Lewati ke konten

Kamis, 1 Oktober 2026727 berita

Bukan Cuma Menabung, Masyarakat Mulai Cari Cara Melindungi KekayaanIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Ekonomi

Bukan Cuma Menabung, Masyarakat Mulai Cari Cara Melindungi Kekayaan

Liputan6 Bisnis 3 menit baca 687 kata
Bukan Cuma Menabung, Masyarakat Mulai Cari Cara Melindungi Kekayaan — gambar dari Liputan6 Bisnis
Gambar dari Liputan6 Bisnis. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Indonesia mulai menghadapi kebutuhan finansial yang semakin kompleks. Jika sebelumnya menabung menjadi salah satu cara utama untuk menyiapkan masa depan, kini perhatian mulai bergeser pada bagaimana membangun sekaligus melindungi kekayaan dalam jangka panjang.

Perubahan tersebut terjadi seiring bertambahnya kebutuhan pada berbagai tahap kehidupan, mulai dari menyiapkan pendidikan anak, membeli rumah, mempersiapkan masa pensiun hingga memastikan kondisi finansial keluarga tetap terjaga ketika terjadi risiko yang tidak terduga.

Presiden Direktur Great Eastern Life Indonesia Nina Ong mengatakan, kebutuhan finansial masyarakat terus berkembang seiring perjalanan hidup. Setelah aset mulai terbentuk, perhatian tidak hanya tertuju pada pertumbuhan aset, tetapi juga bagaimana kekayaan dapat dikelola secara lebih terencana dan terdiversifikasi sesuai tujuan finansial masing-masing.

“Kebutuhan finansial nasabah terus berkembang seiring perjalanan hidup. Setelah membangun aset, kebutuhan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan aset, tetapi juga bagaimana aset tersebut dapat dikelola secara lebih terencana dan terdiversifikasi sesuai dengan tujuan finansial masing-masing," jelas dia dalam keterangan tertulis, Kamis (1/10/2026).

Perubahan pola tersebut berlangsung ketika perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada Triwulan II 2026. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia pada Semester I 2026 tumbuh 5,45% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan untuk mengelola aset secara lebih terencana turut membuka ruang bagi strategi diversifikasi. Strategi ini memungkinkan seseorang membagi aset ke berbagai instrumen sesuai tujuan, jangka waktu dan profil risiko.

Namun, diversifikasi bukan berarti menghilangkan risiko. Strategi tersebut lebih ditujukan untuk menjadi bagian dari pengelolaan risiko agar seluruh kekayaan tidak bergantung pada satu instrumen atau jenis aset.

Dari Membangun Aset hingga Menjaga Kekayaan Perubahan kebutuhan finansial biasanya berjalan mengikuti tahapan kehidupan. Pada usia produktif, seseorang mungkin lebih banyak berfokus pada peningkatan pendapatan dan pembangunan aset. Setelah aset mulai terkumpul, perhatian dapat bergeser pada bagaimana kekayaan tersebut dipertahankan dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang.

Kebutuhan itu dapat mencakup dana pendidikan anak, persiapan pensiun, perlindungan keluarga hingga perencanaan kekayaan untuk generasi berikutnya.

Karena itu, perencanaan keuangan tidak hanya berbicara mengenai seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dari suatu aset. Faktor lain seperti jangka waktu, likuiditas, risiko, perlindungan dan tujuan keuangan juga perlu dipertimbangkan.

Perkembangan industri asuransi jiwa turut mencerminkan perubahan kebutuhan tersebut. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), pendapatan premi produk PAYDI atau unit link pada Semester I 2026 mencapai Rp 35,73 triliun, tumbuh 10,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, premi bisnis baru PAYDI/unit link tumbuh lebih tinggi, yakni 34,5% menjadi Rp 19,78 triliun.

Dari sisi distribusi, kanal bancassurance masih menjadi salah satu saluran utama. Pendapatan premi melalui bancassurance tercatat Rp 41,58 triliun atau tumbuh 17,9%.

Data tersebut menunjukkan adanya aktivitas yang cukup kuat pada produk asuransi yang memiliki unsur perlindungan sekaligus komponen investasi. Meski demikian, PAYDI tetap merupakan produk asuransi dan komponen investasi memiliki risiko sesuai dengan kinerja dana investasi yang dipilih.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/bukan-cuma-menabung-masyarakat-mulai-cari-cara-melindungi-kekayaan-9dcb26b4/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi