Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Pakar Ungkap Potensi Bioetanol dan Kendaraannya di IndonesiaIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Sports

Pakar Ungkap Potensi Bioetanol dan Kendaraannya di Indonesia

CNN Otomotif 2 min read 428 kata
Pakar Ungkap Potensi Bioetanol dan Kendaraannya di Indonesia — gambar dari CNN Otomotif
Image from CNN Otomotif. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Iman Kartolaksono Rekswardoko Guru Besar Universitas Pertamina sekaligus pakar otomotif mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan bioetanol sebagai bahan bakar nabati sebagai campuran bensin guna menekan beban impor BBM yang kian membengkak.

Penggunaan campuran etanol pada bahan bakar minyak (BBM) dinilai dapat menjadi solusi strategis untuk menjaga stabilitas fiskal dan ketahanan energi nasional. Kebutuhan akan energi alternatif mendesak lantaran status Indonesia sebagai salah satu negara dengan konsumsi bahan bakar di dunia saat ini.

"Karena sekarang Indonesia itu termasuk importir nomor satu di dunia untuk bensin. Bayangkan, karena kita belum punya pengganti bensin yang kita sekarang sedang usahakan bagaimana etanol bisa mulai mengurangi impor bensin," ujar Iman di Evolution Forum, Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies, Rabu (30/9).

"Nah, itu beban besar itu rupiah terus, tertekan terus karena datang satu hari berapa ratus ribu barel kemudian dibakar hilang lagi gitu ya. Terus setiap hari begitu jadi kita harus cari dolar lagi gitu. Itu fiskalnya begitu," ucapnya kemudian.

Kendati demikian, menurut Iman meskipun potensi pemanfaatannya terbilang besar, penyediaan pasokan etanol dalam negeri masih menghadapi tantangan pada ketersediaan bahan baku.

Berbeda dengan biodiesel berbasis kelapa sawit yang pasokannya sudah melimpah, industri etanol memerlukan waktu pengembangan lahan yang tidak singkat.

"Jadi, bioetanol kan perlu bahan baku ya. Nah, di Indonesia bahan bakunya tuh belum tersedia dengan banyak seperti untuk biodiesel. Dan itu enggak mudah karena bahan bakunya itu harus menyediakan lahan yang besar, kemudian ditanam, kemudian dibesarkan kemudian bisa dipanen. Itu butuh waktu paling enggak 5 sampai 10 tahun," tutur Iman.

Iman menambahkan jika pemerintah berencana mengimplementasikan kebijakan mandatori pencampuran etanol hingga tingkat E10 atau E20 dalam waktu dekat, opsi impor bahan baku sementara sulit dihindari sebelum produksi domestik siap secara penuh.

Sementara itu, ia menilai Industri manufaktur otomotif di Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menerapkan aturan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dengan bauran etanol.

Selain itu, Indonesia juga sudah menjadi tempat produksi mesin flexible fuel untuk kebutuhan ekspor.

"Indonesia manufakturnya Toyota mengimpor engine flexible fuel vehicle (impor) ke Brazil. Jadi untuk E80 sebenarnya sudah. Nah, cuma ya itu tadi kita bisa enggak memproduksi besar-besaran etanol gitu seperti biodiesel," ucap Iman.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah membidik penerapan BBM bensin dengan campuran E10 dapat dimulai pada 2027.

Kebijakan ini akan diterapkan secara bertahap sebelum ke E20 yang perencanaannya ditargetkan rampung pada rentang 2028 hingga 2029.

Saat ini, Pertamina baru memasarkan BBM berbasis E5 melalui produk Pertamax Green. Pemerintah pun menargetkan penerapan E10 dapat dilakukan secara lebih luas terlebih dahulu guna menekan ketergantungan impor bensin serta mematangkan industri dalam negeri sebelum melangkah ke E20.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/pakar-ungkap-potensi-bioetanol-dan-kendaraannya-di-indonesia-7e22d9f7/.

Related

2 Pemain Indonesia yang Diwaspadai Bangladesh!

Timnas Bangladesh akan dijamu Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026. Tigers of Bengal mewaspadai dua pemain Skuad Garuda. Indonesia vs Bangladesh akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Laga itu kickoff pada Kamis (1/10/2026), pukul 19.30 WIB.

Detik Sport

Masih Ingat Chris Smalling yang Dulu Bermain untuk MU?

Liputan6.com, Jakarta - Mantan bek Manchester United, Chris Smalling, akhirnya menemukan klub baru setelah beberapa bulan berstatus tanpa klub. Bek tengah berusia 36 tahun itu resmi bergabung dengan Porto, pemuncak klasemen Liga Portugal.

Liputan6 Bola

GAC Akuisisi Saham FAW Toyota, Strategi Baru Mulai Terungkap

Liputan6.com, Jakarta - GAC Group berencana mengambil alih 50 persen saham di perusahaan patungan FAW dan Toyota di China. Langkah ini membuat GAC menggantikan China FAW Group Corporation, sebagai mitra Toyota di perusahaan patungan tersebut, dengan tujuan menyederhanakan…

Liputan6 Otomotif

Semua berita Olahraga