Lewati ke konten

Kamis, 1 Oktober 2026727 berita

Masih Ingin Snooze Alarm Saat Bangun? Bisa Jadi Tidur Belum CukupIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Lifestyle

Masih Ingin Snooze Alarm Saat Bangun? Bisa Jadi Tidur Belum Cukup

Liputan6 Kesehatan 2 menit baca 324 kata
Masih Ingin Snooze Alarm Saat Bangun? Bisa Jadi Tidur Belum Cukup — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Teorinya orang dewasa dikatakan tidur cukup 6-8 jam. Namun, tidur dengan durasi segitu bukan berarti tanda tubuh cukup tidur. Kondisi tubuh saat bangun juga dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menilai apakah waktu istirahat yang didapat sudah cukup.

Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Raymond Posuma, mengatakan seseorang dapat melihat respons tubuh setelah bangun tidur. Jika masih merasa sangat mengantuk atau ingin kembali tidur, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh belum mendapatkan istirahat yang cukup.

“Kalau bangun rasanya masih pengen snooze alarm atau merasa sudah siap bertarung untuk bangun? Jadi itu rasa subjektif untuk tahu sudah cukup tidur atau belum,” kata Raymond.

Selain melalui penilaian subjektif, kualitas pemulihan saat tidur juga dapat dipantau menggunakan perangkat seperti smartwatch. Salah satu parameter yang dapat dilihat adalah heart rate variability (HRV), yakni variasi waktu antara satu detak jantung dan detak berikutnya.

“Bisa cek nih di jam smartwatch. Bisa pakai HRV juga, HRV di sini artinya heart rate variability,” ujar dokter yang praktik di Seraphim Medical Center, Gading Serpong, Tangerang pada Rabu (30/9/2026).

Menurut Raymond, HRV yang lebih tinggi dapat menjadi salah satu indikator bahwa proses pemulihan tubuh berjalan lebih baik. Namun, parameter tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks kondisi masing-masing individu.

Kurang Tidur Bisa Membuat Nyeri Terasa Lebih Berat Raymond yang memiliki peminatan di bidang nyeri juga menyoroti hubungan antara kualitas tidur dan keluhan nyeri. Dalam praktiknya, ia menemukan pasien yang mengalami nyeri selama berbulan-bulan dan tidak kunjung membaik.

“Banyak banget kasus orang nyeri yang bertahan lebih dari tiga sampai enam bulan, enggak sembuh-sembuh. Isunya sederhana, kurang tidur,” kata Raymond.

Menurutnya, kurang tidur dapat memengaruhi cara tubuh memproses dan merespons rasa sakit. Ia mengibaratkan sistem tubuh dalam merespons nyeri seperti smoke detector yang memiliki ambang tertentu.

“Orang kalau kurang tidur, smoke detector-nya akan sangat rendah ambang nyerinya. Jadi kasus yang sedikit nyeri, persepsinya akan berubah,” jelasnya.

“Makanya tidur itu jadi salah satu pilar yang harus dikejar pada pasien yang nyeri,” pungkas Raymond.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/masih-ingin-snooze-alarm-saat-bangun-bisa-jadi-tidur-belum-cukup-08e23f31/.

Baca juga

Pihak Ruben Onsu Tanggapi Gugatan Wanprestasi Sarwendah

- Sarwendah menggugat wanprestasi Ruben Onsu dan BCA, sidang perdana 13 Oktober. - Kuasa hukum Ruben, Minola Sebayang, menunggu panggilan resmi pengadilan. - Minola belum resmi menjadi kuasa hukum Ruben untuk kasus wanprestasi ini.

Liputan6 Showbiz

Semua berita Lifestyle