Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Sekjen PKS Soroti Fenomena 'Fatherless', Minta Para Ayah Tak Cuma Jadi Pencari NafkahVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Lifestyle

Sekjen PKS Soroti Fenomena 'Fatherless', Minta Para Ayah Tak Cuma Jadi Pencari Nafkah

Tribun 2 menit baca 313 kata
Sekjen PKS Soroti Fenomena 'Fatherless', Minta Para Ayah Tak Cuma Jadi Pencari Nafkah — gambar dari Tribun
Gambar dari Tribun. Ringkasan oleh Zona News.

Sekjen PKS Soroti Fenomena 'Fatherless', Minta Para Ayah Tak Cuma Jadi Pencari Nafkah Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak kini tidak lagi sekadar soal fisik TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Fenomena fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam pengasuhan anak kini tidak lagi sekadar soal fisik, melainkan juga kehadiran emosional di rumah.

Menjawab tantangan tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Kholid menegaskan pentingnya reposisi peran seorang ayah agar tidak sebatas menjadi pencari nafkah (provider).

"Kalau ayahnya ada secara fisik tetapi secara emosional tidak hadir, ini yang perlu kita perbaiki. Ayah harus hadir secara utuh, mulai dari fisik, mental, psikologis, hingga spiritual," tegas Kholid dalam acara Sharing Session Training for Trainer (TFT) Forum Ayah Nasional di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Menurut Kholid, penguatan figur ayah merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan keluarga di era modern.

Seorang ayah dituntut untuk naik kelas menjadi co-creator atau mitra tumbuh kembang bagi masa depan anak-anaknya.

Pola Asuh Berbasis Dialog Guna mewujudkan hal tersebut, Kholid mengajak para orang tua meneladani pola pengasuhan yang diajarkan dalam Al-Qur'an.

Kebanyakan kisah keteladanan figur ayah—seperti Nabi Ibrahim, Nabi Yaqub, hingga Luqman—didominasi oleh ruang dialog interaktif, bukan instruksi searah.

"Konsep parenting dalam Al-Qur'an banyak diisi dengan dialog antara ayah dan anak. Bukan sekadar perintah. Figur yang dimunculkan adalah figur yang tumbuh dengan kasih sayang dan keluwesan, namun tetap tegas menjaga prinsip," jelasnya.

Pendekatan dialogis ini penting untuk membangun keterbukaan dan kepercayaan (trust).

Kholid mencontohkan kedekatan Nabi Yusuf yang merasa aman menceritakan mimpinya kepada sang ayah, Nabi Yaqub.

Hal ini membuktikan bahwa rumah harus menjadi tempat berlindung yang paling nyaman bagi anak.

ngalaman pribadinya bersama sang ayah yang sangat disiplin dalam mendidik ibadah.

"Bapak saya tidak pernah menuntut nilai sekolah saya harus bagus. Tapi kalau saya tidak salat, marahnya luar biasa. Ini mengajarkan mana hal yang prinsipil dan mana yang sekadar bonus," kenang Kholid.

Ia menambahkan, kecerdasan anak sangat bervariasi dan tidak bisa diseragamkan.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/sekjen-pks-soroti-fenomena-fatherless-minta-para-ayah-tak-cuma-jadi-80aaecc8/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle