Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Kisah Raja Kretek Asal Kudus, Sebar Brosur Rokok dari LangitIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Economy

Kisah Raja Kretek Asal Kudus, Sebar Brosur Rokok dari Langit

Detik 2 min read 484 kata
Kisah Raja Kretek Asal Kudus, Sebar Brosur Rokok dari Langit — gambar dari Detik Finance
Image from Detik Finance. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Jauh sebelum industri rokok Indonesia diisi nama-nama besar seperti sekarang, seorang pengusaha asal Kudus sudah membangun kerajaan bisnis kretek dengan skala luar biasa di zaman Hindia Belanda. Namanya Nitisemito.

Lewat merek Tjap Bal Tiga, Nitisemito mengubah usaha rokok skala kecil menjadi industri besar. Pada 1934, Bal Tiga disebut memiliki 10 ribu pekerja dan mampu memproduksi hingga 8 juta batang rokok per hari. Dari situ, Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek.

Dalam publikasinya, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Nitisemito lahir dan besar di Kudus pada 1863 dengan nama Roesdi, anak Haji Soelaiman, seorang lurah di Desa Janggalan, Kudus.

Alih-alih mengikuti jejak ayahnya di ranah pemerintahan, Roesdi memilih berdagang. Ia sempat menjalankan beberapa usaha sebelum akhirnya masuk ke bisnis tembakau dan rokok.

Berdasarkan catatan jurnal Jantra terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, usaha Nitisemito awalnya masih berskala kecil. Ia kemudian mengembangkan usaha rokok kretek yang sebelumnya banyak diproduksi secara rumahan jadi industri yang lebih besar.

Nitisemito tercatat mulai mengembangkan bisnis kretek pada awal 1900-an. Lalu pada 1914, ia mendaftarkan merek Tjap Tiga Bal dan membangun pabrik yang dikenal sebagai Kretek Cigaretten Fabriek M. Nitisemito Koedoes.

Ia sempat memakai beberapa merek sebelum akhirnya identik dengan Bal Tiga, kemudian membangun identitas merek melalui logo tiga bulatan pada kemasan. Kajian Jantra mencatat Nitisemito termasuk pelopor penggunaan merek dan kemasan dalam pemasaran kretek.

Strategi pemasarannya tergolong sangat masif untuk ukuran zamannya. Nitisemito memakai hadiah untuk menarik konsumen, kendaraan sebagai sarana distribusi sekaligus promosi, bahkan punya radio sendiri bernama Kudusche Radio Bal Tiga Vereniging.

Disebutkan, salah satu cara promosi yang paling heboh adalah menggunakan pesawat. Pesawat itu dipakai Nitisemito untuk menyebarkan brosur brosur rokoknya, Bal Tiga, dari udara. Bal Tiga kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan ribuan pekerja dan terus bertambah hingga mencapai 10 ribu pekerja.

Produknya dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia dan Singapura. Dalam jurnal Universitas Diponegoro mengenai Museum Kretek, tercatat agen Bal Tiga tersebar dari Aceh hingga Boven Digul. Dokumen yang tersimpan di museum juga menunjukkan hubungan dagang dengan Batam, Singapura dan Johor.

Dijuluki Raja Kretek Besarnya bisnis tersebut membuat Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek. Kajian sejarah Museum Kretek menyebut ia bahkan dikenal dengan istilah "Koning der Koningen", atau raja di antara raja-raja kretek di Hindia Belanda.

Dikutip dari detikJateng, perusahaan Nitisemito juga punya sistem administrasi sendiri. Museum Kretek menyimpan dokumen seperti Journal Keuangan Nitisemito, laporan pemasukan dan berbagai dokumen transaksi perusahaan.

Besarnya perusahaan tersebut bahkan meninggalkan jejak dalam sejarah pemerintahan kolonial. Kajian Universitas Diponegoro mencatat Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengunjungi perusahaan Bal Tiga pada 1937.

Namun bisnis sebesar Bal Tiga tidak bertahan selamanya. Perusahaan mulai menghadapi persoalan internal, persaingan yang semakin ketat serta masalah dalam pengelolaan perusahaan. Kondisi semakin sulit setelah perubahan ekonomi akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/kisah-raja-kretek-asal-kudus-sebar-brosur-rokok-dari-langit-742b50db/.

Related

Semua berita Ekonomi