Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Ikhtiar Menyatukan Etika, Performa, dan Potensi Organisasi BerkesadaranVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Ekonomi

Ikhtiar Menyatukan Etika, Performa, dan Potensi Organisasi Berkesadaran

CNBC Indonesia 8 menit baca 1601 kata
Ikhtiar Menyatukan Etika, Performa, dan Potensi Organisasi Berkesadaran — gambar dari CNBC Indonesia
Gambar dari CNBC Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Ikhtiar Menyatukan Etika, Performa, & Potensi Organisasi Berkesadaran Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com Dinamika dunia kerja modern sering kali menjebak korporasi dalam paradigma penilaian talenta yang sempit. Secara tradisional, pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan evaluasi organisasi bersandar secara eksklusif pada dua parameter utama, yaitu performa dan potensi.

Model matriks talenta ini telah lama menjadi kiblat manajemen korporasi. Namun, dalam ruang interaksi bisnis yang penuh dengan turbulensi etika, krisis kepercayaan, dan kompleksitas sosiokultural, pendekatan dua parameter konvensional ini terbukti memiliki catatan kaki yang terkadang tak terbaca dengan baik-untuk tidak mengatakan dilupakan.

Catatan kaki tersebut berupa upaya mengabaikan fondasi manusia yang paling esensial, yaitu etika. Meskipun dalam praktiknya pertanyaan mengenai kelekatan etika hampir selalu menyusul setelah evaluasi performa dan potensi.

Menjawab situasi demikian sehingga menemukan jalan keluar dari keterbatasan tersebut adalah ikhtiar yang perlu dihadirkan. Latar belakang dalam ikhtiar menjaga eksistensi SDM dan organisasi tidak lagi cukup menggunakan dua parameter semata. Peran etika kini menjadi yang paling krusial dan mendesak untuk dikedepankan.

Pendekatan SDM dan organisasi berkesadaran merasa perlu untuk membangun diskursus tentang etika sebagai parameter mutlak demi menjamin keberlanjutan organisasi jangka panjang. Ada cara paling sederhana untuk memahami tiga pilar talenta yang sering membuat perusahaan kurang percaya diri.

Bayangkan hidup organisasi dalam garis waktu yang tak pernah berhenti. Etika adalah cara kita hidup hari ini yang menembus waktu. Performa adalah catatan tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu (past). Dan potensi adalah janji tentang apa yang mungkin kita lakukan di hari esok (future). Ketika tiga dimensi waktu ini disatukan secara sadar, maka lahirlah apa yang disebut sebagai SDM Berkesadaran dan Organisasi Berkesadaran.

Etika Adalah Tentang Hari Ini yang Menembus Waktu Di dalam organisasi, etika bekerja seperti sistem operasi yang tidak terlihat tetapi menentukan apakah semua aplikasi bisa berjalan. Ketika etika kuat, kepercayaan tumbuh dan kecepatan meningkat. Orang tidak perlu menghabiskan energi untuk curiga, menutupi informasi, atau bermain politik untuk aman.

Salah satu sebab adalah karena keletakatan etika memberikan jalur yang jelas dalam setiap aktvitas organisasi berkesadaran. Ia ada yang tercatat, ada pula yang teringat atau bisa dikatakan bahwa etika adalah gambaran hari ini melalui melalui pengalaman masa lalu dan bisa diproyeksinya masa depan (past, present, future).

Pakar kepemimpinan Simon Sinek menjelaskan hal ini dengan konsep lingkaran rasa aman. Menurutnya, pemimpin yang menjaga etika hari ini menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa aman untuk mengatakan yang sebenarnya, mengakui kesalahan, dan meminta bantuan. Di dalam lingkaran rasa aman itulah performa kolektif tumbuh.

Angka-angka membuktikan bahwa etika hari ini langsung berdampak pada performa hari ini. Riset Gallup menemukan bahwa karyawan yang merasa pemimpinnya menjunjung tinggi standar etika 60% lebih mungkin untuk engaged dalam pekerjaannya (Gallup, 2023).

Dan tim dengan tingkat kepercayaan yang tinggi 12 kali lebih mungkin untuk engaged dalam pekerjaan mereka (Gallup, 2022). Dampaknya pada retensi juga sangat nyata. Organisasi dengan tingkat kepercayaan tinggi mencatat peningkatan retensi karyawan sebesar 50% (Gallup, 2022).

Pakar budaya organisasi Frances Frei menambahkan bahwa kepercayaan dibangun dari tiga hal yang semuanya terjadi hari ini, yaitu keaslian, logika, dan empati. Ketika salah satunya hilang hari ini, kepercayaan runtuh hari ini juga. Performa setinggi apapun dari masa lalu tidak bisa menambal kepercayaan yang bocor hari ini.

Performa Adalah Catatan Masa Lalu yang Tidak Bisa Dibohongi Jika etika adalah tentang hari ini yang menembus waktu, maka performa adalah tentang masa lalu (sudah, kemarin, lusa, minggu lalu, bulan lalu dan tahun-tahun yang lalu). Performa adalah bukti yang sudah ditinggalkan. Ia adalah angka penjualan minggu lalu dan rekap bulan lalu, proyek yang selesai minggu lalu, target produksi yang tercapai kemarin, dan penanganan kasus industrial yang tuntas bulan lalu.

Pakar manajemen Peter Drucker mengingatkan bahwa apa yang bisa diukur bisa dikelola. Performa memberikan kita data masa lalu untuk belajar dengan jujur. Namun kesalahan banyak perusahaan adalah menjadikan masa lalu sebagai satu-satunya penentu masa depan.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/ikhtiar-menyatukan-etika-performa-dan-potensi-organisasi-berkesadaran-600f8fa2/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi