ChatGPT Sudah Jaga-jaga Kalau Remaja Tanya Hal Sensitif
Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.
Kekhawatiran orang tua terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) oleh anak dan remaja semakin besar. Salah satu pertanyaannya, bagaimana jika anak diam-diam bertanya kepada chatbot tentang hal-hal yang belum pantas mereka akses?
Head of Policy Southeast Asia OpenAI, Sandy Kunvatanagarn, mengatakan OpenAI menerapkan beberapa lapisan perlindungan untuk membatasi respons ChatGPT. Kebijakan tersebut berlaku untuk seluruh pengguna, sementara pengguna yang teridentifikasi sebagai anak atau remaja mendapatkan perlindungan tambahan.
"Kami sebenarnya memiliki beberapa lapisan pembatasan. Dan kebijakan penggunaan kami menetapkan peraturan bagaimana model kami akan menjawab, dan apa topik-topik yang akan ditangani secara tertentu atau tidak. Itu berlaku untuk semua orang," kata Sandy dalam sesi tanya saat media gathering di Penang Bistro, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).
Menurut Sandy, perlindungan tersebut kemudian dibuat lebih spesifik ketika ChatGPT digunakan oleh remaja dan anak-anak. OpenAI memiliki fitur prediksi umur yang dirancang untuk mengetahui apakah pengguna sudah cukup umur untuk mendapatkan pengalaman ChatGPT tertentu.
"Ketika berhubungan dengan anak-anak, karena kami memiliki (produk) ChatGPT untuk Remaja, juga karena kami memiliki prediksi umur, jadi ada fungsi untuk mengetahui seberapa cukup umur pengguna," ujarnya.
Sandy menjelaskan pengguna yang masuk dalam pengalaman ChatGPT untuk anak akan mendapatkan perlindungan tambahan. Artinya, respons yang diberikan AI dapat disusun secara berbeda dibandingkan pengalaman untuk pengguna dewasa.
Perlindungan tersebut terutama diterapkan ketika ChatGPT berhadapan dengan topik-topik yang dinilai sensitif atau berbahaya bagi anak.
"Perlindungan tambahan di konteks tersebut berarti kami akan memberlakukan 'penjagaan' khusus ketika berhubungan dengan topik-topik yang berkaitan dengan kekerasan, kekejaman, penampilan diri, dan hal-hal yang dianggap tidak pantas diakses anak-anak," jelas Sandy.
Dengan mekanisme tersebut, OpenAI tidak hanya mengandalkan aturan umum mengenai penggunaan AI. Sistem juga mempertimbangkan usia pengguna ketika menentukan pengalaman yang diberikan. Hal ini membuat ChatGPT untuk Remaja tidak sepenuhnya sama dengan pengalaman ChatGPT bagi orang dewasa.
Tak Sekadar Memblokir Pertanyaan Sandy mengatakan pendekatan OpenAI bukan semata-mata membuat anak tidak bisa mengakses teknologi AI. Menurutnya, anak tetap perlu mendapatkan manfaat dari teknologi, tetapi dalam lingkungan yang sesuai dengan usia mereka.
"Karena kami pikir ada sejumlah tujuan untuk semua orang, tapi kami juga berpikir bahwa karena anak-anak, mereka perlu diberikan ruang tempat mereka dapat mengambil manfaat darinya, tapi mereka juga perlu memiliki pengalaman yang sesuai," tutur Sandy.
Dengan demikian, perlindungan bagi pengguna muda ditempatkan sebagai bagian dari desain pengalaman ChatGPT. Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa OpenAI dapat memberikan respons yang berbeda terhadap topik tertentu ketika sistem mendeteksi pengguna sebagai anak atau remaja.
Meski ada pembatasan dari sisi teknologi, perlindungan tersebut tidak berarti seluruh tanggung jawab berada di tangan AI. OpenAI sebelumnya memperkenalkan berbagai fitur untuk mendukung pendampingan orang tua terhadap penggunaan ChatGPT oleh remaja, termasuk Pengawasan Orang Tua, Pengingat Istirahat, Jam Tenang, serta Mode Belajar.
Melalui fitur Pengawasan Orang Tua, para ayah dan ibu dapat menghubungkan akun mereka dengan akun milik anak mereka dan mengatur sejumlah batasan penggunaan. Sementara itu, fitur prediksi umur digunakan untuk memberikan pengalaman yang lebih sesuai dengan usia pengguna.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/chatgpt-sudah-jaga-jaga-kalau-remaja-tanya-hal-sensitif-208604dd/.
Related
Kekhawatiran Kawanan AI Bisa Rebut Internet, Ini Kata Pakar
Dalam pidato di 1951, matematikawan tenar Inggris Alan Turing berteori bahwa mesin cerdas suatu saat berpotensi mengambil alih kendali masyarakat.
SM Entertainment Tempuh Jalur Hukum atas Gambar AI Yoona dan Serangan ke Winter aespa
SM Entertainment mengambil langkah hukum terhadap penyebaran gambar ilegal berbasis AI yang menyerupai Lim Yoona serta unggahan jahat yang menargetkan Winter dari aespa.
Xiaomi 18 Pro Max Dipastikan Masuk Indonesia, Kapan Resminya?
Country Director Xioami Indonesia Michael Feng memamerkan smartphone Xiaomi 18 Pro Max di sela acara Snapdragon Partners & Media Indonesia, Jakarta pada Kamis (1/10). Kapan smartphone tersebut diboyong ke Indonesia?
7 Keunggulan Samsung Galaxy Tab S12 Ultra, Bisa Dicicil Rp 900 Ribuan
Samsung Galaxy Tab S12 Ultra menawarkan layar besar, chipset kelas flagship, hingga fitur multitasking untuk bekerja dan berkreasi. Tablet ini bisa didapatkan mulai Rp 11 jutaan melalui kombinasi promo reservasi, trade-in, dan cashback bank.