Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Review Film: Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi BerdarahVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Lifestyle

Review Film: Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah

CNN Hiburan 4 menit baca 866 kata
Review Film: Lobang Buaya, 309 Hari Sebelum Tragedi Berdarah — gambar dari CNN Hiburan
Gambar dari CNN Hiburan. Ringkasan oleh Zona News.

Terlepas dari latar waktu dan gagasan cerita berkaitan dengan tragedi Gerakan 30 September pada 1965 yang bisa diperdebatkan, film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo ini jauh dari kata memuaskan.

Ada banyak catatan yang muncul dari film Lobang Buaya, mulai dari bagaimana Hanung dan Haqi Ahmad menulis ceritanya, penampilan pemainnya, hingga hasil riset Hagai Pakan untuk kostum film yang berfondasi sejarah ini.

Hanung memang sudah menegaskan bahwa Lobang Buaya adalah film fiksi yang dibuat sebagai imbas obsesinya menggarap ulang film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) versi modern batal terwujud.

Mimpi menggarap ulang film itu jelas masih terlihat di sini. Hanung pun tak sungkan mengungkapkannya dalam adegan yang tayang, bukan cuma pemilihan latar waktu cerita sekitar setahun sebelum salah satu tragedi berdarah di Indonesia itu terjadi.

Namun yang masih jadi misteri adalah, alasan Hanung dan Haqi mengarang drama misteri berbalut horor dan thriller demi bisa menempel dengan tragedi G30S. Meminjam gaya foodies di TikTok, imajinasinya Hanung di sini imajinatif banget.

Kenapa Hanung tidak memilih cerita penelusuran tragedi G30S dengan sudut pandang anak muda saat ini? Kenapa harus memaksakan diri membuat film berlatar masa lalu yang ternyata lalai mengamankan detail-detail kecil penunjang cerita?

Formula fiksi, sejarah, horor, religi, konspirasi, dan thriller dalam film ini jelas tidak saling mendukung elemen satu sama lain. Hanung terasa ugal-ugalan dalam mengorkestrasi semua elemen itu dalam 113 menit. Hasilnya? Jauh dari kata padu.

Akan terasa lebih mulus bila Hanung fokus pada satu-dua atau tiga elemen yang diperdalam ceritanya. Dengan begitu, penonton bisa menikmati alur dan benar-benar memahami apa yang coba diceritakan Hanung.

Tujuan Hanung agar anak muda zaman TikTok tidak melupakan sejarah dan misteri tragedi G30S memang mulia. Hanya saja, penggunaan dialek dan diksi modern dalam percakapan karakter film ini rasanya makin membuat Lobang Buaya yang berlatar 1964 ini terasa ganjil.

Keganjilan juga terasa gegara efek visual dan komputerisasi dalam sejumlah adegan "horor", meski Hanung bilang ini bukan film horor. Penggunaan efek visual yang aneh di sini menunjukkan standar efek visual Hanung belum ada perkembangan berarti sejak Tuhan Izinkan Aku Berdosa (2023).

Memang tata rias dan prostetik untuk "adegan horor" dalam Lobang Buaya terbilang apik. Tim rias jelas paham membuat riasan yang natural dan sesuai pada latar waktu ceritanya. Yang sayangnya, belum diimbangi dengan hasil riset Hagai Pakan.

Hagai Pakan biasanya lihai dalam memilih kostum untuk para pemain. Namun dalam Lobang Buaya, ia meleset untuk kostum karakter angkatan bersenjata. Sayangnya, karakter-karakter ini punya screen time yang banyak.

Entah karena tidak memiliki izin dari TNI/Polri untuk mereplikasi seragam masa itu atau sebab lain, ketidakmiripannya terpampang nyata di layar. Mulai dari jenis warna hijau, model dan jenis kancing, tanda pangkat, hingga jenis nametag, semuanya jauh dari citra aparat angkatan bersenjata. Bahkan untuk menyamai gambaran aparat bersenjata pada Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI (1984) pun masih jauh.

Memang seragam PDL militer dan polisi saat ini dengan masa lalu punya perbedaan. Dalam berbagai arsip yang tersebar di internet juga menegaskan hal tersebut. Namun pada film ini, bahkan hanya dilihat sekilas, sudah sangat terlihat Baskara dan pasukannya adalah 'gadungan'.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/review-film-lobang-buaya-309-hari-sebelum-tragedi-berdarah-3d6d4290/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle