Lewati ke konten

Sabtu, 3 Oktober 20261326 berita

Malapraktik Dokter Jepang Bikin Pasien Jadi Bergantung pada VentilatorIni Respons Menhub soal KAI Bakal Impor KRL Bekas Jepangamp;nbsp;Link Live Streaming Voli Pantai Asian Games 2026: Peluang Emas Sofyan/BintangMasuk Wantimpres, Budi Gunawan Fokus Kawal Program Prioritas PrabowoAsal usul tanda tangan dan bagaimana sejarahnyaProfil dan Pendidikan Mashudi, Dirjenpas yang Mundur Buntut Kasus Lapas CibinongPB IPSI jajaki Hong Kong jadi basis baru pencak silat internasionalSaat Jenderal Suyudi Langsung Cium Tangan Ibu Usai Jadi KapolriHasil Timnas Indonesia U-17 vs Bahrain U-17 Jelang Kualifikasi Piala Asia U-17 2027BRI Hadirkan BRImo Junior, Dorong Literasi Keuangan Sejak Dini
Internasional

Malapraktik Dokter Jepang Bikin Pasien Jadi Bergantung pada Ventilator

CNN Indonesia 3 menit baca 573 kata
Malapraktik Dokter Jepang Bikin Pasien Jadi Bergantung pada Ventilator — gambar dari CNN Indonesia
Gambar dari CNN Indonesia. Ringkasan oleh Zona News.

Seorang wanita berusia 50 tahun di Jepang harus menggantungkan nyawanya pada ventilator gara-gara kesalahan ahli bedah veteran di ruang operasi.

Sang dokter mengangkat jaringan sehat ketimbang tumor jinak yang berada di otaknya. Alhasil, wanita tersebut jadi kehilangan kemampuan bernapasnya.

Melalui media lokal TV Asahi, Rumah Sakit Universitas Kyoto, tempat wanita tersebut menjalani operasi, meminta maaf atas kesalahan medis tersebut dan berjanji akan mencegah insiden serupa terjadi lagi.

"Kami menyampaikan permintaan maaf kami yang terdalam," kata Direktur Rumah Sakit Universitas Kyoto, Akifumi Takaori, dilansir SCMP.

Rumah sakit tersebut rata-rata melakukan 156 operasi tumor otak setiap tahunnya. Bahkan dengan 'jam terbang' yang mumpuni, kesalahan tetap dapat terjadi.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk memberikan perawatan sebaik mungkin, dan kami akan menyelidiki penyebabnya dan merumuskan langkah-langkah efektif untuk mencegah kekambuhan," ujar Takaori lagi.

Dokter salah diagnosis meski sudah pengalaman 20 tahun Awalnya, wanita tersebut didiagnosis mengalami mengidap tumor otak jinak setelah mengalami pusing dan tubuhnya tak stabil. Meski ia masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal, ia setuju untuk menjalani operasi pengangkatan tumor di area sudut serebelopontin.

Adapun menurut Mayo Clinic, sudut serebelopontin ini merupakan ruang kecil di dekat batang otak dan serebelum, lokasinya jauh berada di dalam otak. Ruang ini berisi saraf yang mengontrol pendengaran dan keseimbangan, serta saraf yang mengontrol sensai dan gerakan di wajah.

Operasi dilakukan selama 10 jam dan tergolong kompleks karena banyak saraf di sekitar area tersebut.

Tim operasi terdiri dari tiga ahli bedah yang dipimpin oleh dokter veteran dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang bedah saraf. Mereka melakukan prosedur tersebut pada akhir Juli.

Berdasarkan keterangan rumah sakit, para dokter melakukan tes dua kali selama operasi untuk menentukan apakah jaringan yang diangkat adalah tumor. Adapun hasil biopsi awal menunjukkan jaringan tersebut bukan tumor.

Meski demikian, dokter bedah tetap melanjutkan eksisi, karena percaya sampel yang diambil merupakan tepi jaringan tumor yang sudah diangkat. Saat tes kedua menunjukkan hasil sama, dokter menyimpulkan tumor sudah sepenuhnya diangkat.

Namun setelah operasi, pasien tak kunjung sadar dan tak bisa bernapas tanpa ventilator. Pemindaian MRI pun dilakukan dan mendapati tumor tetap utuh, sedangkan bagian otak yang sehat, termasuk batang otak yang mengontrol pernapasan dan gerakan, sudah rusak.

Walau kemudian pasien sudah cukup sadar dan dapat menjawab pertanyaan dengan berkedip, ia tetap tak bisa lepas dari ventilator.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/malapraktik-dokter-jepang-bikin-pasien-jadi-bergantung-pada-ventilator-22927300/.

Baca juga

Semua berita Internasional