Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

1.074 BUMN Dipangkas Jadi 354, 52% Perusahaan Ternyata RugiVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Ekonomi

1.074 BUMN Dipangkas Jadi 354, 52% Perusahaan Ternyata Rugi

Detik 2 menit baca 328 kata
1.074 BUMN Dipangkas Jadi 354, 52% Perusahaan Ternyata Rugi — gambar dari Detik Finance
Gambar dari Detik Finance. Ringkasan oleh Zona News.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memastikan proses pemangkasan jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus berlanjut. Saat ini jumlah BUMN yang beroperasi sudah turun drastis dari semula berjumlah 1.074 entitas menjadi tinggal 354 perusahaan.

"Pemangkasan sekarang sudah di 354 (sisa perusahaan)," kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengurangan jumlah entitas ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan efisiensi dari masing-masing BUMN yang tersisa. Sebab selama ini dari seribuan entitas perusahaan pelat merah bersama seluruh anak-cucu usahanya itu, sekitar 97% setoran dividen untuk negara hanya berasal dari 15 BUMN saja.

"Dari 1.000 lebih perusahaan, 1.074 di awal, yang memberikan dividen 97% itu hanya dari 15 perusahaan. Nah, yang lainnya mungkin rugi, sebagian besar atau 52% itu rugi," terangnya.

Atas dasar inilah Danantara kemudian melakukan pemangkasan jumlah BUMN dengan menutup perusahaan pelat merah yang secara akta masih ada namun sudah tidak lagi beroperasi (dormant) alias mati suri.

"Kemarin kalau kita lihat, aset-aset yang kita kurangi ini pertama memang kebanyakan sudah dormant. Company-nya, entitasnya masih ada tapi sudah tidak berjalan," jelas Rosan.

Selain itu, Danantara juga melakukan penggabungan (merger) pada lini-lini bisnis sejenis. Dalam hal ini Rosan mengatakan salah satu contoh pelaksanaan merger lini bisnis yang telah dilakukan adalah peleburan enam perusahaan pengelola aset (asset management) milik perbankan BUMN menjadi satu wadah.

"Contohnya baru saja ada enam asset management yang tadi dimiliki oleh setiap perbankan, sekarang kita merger menjadi satu. Jadi kita ada melakukan merger secara vertikal, horizontal, dan juga kita penggabungan dari ya beberapa perusahaan sejenis," paparnya.

Langkah serupa juga diterapkan pada entitas anak atau cucu usaha yang bergerak di sektor hospitality dan kesehatan, yang mana setiap BUMN biasanya aset berupa hotel atau rumah sakit, kini seluruh entitas itu dilebur ke dalam satu BUMN.

"Dulu kan setiap BUMN rata-rata punya hotel. Sekarang itu kita gabungkan yang tadi kita punya 137 hotel supaya menjadi lebih efisien. Kita punya rumah sakit hampir 75, ini juga kita gabungkan," tuturnya.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/1074-bumn-dipangkas-jadi-354-52-perusahaan-ternyata-rugi-1f432e24/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi