Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Silicon Valley Tak Lagi Menarik, Ilmuwan AI Lebih Pilih ke ChinaIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Technology

Silicon Valley Tak Lagi Menarik, Ilmuwan AI Lebih Pilih ke China

CNN Teknologi 2 min read 356 kata
Silicon Valley Tak Lagi Menarik, Ilmuwan AI Lebih Pilih ke China — gambar dari CNN Teknologi
Image from CNN Teknologi. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Sebuah laporan menunjukkan para peneliti kecerdasan buatan (AI) lebih memilih China alih-alih Amerika Serikat (AS) sebagai tempat kerja utama mereka seiring pesatnya industri AI di negara ini dan pengetatan aturan visa AS. Bagi sebagian peneliti AI, Silicon Valley tidak lagi menarik seperti dulu.

Laporan berjudul "Who's ahead in the global AI talent race" yang dirilis oleh Carnegie China pekan ini menyatakan kehadiran peneliti secara langsung di China memperkuat posisi negara ini dalam persaingan AI global melawan AS.

Tahun lalu, China mempekerjakan 41 persen dari peneliti AI terkemuka di dunia, mengungguli AS di angka 34 persen. Dibandingkan dengan tahun 2022, peneliti di AS lebih banyak sejumlah 46 persen, sementara China hanya 27 persen.

Temuan ini juga mengindikasikan pergeseran yang lebih luas dalam keseimbangan kekuatan teknologi global di saat kedua negara besar ini bersaing meraih supremasi dalam perkembangan teknologi mutakhir.

"China telah membangun industri AI dalam negeri yang tangguh dengan dukungan perusahaan-perusahaan terkemuka seperti DeepSeek dan Moonshot AI, di mana tingkat kompensasinya kini cukup sebanding dengan yang ada di Silicon Valley," kata Damien Ma, direktur Carnegie sekaligus salah satu penulis laporan tersebut, dikutip dari South China Morning Post, Jumat (25/9).

China juga menjadi pencetak tenaga ahli AI terbanyak. Tahun lalu, sebanyak 57 persen peneliti AI tercatat menyelesaikan studi sarjana di negeri Tirai Bambu, sedangkan peneliti yang menyelesaikan studi sarjana di AS hanya 13 persen.

Tingginya angka lulusan dalam negeri ini sejalan dengan semakin banyaknya para peneliti yang memutuskan untuk tetap berkarir di China. Hal ini juga didukung oleh melimpahnya peluang kerja lokal serta ketatnya pembatasan visa di AS.

Temuan laporan tersebut merupakan hasil analisis dari 10.280 peneliti yang mewakili sekitar 40 persen dari seluruh peneliti yang makalahnya diterima di salah satu konferensi machine learning terbesar di dunia, Conference on Neural Information Processing Systems tahun 2025.

Meski industri AI China mulai menarik, AS tetap menjadi tujuan utama peneliti AI China yang ingin berkarir di luar negeri. Peneliti AI di AS yang meraih gelar sarjana dari China pada tahun lalu meningkat sebanyak 4 persen.

Namun, pada saat yang bersamaan terdapat hambatan mobilitas atau perpindahan warga negara karena AS dan China sama-sama memperketat pengawasan terhadap transfer teknologi dan risiko keamanan nasional.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/silicon-valley-tak-lagi-menarik-ilmuwan-ai-lebih-pilih-ke-china-a7e00768/.

Related

Semua berita Teknologi