Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Microdrama AI Menjamur di China, Produsen Susah Payah Pikat PenontonVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Teknologi

Microdrama AI Menjamur di China, Produsen Susah Payah Pikat Penonton

CNN Hiburan 3 menit baca 622 kata
Microdrama AI Menjamur di China, Produsen Susah Payah Pikat Penonton — gambar dari CNN Hiburan
Gambar dari CNN Hiburan. Ringkasan oleh Zona News.

Industri microdrama atau drama mikro berbasis kecerdasan buatan (AI) di China berkembang pesat. Namun imbas gegara kemudahan dari AI tersebut kini bikin produsen punya tantangan baru, yakni bagaimana membuat konten yang menarik penonton di tengah maraknya produk serupa.

Salah satu contoh pemanfaatan AI datang dari NetEase. Musim panas ini, perusahaan tersebut merilis video berdurasi dua menit yang menampilkan kembali sejumlah karakter ikonis yang pernah diperankan aktris Joey Wong pada era 1980-an dan 1990-an.

Setelah dua dekade tidak tampil di layar, Wong kembali hadir melalui rekonstruksi berbasis AI. Sejumlah perannya dibuat kembali, termasuk sosok hantu cantik dalam A Chinese Ghost Story dan siluman ular dalam Green Snake.

Pemanfaatan AI tersebut menjadi bagian dari perubahan besar di industri microdrama China. Format drama yang umumnya hanya berdurasi beberapa menit per episode itu dikenal dengan alur cerita cepat dan banyaknya kejutan.

National Radio and Television Administration selaku regulator penyiaran China mencatat, lebih dari 90 persen dari 430 ribu microdrama yang diluncurkan secara daring dalam delapan bulan pertama tahun ini dibuat menggunakan AI.

Para produsen menilai teknologi tersebut membuka peluang untuk mengadaptasi cerita yang sebelumnya sulit diwujudkan karena membutuhkan biaya produksi besar.

"Banyak novel daring dibangun berdasarkan aksi, ketegangan, atau dunia imajinatif yang membutuhkan set mahal dan efek visual jika dibuat dalam format live action," kata Bai Jianyue, produser di sebuah platform distribusi drama komik AI berbasis di Shenzhen.

"AI membuat cerita-cerita tersebut jauh lebih memungkinkan untuk diproduksi," sambungnya seperti diberitakan South China Morning Post, Minggu (4/10).

Sejumlah penonton bahkan mengaku bersedia membayar untuk drama AI dengan kualitas lebih tinggi, terutama untuk mengadaptasi dunia fantasi dari novel daring populer.

"Beberapa novel memiliki dunia yang hanya benar-benar bisa direkonstruksi oleh AI," kata pengguna RedNote bernama Huifei de Kuromi. Ia mengatakan bersedia membayar untuk adaptasi yang dibuat dengan baik dari buku atau gim populer.

Namun, pertumbuhan produksi AI juga membuat sebagian penonton mulai jenuh karena banyak drama dianggap memiliki pola cerita yang serupa.

"Begitu satu drama menjadi hit, serangkaian pengganti akan muncul, dengan mengubah dinasti atau jenis kelaminnya dan menyebutnya sebagai cerita baru," kata pengguna RedNote Liulang de Mao.

"Hasilnya adalah kamu sering kali bisa mengetahui bagaimana sebuah drama akan berakhir hanya dari awalnya," sambungnya.

Produsen pun mengakui semakin sulit mempertahankan perhatian penonton di tengah persaingan yang semakin ketat.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/microdrama-ai-menjamur-di-china-produsen-susah-payah-pikat-penonton-bf7d6e7f/.

Baca juga

Semua berita Teknologi