Iran Eksekusi Mati Demonstran Anti-pemerintah
Pemerintah Iran menyatakan telah mengeksekusi mati seorang pria yang terbukti bersalah atas serangkaian tuduhan terkait aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi di negara tersebut beberapa waktu lalu pada Sabtu (3/10). Pria tersebut dituduh telah menembakkan senjata standar militer ke arah kepolisian saat unjuk rasa anti-pemerintah pada Januari 2026.
Pria bernama Siavash Jamshidi itu dituduh mengincar aparat keamanan dalam demonstrasi besar-besaran yang merenggut ribuan nyawa tersebut.
"Jamshidi dijatuhi hukuman mati atas tuduhan moharebeh karena mengacungkan dan menembakkan senjata api, serta melakukan konspirasi dan pemufakatan jahat terhadap keamanan nasional," kata badan peradilan Iran, melansir AFP, Sabtu (3/10).
Istilah hukum 'moharebeh' yang disampaikan badan peradilan itu memiliki makna 'berperang melawan Tuhan'.
Situs resmi milik lembaga peradilan, Mizan Online, menyebutkan bahwa Jamshidi juga dinyatakan bersalah atas sejumlah tindak pidana lain yang tidak berkaitan langsung dengan protes, seperti penipuan, pengancaman, pencurian, serta kepemilikan dan penguasaan senjata standar militer secara ilegal.
Tuduhan lainnya mencakup "keterlibatan dalam penculikan, mengacungkan senjata untuk menakut-nakuti, dan sengaja melukai fisik orang lain." Mizan menyampaikan bahwa Jamshidi bersikap "aktif" selama gelombang demonstrasi. Aksi protes ini awalnya dipicu oleh kemarahan warga atas tingginya biaya hidup pada Desember tahun lalu, sebelum akhirnya memuncak menjadi unjuk rasa raksasa pada 8 dan 9 Januari.
Pemerintah Iran melaporkan lebih dari 3.000 tewas dalam kerusuhan tersebut. Pemerintah Iran juga menuding kekerasan yang terjadi merupakan aksi teror yang didalangi oleh Amerika Serikat dan Israel.
Namun, sejumlah LSM luar negeri menegaskan bahwa aparat keamanan Iran-lah yang melepaskan tembakan ke arah para pengunjuk rasa.
Presiden AS Donald Trump saat itu sempat mengancam akan melakukan intervensi militer ke Iran. Beberapa minggu setelahnya, pada akhir Februari, Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan bersama ke wilayah Iran, yang kemudian memicu pecahnya perang di Timur Tengah.
Sejak peristiwa tersebut, gelombang penangkapan dan eksekusi mati di Iran makin meluas, baik yang berkaitan dengan perang maupun aksi protes.
Sepanjang tahun 2025, Iran telah mengeksekusi setidaknya 1.639 orang. Menurut LSM Iran Human Rights dan Together Against the Death Penalty, angka ini menjadi yang tertinggi dalam satu tahun sejak 1989.
Amnesty International juga mencatat bahwa Iran menjadi negara yang paling banyak menjalankan eksekusi mati di dunia setelah China.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/iran-eksekusi-mati-demonstran-anti-pemerintah-a8097853/.
Baca juga
Nama Israel Houghton Masuk dalam Pemantauan Imigrasi, Visa Bakal Ditolak
Direktorat Jenderal Imigrasi menyatakan belum menerima permohonan visa dari musikus asal Amerika Serikat (AS) Israel Houghton terkait rencana konsernya di Jakarta. Imigrasi menegaskan bakal menolak visa Israel Houghton jika mengajukan permohonan.
Imigrasi Tolak Terbitkan Visa Musisi AS Israel Houghton ke RI
Indonesia akan menolak menerbitkan visa musisi Israel Houghton jika mengajukan permohonan masuk ke Tanah Air.
Rusia Bantah Kematian Teknisi Lab Akibat Wabah Pes Lepas, Bilang Cuma Rumor
Rusia membantah laporan menyebut seorang teknisi laboratorium di wilayah Siberia meninggal dunia akibat wabah atau pes yang belum dikenal . Pemeriksaan setelah kematian tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
Jadwal Tayang dan Sinopsis Shadow Punisher Dracin Luo Yunxi
Shadow Punisher menjadi drama China terbaru dibintangi Luo Yunxi. Dalam costume drama ini, ia tampil sebagai sosok cerdas yang diam-diam menyusup untuk mengungkap rahasia istana.