Sering Mengorok Saat Tidur, Orang Obesitas Perlu Waspadai Aritmia
Liputan6.com, Jakarta - Orang obesitas yang mengorok saat tidur perlu menjalani pemeriksaan irama jantung. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan aritmia, Rizky Aulia Fanani banyak pasien obesitas terkait atrial fibrilasi yang mengorok.
“Jadi, mengorok ini yang sangat-sangat under-diagnosed, yang sangat jauh dari terapi, bahwa pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrial atau AF, itu banyak yang mengorok,” kata Rizky.
Mengorok terlebih jika kondisi tersebut disertai OSA yang ditandai dengan berhentinya napas selama beberapa detik ketika tidur. OSA juga dapat menjadi salah satu faktor risiko tersembunyi pada pasien dengan fibrilasi atrium.
Kondisi tersebut dapat berulang selama seseorang tidur. Menurut dia, ketika tubuh kekurangan oksigen, dapat terjadi inflamasi atau peradangan yang dalam jangka panjang dapat mempercepat terbentuknya aterosklerosis atau peradangan pada dinding pembuluh darah sehingga mempermudah terjadinya fibrilasi atrium.
“Jadi, mengorok ini harus diintervensi. Diintervensi bisa dengan konsultasi dengan dokter,” ujarnya seperti mengutip Antara.
Rizky mengatakan penanganan mengorok dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Jika penyebabnya berkaitan dengan lemak darah, hal tersebut perlu ditangani, sementara jika terdapat alergi, kondisi tersebut dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).
Ia juga mengatakan gangguan irama jantung atau aritmia dapat muncul pada orang yang pembuluh darah koronernya normal. Dengan demikian, kualitas dan kecukupan tidur perlu diperhatikan.
“Tidurnya harus berkualitas, harus cukup, dan pastikan selama tidurnya yang cukup tadi, jumlahnya cukup, kualitasnya baik, harus ada screening mengorok,” ujar Rizky.
Menurut dia, pemeriksaan awal terkait kebiasaan mengorok dapat dilakukan dengan menanyakan kepada pasangan atau orang yang menjadi teman tidur.
Selain itu, teknologi seperti jam pintar (smartwatch) juga dapat digunakan untuk mendeteksi kualitas tidur dan melihat adanya episode kehilangan atau gangguan selama tidur.
Terkait obesitas, Rizky mengatakan penurunan obesitas dan pengendalian resistensi insulin dapat membantu mengontrol aritmia. Namun, ia menekankan bahwa aritmia memiliki banyak jenis.
Ia menyebut orang dengan obesitas, seperti obesitas morbid, memiliki risiko fibrilasi atrium yang lebih tinggi. Penyakit ini dapat ditangani dengan tindakan ablasi.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/sering-mengorok-saat-tidur-orang-obesitas-perlu-waspadai-aritmia-ab9f6158/.
Baca juga
Pihak Ruben Onsu Tanggapi Gugatan Wanprestasi Sarwendah
- Sarwendah menggugat wanprestasi Ruben Onsu dan BCA, sidang perdana 13 Oktober. - Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menunggu panggilan resmi pengadilan. - Minola belum resmi menjadi kuasa hukum Ruben untuk kasus wanprestasi ini.
Setelah Kerja, Nostalgia 2000-an di Senopati: Fimelahood Hangout Hadirkan Early Party
Liputan6.com, Jakarta - Selepas jam kantor, Fimela mengajak komunitas Fimelahood kembali ke era 2000-an lewat Fimelahood Hangout: "Bring Back 2000s, Ladies!" pada 25 September 2026.
Kondisi RPTRA Pedongkelan Jakbar Usai Fasilitasnya Digasak Maling
Sejumlah fasilitas di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pedongkelan, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat (Jakbar), hilang dicuri. Kondisi RPTRA itu tampak tak terawat hingga kumuh.
Fashion Casual Go Youn Jung dengan Make Up Natural di Paris
- Go Youn Jung memukau dengan potret kasual naturalnya saat liburan di Paris. - Gayanya kasual menawan, dari sweatshirt hingga trench coat, bahkan aksi uniknya. - Di tengah liburan, ia tetap aktif dengan proyek film 'Nambeol' dan 'Moving 2'.