Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Dampak AI, Paksa Jutaan Warga AS Banting Setir PekerjaanIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Technology

Dampak AI, Paksa Jutaan Warga AS Banting Setir Pekerjaan

Liputan6 Tekno 3 min read 653 kata
Dampak AI, Paksa Jutaan Warga AS Banting Setir Pekerjaan — gambar dari Liputan6 Tekno
Image from Liputan6 Tekno. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Liputan6.com, Jakarta - Jutaan warga Amerika Serikat diprediksi harus mengubah pilihan karier atau pekerjaan dalam satu dekade ke depan akibat keberadaan kecerdasan buatan (AI).

Riset yang dirilis perusahaan konsultan, McKinsey & Co menemukan, sekitar 11 juta pekerja, atau sekitar 6,5 persen dari total angkatan kerja saat ini diperkirakan harus beralih ke jenis pekerjaan yang sama sekali berbeda pada 2035. Perubahan ini akibat otomatisasi dan adopsi AI.

Melansir CNN, Kamis (1/10/2026), Laporan McKinsey Global Institute tersebut memprediksi bahwa AI dapat menciptakan lebih banyak lapangan kerja daripada yang hilang dalam sembilan tahun ke depan.

Namun, perkembangan teknologi ini mungkin membutuhkan transformasi tenaga kerja terbesar dan paling berkelanjutan dalam sejarah Amerika Serikat.

“Di tengah maraknya prediksi suram di media sosial mengenai dampak AI terhadap tenaga kerja, Amerika Serikat kemungkinan akan memiliki lebih banyak lapangan pekerjaan yang tersedia pada 2035 dibandingkan saat ini, tetapi dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit karena populasi yang menua,” menurut laporan tersebut.

Berdasarkan perkiraan dasar para peneliti McKinsey, otomatisasi dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja hingga 36 juta pekerjaan pada 2035.

Namun, pertumbuhan di bidang yang berkaitan dengan AI serta perekonomian secara lebih luas diperkirakan dapat menciptakan kebutuhan terhadap 40 juta pekerjaan selama periode tersebut.

Yang Masih Bertahan Selain itu, McKinsey mencatat, sekitar 25 juta dari 36 juta pekerja yang terdampak diperkirakan masih dapat bertahan di bidang pekerjaan mereka saat ini karena pertumbuhan industri masing-masing dapat mengimbangi dampak otomatisasi.

“Sebanyak 11 juta pekerja lainnya mungkin perlu beralih sepenuhnya ke jenis pekerjaan yang berbeda,” tulis para peneliti dalam laporan tersebut. “Tantangan dalam satu dekade mendatang adalah mobilitas, bukan kelangkaan (lapangan pekerjaan.” Terlepas dari dampak AI, pasar tenaga kerja Amerika Serikat sendiri sudah mengalami transformasi bersejarah seiring para generasi Baby Boomers memasuki masa pensiun, laju imigrasi yang melambat, dan berbagai guncangan eksternal berdampak pada perekonomian.

Selama dua tahun berturut-turut, pasar tenaga kerja berada dalam kondisi “low-hire, low-fire”, yaitu situasi ketika perekrutan dan pemutusan hubungan kerja sama-sama rendah. Kondisi ini menciptakan perputaran tenaga kerja yang lesu, dengan peluang kerja yang tersedia bagi sebagian kecil pekerja, bukan bagi mayoritas.

Pasar Kerja Tetap Lesu Melesunya pergerakan pasar kerja disoroti dalam laporan terpisah oleh Biro Statistik Tenaga Kerja, atau Bureau of Labor Statistics (BLS).

Lowongan pekerjaan, yang menjadi salah satu indikator utama permintaan tenaga kerja, turun ke level terendah dalam lima bulan pada akhir Agustus.

Sementara itu, tingkat pengunduran diri secara sukarela, yang menjadi salah satu ukuran kepercayaan diri pekerja, masih berada di dekat level terendah dalam enam tahun. Jumlah pemutusan hubungan kerja juga kembali menurun untuk bulan kedua berturut-turut.

Pertumbuhan lapangan kerja tahun lalu menjadi salah satu yang terlemah dalam catatan. Tahun ini, pertumbuhan pekerjaan mulai meningkat, dengan penambahan rata-rata sekitar 80.000 pekerjaan per bulan, dibandingkan kurang dari 10.000 pekerjaan per bulan pada tahun lalu. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah rata-rata historis, berdasarkan data BLS.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/dampak-ai-paksa-jutaan-warga-as-banting-setir-pekerjaan-6ceb109f/.

Related

Semua berita Teknologi