Politeknik Lamandau Produksi Kertas dari Gulma Kebun Sawit
Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.
TIM dosen di Politeknik Lamandau, Kalimantan Tengah, mengolah kertas dari tanaman gulma invasif di perkebunan kelapa sawit. Tim dosen gabungan dari Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan dan Program Studi Teknologi Produksi Ternak itu juga membuat mesin sendiri untuk produksi kertas tersebut.
Tim mengidentifikasi ada 12 jenis gulma dengan kategori berdaun lebar yang biasa tumbuh merambat dan menjadi semak di kebun sawit. Bersamanya juga teki, rumput, serta paku-pakuan. Jenis-jenis tanaman itu dianggap sebagai pengganggu yang bersifat invasif.
Scroll ke bawah untuk me mpulannya, semua gulma dapat digunakan lalu dicampur atau dikompositkan,” kata ketua tim, Ika Fitriana Dyah Ratnasai pada Ahad, 2 Agustus 2026.
Ika menerangkan, gulma memiliki kandungan lignoselulosa yang berpotensi sebagai bahan baku bubur kertas atau pulp dan kertas. Prosesnya melibatkan WAW-25 Pulp Machine yang berfungsi menghaluskan dedaunan gulma yang telah dikumpulkan dan dicuci. Menurut Ika, mesin pengolah pulp dan kertas berbasis gulma dan limbah pertanian itu telah meraih juara 1 Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada 2025.
Mesin pembuat kertas berbahan tanaman gulma buatan dosen Politeknik Lamandau, Ika Fitriana Dyah Ratnasari. Dok.Tim Riset Gulma yang sudah halus kemudian ditiriskan dan dikeringkan oleh angin sebelum dimasukkan ke oven dengan suhu 75 derajat Celsius selama 24 jam. Selanjutnya gulma kering diproses delignifikasi atau pemisahan selulosa dengan lignin menggunakan natrium hidroksida (NaOH), sekaligus menurunkan kadar lignin untuk mendapatkan serat selulosa. Hasilnya dihaluskan hingga menjadi bubur kertas.
Dari delapan kombinasi pengolahan bahan, hasil terbaik diperoleh dengan memakai 10 persen NaOH, durasi delignifikasi selama 90 menit, dan tambahan bubuk talek (talcum powder) 10 persen. Takaran bahan itu mengacu pada gulma kering seberat 100 gram. “Karena menghasilkan gramatur kertas, kekuatan tarik, ketahanan sobek, serta tingkat kesukaan panelis dipilih yang tertinggi,” ujarnya.
Proses delignifikasi yang optimal, Ika menambahkan, menghasilkan serat kertas yang lebih bersih dan mampu membentuk ikatan antarserat yang lebih kuat. Sedangkan penambahan talcum powder meningkatkan homogenitas permukaan kertas.
Pulp atau bubur kertas yang dihasilkan kemudian dianalisis rendemen, kadar air, dan morfolosi serat. Setelah itu, pulp dicetak dengan ukuran A6 menggunakan bingkai cetak kertas dan dikeringkan di bawah sinar matahari. Setelah kertas kering dengan warna alami kecoklatan, selanjutnya dilakukan uji kekuatan tarik, ketahanan sobek, dan gramatur kertas.
Bobot atau gramatur kertas yang dihasilkan yaitu 124,1 gram per meter persegi dengan nilai kekuatan tarik tertinggi sebesar 7,85 kiloNewton per meter atau kN/m. Ada pun nilai ketahanan sobek kertas itu yang tertinggi sebesar 508,0 miliNewton (mN). Dibandingkan dengan kertas buku tulis umumnya, kertas dari gulma lebih berat dan tebal. “Kalau untuk kekuatan sobek dan kekuatan tariknya sesuai untuk kertas kerajinan tangan,” ujar Ika.
Selain uji di laboratorium, tim juga melakukan tes organoleptik hedonic untuk mengetahui tingkat penilaian panelis dan konsumen terhadap produk. Metodenya dengan wawancara langsung sambil menyajikan contoh kertas dari keseluruhan uji coba dengan melibatkan 30 orang panelis dari akademisi, praktisi perkebunan, masyarakat umum, dan instansi pemerintah. Pengujian dengan skala 1-3 meliputi kriteria warna, tekstur kehalusan atau kekasaran permukaan kertas, kenampakan serat, bau atau aroma, dan kesukaan panelis secara menyeluruh.
Dalam proses pengolahan kertasnya, tim sengaja tidak memakai bleaching agar kertas berwarna putih. Alasannya agar tidak menghasilkan limbah berbahaya yang harus diproses lagi sebelum dibuang. Ada pun air lindi hitam yang muncul dari proses pengolahan kertas berbahan gulma ditampung untuk dijadikan pupuk organik cair guna meningkatkan aktivitas mikroba tanah, mempercepat pertumbuhan daun dan akar tanaman, serta mengikat logam berat serta memperbaiki struktur tanah.
Selain Ika, tim terdiri dari Roni Ismoyojati, Lailatun Nisfimawardah, Firdaus Husein, Kristina Pare, Asmaul Muslivah, Sri Ayu Winnasih, dan Ilham Febriansyah. Ada juga keterlibatan Karya Teknik Agri di Kalimantan Tengah.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/politeknik-lamandau-produksi-kertas-dari-gulma-kebun-sawit-80ff143d/.
Related
Trump, bos teknologi sepakati keamanan Super Intelligence
Washington DC (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Selasa (29/9), menandatangani kesepakatan mengenai keselamatan kecerdasan buatan (AI) dengan sejumlah eksekutif terkemuka industri teknologi tersebut dan membagikan salinan kesepakatan itu di platform Truth Social…
AI Meta Muse Dilaporkan Bocorkan Alamat Rumah YouTuber
Agen AI buatan Meta, Muse, mendapat sorotan terkait masalah privasi. AI yang dirancang untuk melakukan berbagai tugas atas nama pengguna itu dilaporkan memberikan alamat rumah seorang YouTuber kepada orang asing setelah diberi akses ke Facebook Marketplace.
Salju Abadi di Puncak Jaya Papua Tak Lagi Abadi, 2027 Diprediksi Hilang
Salju abadi yang pernah menyelimuti Puncak Jaya, pegunungan Carstensz di Papua, Indonesia, diperkirakan akan menghilang tak lama lagi. Prediksi waktunya semakin mendekati.
Karya Fotografer Terbaik Dunia Ini Ternyata Banyak Memotret Indonesia
FotoINET Karya Fotografer Terbaik Dunia Ini Ternyata Banyak Memotret Indonesia Mohammed Muhtasib - detikInet Jakarta - Mohammed Muhtasib menyabet Photographer of the Year 2026 di 12Awards Photography. Yang menarik, sejumlah karya terbaiknya ternyata memotret Indonesia.