Lewati ke konten

Kamis, 1 Oktober 2026727 berita

Orangtua Perlu Jadi Tempat Aman agar Anak Tak Curhat ke AIIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Teknologi

Orangtua Perlu Jadi Tempat Aman agar Anak Tak Curhat ke AI

Liputan6 Kesehatan 2 menit baca 353 kata
Orangtua Perlu Jadi Tempat Aman agar Anak Tak Curhat ke AI — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Zaman makin canggih termasuk kini sudah ada akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Supaya anak tidak terbiasa curhat ke AI, psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti menyarankan orangtua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi sang buah hati.

Pritta mengatakan kebutuhan dasar anak adalah mendapatkan kasih sayang secara tanpa syarat alias apa adanya. Karena itu, ketika anak menyampaikan cerita yang mungkin membuat orangtua terkejut atau tidak sesuai dengan harapan, maka ayah dan ibu sebaiknya menahan reaksi spontan agar anak tidak merasa dihakimi.

"Ketika anak bercerita sesuatu yang menurut kita mungkin berpikir 'waduh kok gini ya,' kita harus tarik napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk gitu. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," ujar Pritta dalam diskusi bersama OpenAI pada Rabu (30/9/2026) di Jakarta.

Menurut Pritta, respons spontan seperti marah, omelan, atau menghakimi dapat membuat anak enggan kembali bercerita.

Selain membangun rasa aman, Pritta mengatakan orang tua perlu memahami perubahan yang dialami anak ketika memasuki masa praremaja dan remaja.

Orangtua, menurut dia, perlu mempelajari berbagai perubahan emosional dan fisik yang terjadi pada anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

"Orangtua perlu belajar gejolak emosi apa, gejolak fisik apa yang timbul pada anak-anak seusia dia, atau masa remaja seusia dia," ujarnya mengutip Antara.

Pritta juga menekankan pentingnya ayah dan ibu memahami momen dan cara mencurahkan kasih sayang serta membangun kedekatan dengan anak.

Menurut dia, mengobrol dengan anak tidak selalu harus dilakukan dalam suasana formal. Oran tua dapat memanfaatkan kegiatan sehari-hari untuk membangun koneksi, seperti makan bersama, pergi membeli makanan atau es krim, hingga berolahraga bersama.

Ketika ngobrol dalam situasi yang lebih santai, kata Pritta, anak dapat merasa lebih rileks. Orangtua juga perlu memperhatikan cara bertanya agar percakapan tidak terasa seperti interogasi.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah orang tua terlebih dahulu menceritakan pengalaman mereka sendiri terlebih dahulu sebelum masuk topik pembicaraan.

"Tiga hal itu yang orangtua perlu lakukan, belajar untuk melakukan supaya anak remajanya ini bisa percaya bahwa orang tuaku ini tempat yang aman untuk aku cerita dan bertanya apa pun, karena aku tidak akan langsung dihakimi dan tidak akan langsung diomelin," kata Pritta.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/orangtua-perlu-jadi-tempat-aman-agar-anak-tak-curhat-ke-ai-2bc957ea/.

Baca juga

Semua berita Teknologi