Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Kedaulatan industri sebagai buah dari hilirisasiIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Economy

Kedaulatan industri sebagai buah dari hilirisasi

Antara 5 min read 975 kata
Kedaulatan industri sebagai buah dari hilirisasi — gambar dari Antara
Image from Antara. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Jakarta (ANTARA) - Kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menjadikan sebuah negara kuat secara ekonomi.

Sejarah menunjukkan, negara yang kaya mineral dapat tetap berada di pinggiran rantai nilai global apabila kekayaan tersebut lebih banyak meninggalkan tanahnya dalam bentuk bahan mentah.

Indonesia menghadapi tantangan serupa sebagai negeri dengan sumber daya alam yang melimpah.

Di negeri ini, pertanyaan sudah seharusnya semakin berkembang ke arah pertambangan yang bukan lagi sebatas berapa banyak mineral yang dapat digali dan dijual.

Seharusnya, kita melangkah ke pertanyaan seberapa jauh kekayaan di dalam bumi mampu diubah menjadi kapasitas industri, pekerjaan, penerimaan negara, penguasaan teknologi, dan kesejahteraan masyarakat.

Pada praktiknya, bangsa ini juga harus menyadari bahwa sekadar membangun fasilitas pengolahan mineral juga bukan berarti hilirisasi telah dilakukan.

Lebih jauh dari itu, hilirisasi merupakan jalan untuk mengubah posisi Indonesia dalam rantai ekonomi, dari pemasok bahan mentah menjadi negara yang semakin mampu mengolah, memproduksi, dan menciptakan nilai.

Selama bertahun-tahun, sebagian kekayaan mineral Indonesia mengalir ke pasar global dalam bentuk bahan mentah dengan nilai tambah relatif terbatas.

Negara memperoleh manfaat dari aktivitas pertambangan, tetapi sebagian proses penciptaan nilai berikutnya justru berlangsung di negara lain.

Kebijakan hilirisasi berusaha membalik pola tersebut. Pembatasan dan pelarangan ekspor sejumlah mineral mentah mendorong pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri.

Mineral tidak lagi berhenti sebagai komoditas ekstraktif, tetapi mulai menjadi bahan baku bagi mata rantai industri berikutnya.

Perubahan ini penting karena pertambangan mempunyai posisi cukup besar dalam perekonomian.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertambangan dan penggalian menjadi salah satu kontributor terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II 2026, dengan nilai mencapai Rp229,9 triliun atau sekitar 8,87 persen.

Hanya saja, besarnya kontribusi terhadap PDB belum menjadi ukuran akhir keberhasilan pengelolaan sumber daya alam. Amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 memberikan perspektif bahwa sumber daya alam harus dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/kedaulatan-industri-sebagai-buah-dari-hilirisasi-713f8d74/.

Related

Semua berita Ekonomi