Lewati ke konten

Sabtu, 3 Oktober 20261326 berita

Imbal Hasil Surat Utang AS Tinggi, Surat Utang RI Masih Menarik?Ini Respons Menhub soal KAI Bakal Impor KRL Bekas Jepangamp;nbsp;Link Live Streaming Voli Pantai Asian Games 2026: Peluang Emas Sofyan/BintangMasuk Wantimpres, Budi Gunawan Fokus Kawal Program Prioritas PrabowoAsal usul tanda tangan dan bagaimana sejarahnyaProfil dan Pendidikan Mashudi, Dirjenpas yang Mundur Buntut Kasus Lapas CibinongPB IPSI jajaki Hong Kong jadi basis baru pencak silat internasionalSaat Jenderal Suyudi Langsung Cium Tangan Ibu Usai Jadi KapolriHasil Timnas Indonesia U-17 vs Bahrain U-17 Jelang Kualifikasi Piala Asia U-17 2027BRI Hadirkan BRImo Junior, Dorong Literasi Keuangan Sejak Dini
Ekonomi

Imbal Hasil Surat Utang AS Tinggi, Surat Utang RI Masih Menarik?

CNN Indonesia 4 menit baca 838 kata
Imbal Hasil Surat Utang AS Tinggi, Surat Utang RI Masih Menarik? — gambar dari CNN Indonesia
Gambar dari CNN Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun menembus 5,48 persen pada 24 September 2026, level tertinggi sejak 2004.

Kenaikan tersebut terjadi di tengah tekanan pasar obligasi global akibat kekhawatiran inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan meningkatnya belanja pemerintah.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian investor di pasar obligasi negara berkembang, termasuk Indonesia. Di tengah yield obligasi negara maju yang bergerak tinggi, apakah obligasi RI masih menarik untuk dilirik?

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho menilai obligasi RI masih cukup menarik karena menawarkan yield yang kompetitif dibandingkan sejumlah obligasi negara maju.

"Obligasi RI menurut saya masih cukup menarik dan bisa 'melawan' obligasi AS dan Jepang yang sedang dinamis. Hal ini dikarenakan imbal hasil yang ditawarkan masih cukup kompetitif yaitu sekitar 7 persen, masih lebih tinggi dibandingkan dengan obligasi AS yang berada di kisaran 5,29 persen dan obligasi Jepang yang di kisaran 3,08 persen," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (2/10).

Menurut Andi, investor tetap perlu menyesuaikan investasi obligasi dengan profil risiko masing-masing. Obligasi lebih sesuai bagi investor dengan profil risiko konservatif hingga moderat, meski investor agresif juga dapat memasukkannya sebagai bagian dari diversifikasi portofolio.

Untuk investor konservatif atau moderat, Andi menyebut alokasi sekitar 30 persen-50 persen aset dapat ditempatkan pada obligasi. Sementara investor agresif dapat mengalokasikan sekitar 20 persen-30 persen.

Dalam memilih produk, Andi menyarankan investor menyesuaikan tenor obligasi dengan kebutuhan dan strategi investasi.

Dana yang digunakan juga sebaiknya merupakan uang dingin, sehingga kebutuhan keuangan tidak terganggu selama dana tersebut masih diinvestasikan.

"Pastikan dana yang akan kita investasikan memang 'uang dingin', yang artinya selama masa kontrak kita tidak akan kerepotan karena uang tersebut sedang 'diparkir'," ujar Andi.

Andi juga menyebut investor ritel dapat membeli obligasi melalui aplikasi teknologi finansial (fintech) yang menawarkan produk tersebut. Pilihan tenor perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan strategi investasi masing-masing.

Sementara itu, perencana keuangan Mike Rini Sutikno melihat daya tarik obligasi RI dari selisih yield dengan obligasi negara maju.

Menurut Mike, selisih tersebut menciptakan peluang bagi investor yang mencari imbal hasil lebih tinggi dengan tetap mempertimbangkan risiko.

"Obligasi RI dengan yield saat ini itu 6 (persen) sampai 7 persen deh jadinya lebih menarik kan, lebih tinggi dari yield bond-nya AS. Jadi lebih menarik," ujar Mike.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/imbal-hasil-surat-utang-as-tinggi-surat-utang-ri-masih-menarik-e987f3bf/.

Baca juga

Dari Dusun Bambu ke EIGER Nature: Menteri LH Dorong Ekowisata

Pengembangan inisiatif berbasis alam yang memadukan pemulihan lingkungan, aktivitas ekonomi, edukasi, dan keterlibatan masyarakat mendapat perhatian dari Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat dalam kunjungannya ke Dusun…

Detik

Semua berita Ekonomi