Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Mendiskusikan Resilience Leadership Bersama Angela Tanoesoedibjo, Disa Novianty dan Hendra Lembong di Makassar Leadership Summit 2026Alarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Nasional

Mendiskusikan Resilience Leadership Bersama Angela Tanoesoedibjo, Disa Novianty dan Hendra Lembong di Makassar Leadership Summit 2026

Okezone 2 menit baca 406 kata
Mendiskusikan Resilience Leadership Bersama Angela Tanoesoedibjo, Disa Novianty dan Hendra Lembong di Makassar Leadership Summit 2026 — gambar dari Okezone
Gambar dari Okezone. Ringkasan oleh Zona News.

JAKARTA - Perubahan yang berlangsung cepat membuat kemampuan pemimpin untuk beradaptasi semakin penting. Bukan hanya untuk menghadapi tekanan, tetapi juga untuk membaca perubahan, mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu ideal, dan mengubah tantangan menjadi pembelajaran bagi organisasi.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam panel “ Resilience Leadership: Turning Challenges into Growth ” pada Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 di Sandeq Ballroom, Claro Hotel Makassar yang akan digelar pada Kamis (8/10/2026).

Panel ini rencananya menghadirkan Co-CEO MNC Group Angela Tanoesoedibjo, People & Culture Director KALLA Disa Rizky Novianty, dan Presiden Direktur BCA Hendra Lembong.

Angela mengatakan, tantangan terbesar dalam memimpin perubahan justru sering muncul ketika cara lama sebenarnya masih bekerja dan masih menghasilkan.

“Yang paling sulit bukan meninggalkan sesuatu yang sudah gagal. Yang paling sulit adalah ketika cara lama masih bekerja, tetapi kita tahu bahwa kalau terus bergantung pada cara yang sama, kita akan semakin tertinggal. Di situlah leadership diuji: bagaimana menjaga bisnis yang ada tetap berjalan, sambil pada saat yang sama membangun organisasi yang lebih siap untuk masa depan," kata Angela.

Menurut Angela, proses transformasi juga tidak dapat dilakukan dengan menghentikan bisnis yang sudah berjalan terlebih dahulu. Pemimpin harus mampu membawa organisasi berubah sambil tetap menjaga performa.

"Transformasi itu seperti membangun kembali rumah ketika kita masih tinggal di dalamnya. Existing business tetap harus deliver, sementara pada saat yang sama kita mengubah cara kerja, mengembangkan people, mencoba pendekatan baru, dan terus belajar. Karena itu resilience bukan hanya soal bertahan menghadapi tekanan, tetapi kemampuan untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan arah," ujar Angela.

Dalam proses tersebut, Angela menilai data, kreativitas, dan keberanian untuk bereksperimen memiliki peran yang sama pentingnya.

"Data membantu kita mengambil calculated risk, tetapi data saja tidak akan menciptakan sesuatu yang baru. Kita tetap membutuhkan kreativitas dan keberanian untuk mencoba. Dan ketika kita meminta tim untuk bereksperimen, leadership juga harus siap memberikan support dan berdiri di belakang mereka ketika hasilnya belum langsung sempurna," katanya.

Perspektif tersebut bertemu dengan pandangan Disa Novianty mengenai bagaimana pemimpin menjaga arah organisasi ketika tekanan meningkat. Menurut Disa, resilience tidak semata-mata berarti kemampuan untuk bertahan, tetapi juga menjaga kejelasan dalam menentukan langkah.

“Resilience bukan hanya soal bertahan ketika menghadapi tekanan. Pemimpin perlu memiliki clarity, agility, dan komunikasi yang jujur untuk menentukan apa yang harus dipertahankan dan apa yang perlu diubah,” kata Disa.

Disa menilai tantangan yang dihadapi organisasi juga perlu diterjemahkan menjadi pembelajaran. Dengan demikian, organisasi tidak hanya kembali pada kondisi sebelum menghadapi masalah, tetapi dapat memperbaiki cara kerja dan menjadi lebih kuat.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/mendiskusikan-resilience-leadership-bersama-angela-tanoesoedibjo-disa-a0e920a5/.

Baca juga

Semua berita Nasional