Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Nurisa Sumbang Emas untuk RI, Ternyata Masih Mahasiswi di SemarangIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
International

Nurisa Sumbang Emas untuk RI, Ternyata Masih Mahasiswi di Semarang

CNBC Indonesia 3 min read 658 kata
Nurisa Sumbang Emas untuk RI, Ternyata Masih Mahasiswi di Semarang — gambar dari CNBC Indonesia
Image from CNBC Indonesia. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Nurisa Sumbang Emas untuk RI, Ternyata Masih Mahasiswi di Semarang Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Nurisa Dian Ashrifah menjadi sorotan setelah berhasil mempersembahkan medali emas kelima untuk Indonesia di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Atlet panahan yang akrab disapa Hani itu menjadi juara nomor compound individu putri setelah mengalahkan wakil Filipina Amaya Amparo Cojuangco pada pertandingan final di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose Square, Kamis (1/10/2026).

Nurisa menang tipis dengan skor akhir 139-137. Hasil tersebut sekaligus menjadi catatan bersejarah bagi panahan Indonesia karena merupakan medali emas pertama Indonesia dari cabang tersebut sepanjang keikutsertaan di Asian Games.

Perjalanan Nurisa menuju medali emas tidak mudah. Pada babak perempat final, ia menyingkirkan pemanah India Chikitha Taniparthi dengan skor 144-143. Kemudian pada semifinal, Nurisa mengalahkan wakil Korea Selatan Kang Yeon-seo dengan skor 147-143.

Di final, Nurisa dan Cojuangco sama-sama mengumpulkan 28 poin pada end pertama. Nurisa kemudian unggul satu angka pada end kedua sebelum keduanya sama-sama mencatat 29 poin pada end ketiga.

Persaingan kembali ketat pada end keempat. Nurisa akhirnya mengunci kemenangan setelah mengumpulkan 29 poin pada end kelima, sementara lawannya mendapat 27 poin. Skor akhir 139-137 memastikan emas jatuh ke tangan Indonesia.

Berawal dari Nonton Film dan Kartun Jauh sebelum berdiri di podium Asian Games, ketertarikan Nurisa terhadap panahan justru bermula dari kebiasaannya menonton film dan kartun.

Mengutip laman resmi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Nurisa mulai mencoba olahraga panahan ketika berusia sekitar 11 tahun. Ia tertarik melihat karakter dalam film atau kartun yang menggunakan busur dan anak panah.

Ketertarikan tersebut membuat Nurisa mengikuti ekstrakurikuler panahan di sekolah. Kompetisi pertamanya adalah Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) Kota tingkat sekolah dasar pada 2016.

"Sejak umur 11 tahun, saya sudah mulai mencoba olahraga panahan. Kompetisi pertama yang saya ikuti adalah POPDA Kota tingkat SD di tahun 2016. Saat SMP, saya mulai mendalami dan rutin latihan panahan ini," kata Nurisa, dikutip dari laman Udinus, Kamis (1/10/2026).

Keseriusannya dalam panahan terus berlanjut hingga remaja. Pada PON XXI Aceh-Sumatera Utara 2024, Nurisa berhasil membawa pulang dua medali perak.

Setahun kemudian, ia meraih medali perunggu pada nomor mixed team compound Asia Cup Leg 2 Singapore 2025. Prestasinya berlanjut pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIX Jawa Tengah 2025. Dalam ajang tersebut, Nurisa mengoleksi tiga medali perak dan satu emas.

Tetap Kuliah di Tengah Kesibukan Jadi Atlet Di luar lapangan, Nurisa tercatat sebagai mahasiswi Program Sarjana Manajemen Udinus. Ia merupakan mahasiswa angkatan 2025.

Kesibukannya sebagai atlet tidak membuat Nurisa meninggalkan kuliah. Ia mengerjakan tugas di sela-sela latihan dan menyesuaikan jadwal latihan dengan perkuliahan.

Menurut Nurisa, panahan tidak hanya membutuhkan kemampuan membidik sasaran. Seorang atlet juga harus memiliki fokus, konsentrasi tinggi, kesabaran, stabilitas, dan kondisi fisik yang kuat. Tantangan lain yang kerap muncul justru berasal dari keraguan terhadap diri sendiri, terutama ketika atlet mulai memasuki shooting line.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/nurisa-sumbang-emas-untuk-ri-ternyata-masih-mahasiswi-di-semarang-53a396a2/.

Related

Semua berita Internasional