Lewati ke konten

Selasa, 13 Oktober 20264000 berita

Harga Batu Bara Kinclong, RI Malah Terancam Buntung-Bukan Untung!Alexander Zverev Bakal Tercatat sebagai Petenis Putra Ranking 1 Dunia TertuaNilai Strategis Wealth Partnership dalam Menghadapi Kompleksitas Pengelolaan KekayaanCaplok Saham Bayan, Perusahaan Haji Isam Rogoh Rp 26,09 TriliunMengapa Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumsel Tak Kunjung Padam?Daftar Terbaru Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini 13 Oktober 2026Video: Cerita Warga Malaysia Dibekap Kabut Asap Karhutla RIMata Uang Asia Kebakaran Hebat: Rupiah, Won - Ringgit JatuhPLN Batam Pulihkan Pasokan Listrik Setelah Gangguan Awal PekanTol Cikampek Berlakukan Contraflow di KM 21 hingga KM 23, Urai Kemacetan Parah
Internasional

Harga Batu Bara Kinclong, RI Malah Terancam Buntung-Bukan Untung!

CNBC Indonesia 2 menit baca 463 kata
Harga Batu Bara Kinclong, RI Malah Terancam Buntung-Bukan Untung! — gambar dari CNBC Indonesia
Gambar dari CNBC Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Harga Batu Bara Kinclong, RI Malah Terancam Buntung-Bukan Untung!

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara kembali mendekati US$150 per ton. Kebutuhan listrik India yang meningkat dan pengiriman dari Indonesia yang tersendat menopang penguatan, sementara pembeli China masih menahan aktivitas menjelang liburan.

Kontrak batu bara Newcastle NCFMc2 menutup perdagangan Jumat (2/10/2026) di US$149,55 per ton. Harga naik US$5,80 atau 4,03% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$143,75.

Batu bara menguat dalam empat dari lima hari perdagangan. Lonjakan terbesar terjadi pada Senin sebesar 2,50%, kemudian kenaikan 1,49% pada Kamis membawa harga semakin dekat ke US$150.

Kebutuhan Listrik India Menguras Persediaan Konsumsi listrik India pada September meningkat 11,3% secara tahunan menjadi 162 miliar unit. Penggunaan pendingin ruangan dan kebutuhan irigasi meningkat di tengah rendahnya curah hujan.

Minimnya hujan juga mengurangi produksi listrik pembangkit hidro. Pembangkit termal harus bekerja lebih keras untuk menutup kekurangan tersebut, sehingga kebutuhan batu bara tetap tinggi.

Persediaan pembangkit ikut tertekan. Laporan yang terbit pada 29 September menyebut stok batu bara berada pada tingkat kritis di 77 dari 190 pembangkit termal India. Kondisi ini berpotensi mendorong pembelian untuk mengisi kembali persediaan.

Meski demikian, kebutuhan tambahan tidak otomatis dipenuhi melalui impor. Produksi Coal India pada September naik 9,2%. Pasokan domestik yang meningkat dapat membatasi pembelian dari luar negeri.

Sungai Kalimantan Menghambat Pengiriman Indonesia menghadapi kendala pengangkutan ketika kebutuhan pasokan masih tinggi. Kekeringan yang diperparah El Niño menurunkan permukaan air sungai di Kalimantan dan mengganggu perjalanan tongkang batu bara.

Laporan pada 2 Oktober kembali menyoroti hambatan tersebut. Sungai yang dangkal membatasi muatan kapal dan memperlambat pengiriman menuju pelabuhan ekspor.

Keterlambatan pengiriman dapat mendorong pembeli mencari kargo pengganti dari negara lain, sekaligus menopang harga internasional.

Namun, produsen Indonesia belum tentu menikmati seluruh keuntungan dari kenaikan harga. Kapasitas angkut yang berkurang juga meningkatkan biaya logistik dan menunda penjualan.

China Masih Menahan Pembelian Permintaan dari China belum memberikan dorongan serupa. Laporan pasar APBI yang dipublikasikan pekan ini menunjukkan pembeli China mengurangi aktivitas menjelang libur Festival Pertengahan Musim Gugur dan Hari Nasional.

Pasar akan mencermati pembelian setelah liburan. Permintaan yang kembali meningkat dapat memperkuat harga, terutama jika pengiriman Indonesia masih terganggu.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/harga-batu-bara-kinclong-ri-malah-terancam-buntung-bukan-untung-2f507c7a/.

Baca juga

Semua berita Internasional