Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Benarkah Data Center AI Bakal Sedot Habis Air?Alarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Teknologi

Benarkah Data Center AI Bakal Sedot Habis Air?

CNN Teknologi 2 menit baca 432 kata
Benarkah Data Center AI Bakal Sedot Habis Air? — gambar dari CNN Teknologi
Gambar dari CNN Teknologi. Ringkasan oleh Zona News.

Pembangunan data center kecerdasan buatan (AI) yang sangat pesat memicu berbagai kekhawatiran banyak pihak, salah satunya terkait konsumsi air. Lantas, seperti apa sebenarnya dampak buruk data center?

Sebuah studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) yang diterbitkan pada 2025 mengungkap bahwa data center menggunakan 5 juta galon per hari.

Penulis studi tersebut, Miguel Yañez-Barnuevo, mengatakan bahwa angka tersebut setara dengan kebutuhan air bagi 10-50 ribu penduduk.

"Secara keseluruhan, 5.426 pusat data di negara ini mengonsumsi miliaran galon air setiap tahunnya. Sebuah laporan memperkirakan bahwa pusat data AS mengonsumsi 449 juta galon air per hari dan 163,7 miliar galon per tahun (pada tahun 2021)," tulis Yañez-Barnuevo, dikutip dari laman resmi EESI.

Air yang digunakan umumnya bersumber dari air tawar permukaan atau air tanah, pipa air kota, atau daur ulang. Tingkat konsumsi air tersebut bergantung pada suhu ruangan, lokasi, iklim, ketersediaan air, ukuran, dan kepadatan rak chip di data center.

Yañez-Barnuevo mengungkap penggunaan air sebagai bagian dari sistem pendingin perangkat akan membuat sebagian air menguap karena panas.

"Sekitar 80 persen air (biasanya air tawar) yang diambil oleh pusat data menguap, dan sisanya dibuang ke fasilitas pengolahan air limbah kota," tulisnya.

Yañez-Barnuevo menyebut meningkatnya jumlah pusat data AI menyebabkan peningkatan kepadatan chip dan peningkatan suhu ruangan, sehingga kebutuhan penggunaan air juga otomatis ikut meningkat.

Pengambilan air tawar dari aliran sungai lokal atau mineral bawah tanah dinilai sebagai praktik boros air dan dapat menyebabkan kekeringan, terutama di daerah yang kekurangan air. Akibatnya, kebutuhan air harian masyarakat jadi terganggu.

Ia menyarankan metode yang lebih ramah bagi ekosistem daripada pendinginan yang yang bersifat evaporatif, misalnya sistem pendinginan tertutup atau closed-loop, pendinginan imersi, pendinginan udara, dan penggunaan sumber air non-minum seperti daur ulang air limbah.

Menanggapi hal ini, perusahaan multinasional Amazon mengungkap bahwa data center memang memerlukan air untuk mendinginkan chip prosesor agar tidak mengalami panas berlebihan dan menghindari risiko kerusakan perangkat.

Namun, CEO Amazon Web Services Matt Garman menyebut pusat data AI hanya menggunakan sedikit air dibandingkan dengan industri lain. Menurutnya, konsumsi air langsung pusat data hanya sekitar 0,5 persen dari total penggunaan air industri langsung di Amerika Serikat (AS).

"Lapangan golf di AS saja menggunakan sekitar 200 kali lebih banyak air daripada semua pusat data Amazon," kata Garman dalam keterangannya, Jumat (2/10).

Menurut Garman, rumor pusat data bisa menghabiskan seluruh air adalah pernyataan yang berlebihan.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/benarkah-data-center-ai-bakal-sedot-habis-air-bfd3cf72/.

Baca juga

Daftar HP Tak Bisa WhatsApp Mulai Oktober 2026

Daftar Isi WhatsApp menghentikan dukungan untuk sejumlah HP lawas setelah memperbarui persyaratan minimum sistem operasi. Mulai Oktober 2026, HP Android harus menjalankan setidaknya Android 6.0 agar tetap bisa menggunakan WhatsApp.

Detik Inet

Semua berita Teknologi