Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Harga Perak Masih Akan Terus LoyoVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Ekonomi

Harga Perak Masih Akan Terus Loyo

CNBC Indonesia 2 menit baca 457 kata
Harga Perak Masih Akan Terus Loyo — gambar dari CNBC Indonesia
Gambar dari CNBC Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Harga Perak Masih Akan Terus Loyo Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia kembali tertekan pada perdagangan 28 September-2 Oktober 2026. XAG/USD mengakhiri perdagangan Jumat (2/10/2026) di US$60,39 per troy ons, turun US$3,89 atau 6,05% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya di US$64,28.

Tekanan terbesar terjadi sejak awal pekan. Perak anjlok 5,16% pada Senin menjadi US$60,97, kemudian sempat rebound 0,80% ke US$61,45 pada Selasa.

Pemulihan tersebut tidak bertahan lama. Harga kembali turun 1,70% menuju US$60,41 pada Rabu. Setelah naik 0,73% ke US$60,85 pada Kamis, perak melemah lagi 0,75% pada Jumat.

Penutupan Jumat menjadi yang terendah sepanjang pekan. Kondisi ini menunjukkan pembeli belum mampu mempertahankan pemulihan meski harga sudah mengalami koreksi tajam.

Dolar dan Imbal Hasil Obligasi Menekan Penguatan dolar AS serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi tekanan utama bagi perak. Kekhawatiran inflasi akibat gangguan pasokan energi mempertahankan ekspektasi kebijakan moneter ketat.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz turut memperbesar risiko kenaikan biaya energi. Bagi perak, dampaknya tidak selalu positif meskipun logam mulia kerap dipandang sebagai aset aman. Inflasi yang sulit turun dapat membuat suku bunga bertahan tinggi dan meningkatkan daya tarik obligasi dibandingkan aset yang tidak memberikan bunga.

Namun, data ketenagakerjaan AS pada akhir pekan memberikan sinyal pelemahan. Bureau of Labor Statistics melaporkan penambahan pekerjaan nonpertanian September hanya 29.000, sementara tingkat pengangguran berada di 4,2%. Pertumbuhan upah tahunan tercatat 3,0%.

Data tersebut berpotensi mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga. Meski demikian, penutupan perak tetap melemah, sehingga perubahan ekspektasi kebijakan belum cukup untuk membalikkan arah harga.

Tren Jangka Pendek Masih Bearish Secara teknikal, perak berada di bawah rata-rata penutupan lima hari sebesar US$60,81, rata-rata 10 hari US$62,98, dan rata-rata 20 hari US$63,91.

Puncak penutupan juga semakin rendah, dari US$67,08 pada 22 September menjadi US$64,28 pada 25 September, kemudian US$61,45 pada pekan ini. Struktur tersebut memperlihatkan momentum kenaikan yang terus melemah.

Selama harga belum kembali menembus area US$61,45, rebound masih berisiko menjadi pemulihan sementara dalam tren turun.

Proyeksi Pekan Depan Untuk perdagangan 5-9 Oktober 2026, bias perak masih bearish dengan peluang konsolidasi di sekitar US$60.

Area US$60,39 menjadi support terdekat, diikuti level psikologis US$60. Penutupan harian di bawah US$60 akan memperbesar risiko penurunan lanjutan.

Dari sisi atas, US$60,85 menjadi resistance awal, kemudian US$61,45. Jika kedua area tersebut berhasil dilewati, pemulihan dapat menguji US$62,96-US$62,98.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/harga-perak-masih-akan-terus-loyo-aa0dd2bb/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi