Alarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?
Sebuah laporan dari hasil riset dirilis akhir September lalu menyebut Indonesia sebagai salah satu wilayah paling berisiko dalam El Nino 2026. Climate Impact Lab (CIL), lembaga riset di bawah University of Chicago di AS, memperkirakan sekitar 19.300 kematian berlebih (excess death) terkait suhu panas di Indonesia antara September 2026 hingga Februari 2027, dibandingkan dengan rata-rata periode yang sama pada 1996-2025.
Angka ini merupakan proyeksi kematian dari berbagai penyebab yang secara statistik berkaitan dengan kenaikan suhu, bukan jumlah orang yang diperkirakan meninggal langsung akibat serangan hawa panas (heatstroke).
Jika disandingkan dengan fenomena El Nino yang saat ini sedang berlangsung, angka itu menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan proyeksi kematian paling tinggi di antara 40 negara lain di dunia dalam riset. Penting dicatat bahwa saat publikasi, metodologi CIL ini masih dalam proses peer-review penuh.
Pertanyaan terbesar dari riset semacam ini adalah: bagaimana menjelaskan akan ada belasan ribu orang meninggal akibat El Nino di Indonesia?
Kematian berlebih akibat gelombang panas (heatwave) di Eropa dan negara maju lain yang mengalami serangan panas secara kasat mata relatif mudah dijelaskan. Negara maju tidak tergantung pada model statistik ekstrapolasi untuk tahu berapa orang meninggal akibat gelombang panas.
Statistik ekstrapolasi adalah cara untuk memperkirakan nilai di luar rentang data yang sebenarnya tersedia, dengan asumsi pola yang terlihat di data yang ada akan tetap berlaku di luar rentang itu.
Di Eropa, angka kematian berlebih bisa diketahui nyaris real-time tanpa ekstrapolasi sama sekali. Dalam laporan EuroMOMO (European Monitoring of Excess Mortality for Public Health Action) yakni jaringan 29 negara Eropa yang sejak 2008 menjalankan sistem pemantauan mingguan kematian warga. Sistem ini memungkinkan setiap negara anggota melaporkan jumlah kematian aktual minggu itu dari catatan sipil nasional mereka.
Angka ril ini kemudian dibandingkan dengan angka patokan (baseline) kematian yang didapat dari tren historis per kelompok umur warga. Untuk mengetahui bagian kematian yang dapat dikaitkan dengan suhu, peneliti menggunakan model epidemiologis tertentu.
Terjadinya lonjakan di luar tren tersebut kemudian diidentifikasi sebagai excess mortality. Hasilnya, tiap negara akan langsung bisa membandingkan angka kematiannya dengan negara lain, misalnya excess death di Jerman bisa dibandingkan dengan Prancis atau Inggris.
Sementara di Indonesia, data kematian yang benar-benar dapat diandalkan tidak tersedia. Laporan Statistik Hayati Indonesia 2019-2023, yang dirilis bersama oleh BPS, Bappenas, Kemendagri, dan Kemenkes menunjukkan data registrasi kematian hanya tercatat sebesar 56,7%. Artinya dari seluruh kematian yang sebenarnya terjadi di Indonesia tahun 2023 (estimasi), hanya 56,7% yang punya akta kematian yang resmi tercatat dalam sistem Dukcapil.
Akibatnya, data kematian Indonesia tidak bisa dipakai sebagai materi penghitungan langsung seperti data EuroMOMO di Eropa.
Lalu bagaimana peneliti 'mengakali' data yang kabur dari Indonesia ini?
Peneliti, seperti tim CIL, kemudian menggunakan opsi ekstrapolasi data dengan mengambil pola hubungan antara kenaikan suhu dan kematian dari 40 negara lain yang dianggap mirip Indonesia dalam hal iklim dan pendapatannya. Pola hitungan ini kemudian diterapkan ke Indonesia dengan asumsi kemungkinan hasilnya serupa atau setidaknya mendekati.
Tetapi agar relevan, ekstrapolasi hanya akan berhasil jika asumsi kesesuaian antara negara yang dijadikan baseline dengan angka Indonesia sendiri.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/alarm-kematian-el-nino-di-ri-benarkah-belasan-ribu-terancam-tewas-75af37c5/.
Baca juga
Daftar HP Tak Bisa WhatsApp Mulai Oktober 2026
Daftar Isi WhatsApp menghentikan dukungan untuk sejumlah HP lawas setelah memperbarui persyaratan minimum sistem operasi. Mulai Oktober 2026, HP Android harus menjalankan setidaknya Android 6.0 agar tetap bisa menggunakan WhatsApp.
iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max resmi masuk Indonesia
Jakarta (ANTARA) - Dua ponsel teranyar dari Apple yang baru diluncurkan pada September 2026 yaitu iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max kini terkonfirmasi resmi masuk ke Indonesia lewat salah satu distributornya di Indonesia yaitu iBox.
Daftar Harga iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max di Indonesia
iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max dipastikan hadir di Indonesia. Keran pre-order dari sejumlah distributor resmi Apple di Indonesia sudah mulai dibuka hari ini, Rabu (7/10), dan akan tersedia di toko offline pada 16 Oktober mendatang.
iPhone 18 Pro Warna Burgundy Disebut Memudar, Apa Penyebabnya?
Liputan6.com, Jakarta - Baru beberapa minggu meluncur, sejumlah pengguna iPhone 18 Pro melaporkan masalah pemudaran warna pada varian merah Burgundy.