Lewati ke konten

Sabtu, 3 Oktober 20261326 berita

Pakar: Otomotif Indonesia Tak Harus Berkiblat ke ChinaIni Respons Menhub soal KAI Bakal Impor KRL Bekas Jepangamp;nbsp;Link Live Streaming Voli Pantai Asian Games 2026: Peluang Emas Sofyan/BintangMasuk Wantimpres, Budi Gunawan Fokus Kawal Program Prioritas PrabowoAsal usul tanda tangan dan bagaimana sejarahnyaProfil dan Pendidikan Mashudi, Dirjenpas yang Mundur Buntut Kasus Lapas CibinongPB IPSI jajaki Hong Kong jadi basis baru pencak silat internasionalSaat Jenderal Suyudi Langsung Cium Tangan Ibu Usai Jadi KapolriHasil Timnas Indonesia U-17 vs Bahrain U-17 Jelang Kualifikasi Piala Asia U-17 2027BRI Hadirkan BRImo Junior, Dorong Literasi Keuangan Sejak Dini
Olahraga

Pakar: Otomotif Indonesia Tak Harus Berkiblat ke China

CNN Otomotif 2 menit baca 438 kata
Pakar: Otomotif Indonesia Tak Harus Berkiblat ke China — gambar dari CNN Otomotif
Gambar dari CNN Otomotif. Ringkasan oleh Zona News.

Pengembangan industri otomotif serta bahan bakar di Indonesia dinilai perlu menyesuaikan dengan karakteristik dan potensi sumber daya alam dalam negeri. Indonesia disarankan tidak mengekor penuh pada strategi transisi energi negara-negara di China maupun Eropa yang memfokuskan arus utama ke kendaraan listrik sepenuhnya.

Iman Kartolaksono Reksowardojo Guru Besar Universitas Pertamina menyatakan bahwa kondisi geografis dan kekayaan alam Indonesia memberikan posisi tawar unik yang tidak dimiliki negara-negara di kawasan sub-tropis. Maka dari itu, pendekatan multipathway atau ketersediaan ragam jalur teknologi dinilai lebih realistis untuk diterapkan.

"China, Amerika, Jepang, Eropa itu kan di sub-tropis. Mereka tidak punya kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair ya sehebat Indonesia yang kita sudah buktikan bahwa nomor satu. Jadi kita harus multipathway itu pesan saya," ujar Iman di Evolution Forum, Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies, Rabu (30/9).

Menurutnya pilihan teknologi kendaraan masa depan di Indonesia sebaiknya tidak hanya bertumpu pada satu jenis sumber energi. Penggunaan mesin pembakaran dalam (internal combustion engine/ICE) yang efisien, teknologi hibrida (hybrid), kendaraan listrik (electric vehicle/EV), hingga pemanfaatan biofuel perlu berjalan berdampingan.

"Nah, jadi arahnya bukan 100 persen EV gitu. Tidak, tapi multipathway, istilahnya, bahasa kerennya gitu-gitu ya. Masih ada yang pakai ICE, ada yang ICE yang efisien. Kemudian ICE itu internal combustion engine. Kemudian ada hybrid, ada EV, dan ada biofuel atau itu kombinasi itu begitu. Jadi kita tidak harus berkiblat ke China atau ke Eropa karena kalau kita lihat Indonesia tuh punya posisi yang unik gitu ya," katanya.

Selain teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam negeri juga menjadi poin penting agar industri otomotif nasional tidak sekadar mengejar pemenuhan angka Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara formalitas.

"Nah kita juga harus mengembangkan itu bukan cuma untuk istilah sekarang TKDN gitu untuk dijual tapi sumber daya manusianya kita harus bisa menangani itu sendiri begitu ya," lanjutnya.

Dalam hal pengembangan bahan bakar berbasis nabati, Iman membagikan pengalamannya selama lebih dari dua dekade. Ia menilai tantangan terbesar dalam penerapan bahan bakar hayati di negara berkembang bukanlah masalah teknis, melainkan dinamika sosial, ekonomi, dan politik.

Guna menjaga keberlanjutan program seperti biodiesel maupun bioetanol, keterlibatan sektor swasta serta kepastian regulasi jangka panjang menjadi kunci utama agar investasi tetap terjaga di tengah dinamika pergantian kebijakan.

"Teknis sebetulnya saya pengalaman saya 20 tahun itu ya bisalah pasti kan banyak orang pintar ya. Tapi yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu ya. Jadi dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatorinya itu ya kebijakan," tutupnya.

Keberhasilan Indonesia menjadi dalam implementasi biodiesel terbukti berkat adanya regulasi yang kuat, dukungan pendanaan, serta peran aktif pelaku usaha. Pembelajaran ini diharapkan dapat diterapkan pada strategi transisi energi otomotif nasional agar lebih mandiri dan berkelanjutan.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/pakar-otomotif-indonesia-tak-harus-berkiblat-ke-china-a5e8f2d7/.

Baca juga

Prancis Vs Italia: Donnarumma Selamatkan Gli Azzurri

Gianluigi Donnarumma tampil gemilang membawa Timnas Italia menahan Timnas Prancis. Ia bikin enam penyelamatan di laga ini. Prancis vs Italia berakhir imbang 1-1 pada laga UEFA Nations League. Les Bleus unggul dulu lewat Michael Olise sebelum Alessandro Bastoni samakan kedudukan.

Detik Sport

Semua berita Olahraga