Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

OPEC+ Sepakat Tahan Produksi MinyakVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Internasional

OPEC+ Sepakat Tahan Produksi Minyak

Detik 2 menit baca 335 kata
OPEC+ Sepakat Tahan Produksi Minyak — gambar dari Detik Finance
Gambar dari Detik Finance. Ringkasan oleh Zona News.

OPEC+ sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026. Keputusan diambil tujuh negara utama OPEC+ dalam pertemuan daring pada Minggu.

Ketujuh negara tersebut adalah Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman. Negara-negara produsen OPEC+ di kawasan Teluk masih memproduksi minyak jauh di bawah target.

Kondisi tersebut terjadi akibat gangguan ekspor yang berlanjut imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran. Dalam beberapa bulan terakhir, volume ekspor minyak bahkan hanya berkisar 60-80% dari kondisi normal.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan kondisi tersebut membuat pasar minyak global masih ketat meskipun pengiriman melalui Selat Hormuz mulai meningkat.

"Kelompok tujuh OPEC+ mempertahankan batas produksi mereka, sesuai dengan ekspektasi pasar. Meski demikian, walaupun aliran melalui Selat Hormuz meningkat, tingkat produksi mereka masih jauh di bawah kuota," kata Staunovo dikutip dari CNBC, Senin (5/10/2026),

Harga minyak turun pada Jumat setelah negara-negara Eropa menyetujui permintaan Presiden AS Donald Trump untuk melepas cadangan solar. Negara-negara G7 juga mengumumkan pelepasan cadangan solar dan minyak mentah untuk meredam lonjakan harga bahan bakar.

Harga minyak mentah Brent turun tipis 6 sen menjadi US$ 102,25 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,76 menjadi US$ 91,11 per barel.

G7 akan melepas total 100 juta barel cadangan selama empat bulan ke depan. Pelepasan dalam jumlah besar akan dilakukan pada 20 hari pertama dengan fokus pada cadangan diesel.

Meski demikian, harga Brent masih bertahan di atas US$ 100 per barel. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$ 73 per barel sebelum perang Iran pecah pada akhir Februari.

Konflik di Timur Tengah juga membuat peningkatan target produksi OPEC+ sepanjang 2026 sebagian besar hanya terjadi di atas kertas. Tujuh negara utama OPEC+ memproduksi sekitar 25 juta barel per hari (bpd) pada Agustus, naik 630.000 bpd dibandingkan Juli, namun produksi tersebut masih sekitar 5 juta bpd lebih rendah dibandingkan level sebelum perang pada Februari.

OPEC+ juga masih mempertahankan pemangkasan produksi 2 juta bpd yang mencakup sebagian besar anggotanya. OPEC+ selanjutnya dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 1 November. Perubahan target produksi diperkirakan belum dilakukan sebelum 2027.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/opec-sepakat-tahan-produksi-minyak-07a1a635/.

Baca juga

Semua berita Internasional