! Saudi-UEA Kini Didesak Bersatu Lawan Houthi di Yaman — gambar dari CNBC Indonesia
Image from CNBC Indonesia. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Duo Arab Pecah! Saudi-UEA Kini Didesak Bersatu Lawan Houthi di Yaman Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi didesak memperbaiki kembali hubungannya dengan Uni Emirat Arab (UEA) terkait konflik di Yaman. Rekonsiliasi kedua negara dinilai menjadi salah satu harga yang harus dibayar Riyadh jika ingin membangun aliansi militer yang cukup kuat untuk mendorong mundur kelompok Houthi.

Mengutip laporan The Guardian, Rabu (30/9/2026), hubungan Saudi dan UEA di Yaman memburuk sejak Januari tahun ini. Kedua negara sebelumnya sama-sama mendukung kelompok-kelompok yang memerangi Houthi, tetapi hubungan tersebut berubah drastis ketika pasukan yang berafiliasi dengan UEA, yakni kelompok separatis Southern Transitional Council (STC), diserang dan dikalahkan Saudi.

Serangan itu dilakukan untuk menggagalkan upaya STC membentuk kembali negara terpisah di Yaman bagian selatan. Setelah itu, UEA secara efektif meninggalkan Yaman.

Situasi berubah setelah Houthi yang bersekutu dengan Iran secara mengejutkan berhasil bergerak menuju Selat Bab al-Mandab pada pertengahan September. Kemajuan pasukan Houthi ke arah selatan mengubah kembali peta geopolitik kawasan tersebut.

Dalam ofensif tersebut, pasukan yang sebelumnya didukung UEA, National Resistance Forces yang dipimpin Tareq Saleh, mengalami kekalahan. Garis pertahanan kelompok itu bahkan runtuh dengan cepat.

Masa depan peran UEA di Yaman kemudian menjadi salah satu topik dalam pertemuan di Abu Dhabi pada Minggu. Pertemuan tersebut dihadiri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan serta sejumlah negara Arab lainnya, termasuk perwakilan Arab Saudi.

Netanyahu dilaporkan menawarkan bantuan kepada Saudi untuk mengalahkan Houthi. Namun, Riyadh kemungkinan akan sulit menerima tawaran tersebut, terlebih karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejauh ini belum merespons permintaan Saudi agar AS membantu menghadapi Houthi di Yaman.

Pembahasan mengenai Yaman berlanjut pada Selasa dalam pertemuan di Riyadh antara Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman Al Saud dan Wakil Presiden UEA Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu sinyal bahwa kedua pihak mungkin mulai mencari jalan untuk memperbaiki hubungan yang retak, meski tahap awalnya mungkin hanya terbatas pada kerja sama di sektor energi.

Dorongan untuk mencari titik temu semakin kuat setelah Houthi berhasil bergerak hingga mendekati Selat Bab al-Mandab. Selat tersebut merupakan salah satu jalur strategis bagi ekspor minyak Saudi. Setelah merebut sejumlah wilayah, pasukan Houthi kini berusaha memperkuat posisi mereka dan bergerak menuju Kota Taiz di Yaman barat daya.

"Pasukan Houthi melancarkan gelombang serangan secara bersamaan ke kota tersebut, berusaha menguras kekuatan pasukan Poros Taiz yang mempertahankan kota," kata Baraa Shiban, pakar Teluk dan Yaman dari lembaga kajian pertahanan Rusi, yang baru menghabiskan sepekan di Taiz.

"Pasukan Houthi memang didorong mundur, tetapi kemudian keesokan harinya mereka kembali menyerang dari front yang berbeda." Menurut Shiban, upaya untuk mengakhiri perselisihan Saudi dan UEA memang sedang dilakukan dan sejumlah langkah untuk membangun kembali kepercayaan kemungkinan ditempuh. Namun, ia menilai kembalinya UEA ke Yaman tidak mudah karena Abu Dhabi sebelumnya telah meninggalkan negara tersebut dan masih memiliki hubungan dengan STC.

"Upaya sedang dilakukan untuk mencoba mengakhiri keretakan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dan mungkin akan ada beberapa langkah untuk membangun kepercayaan. Namun, UEA telah meninggalkan Yaman, dan kecil kemungkinan Riyadh akan membiarkan mereka kembali karena mereka bersekutu dengan STC, dan itu akan menimbulkan masalah ... UEA dan Arab Saudi pada dasarnya berada di pihak yang berlawanan," ujarnya.

Pemimpin STC Aidarous al-Zubaidi sendiri melarikan diri ke pengasingan setelah pasukannya diserang Saudi. Sejak saat itu, STC semakin tersisih dari panggung politik Yaman.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/duo-arab-pecah-saudi-uea-kini-didesak-bersatu-lawan-houthi-di-yaman-0e414516/.

Related

Semua berita Internasional