Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Pelajaran Kedaulatan Pangan dari Masyarakat BaduyVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Ekonomi

Pelajaran Kedaulatan Pangan dari Masyarakat Baduy

Detik 4 menit baca 798 kata
Pelajaran Kedaulatan Pangan dari Masyarakat Baduy — gambar dari Detik
Gambar dari Detik. Ringkasan oleh Zona News.

Perdebatan pangan di Indonesia hampir selalu berujung pada angka: berapa juta ton beras diproduksi, berapa luas panen, berapa stok tersedia, atau seberapa tinggi produktivitas petani. Kita bicara benih unggul, pupuk, mekanisasi, irigasi, hingga pertanian presisi. Semua penting. Namun, ada satu dimensi yang kadang luput: bagaimana memastikan kemampuan menghasilkan pangan tetap bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Untuk melihat dimensi itu, kita bisa belajar dari masyarakat Baduy di Pegunungan Kendeng, Banten. Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan semata kegiatan ekonomi. Pangan menyatu dengan tanah, hutan, air, adat, dan kehidupan komunitas. Padi ditanam di huma atau pertanian lahan kering, berdampingan dengan pisang, talas, jagung, cabai, umbi-umbian, jahe, pepohonan, serta tanaman lainnya.

Pertanian mereka mengandalkan hujan dan kesuburan alami tanah dengan penggunaan input eksternal yang relatif rendah. Pola ini tentu berbeda dengan pertanian intensif modern yang mengejar produktivitas tinggi. Tetapi justru dari perbedaan tersebut muncul pelajaran penting tentang keberlanjutan.

Padi yang dipanen tidak seluruhnya diperlakukan sebagai komoditas untuk segera dijual. Sebagiannya disimpan dalam leuit, lumbung tradisional yang mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Gabah menjadi persediaan keluarga, cadangan menghadapi masa sulit, sekaligus sumber benih untuk musim tanam berikutnya.

Dalam terminologi pangan hari ini, leuit dapat dipahami sekaligus sebagai cadangan pangan rumah tangga dan semacam bank benih masyarakat. Ia menjaga pangan hari ini sambil mempertahankan kemampuan menghasilkan pangan esok hari.

Di dalam sistem tersebut tersimpan pula kekayaan varietas padi lokal yang diwariskan lintas generasi. Keragaman benih bukan hanya warisan budaya, melainkan modal ekologis. Ketika musim semakin sulit diprediksi, keberagaman varietas dapat memperbesar pilihan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Ada pula dimensi sosial yang sering tidak masuk dalam hitungan produksi pangan. Ketika keluarga mengalami kesulitan, mekanisme berbagi dan gotong royong menjadi lapisan perlindungan. Artinya, ketahanan pangan tidak semata ditentukan oleh isi gudang, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial di dalam masyarakat.

Menjaga Ruang Hidup, Menjaga Pangan Pelajaran itu semakin relevan ketika perubahan iklim membuat pertanian menghadapi ketidakpastian baru. Masyarakat Baduy membaca perubahan alam melalui pengalaman panjang: datangnya hujan, pola angin, suhu, perilaku hewan, dan berbagai tanda alam menjadi bagian dari pengetahuan menentukan waktu bertani.

Pengetahuan tradisional semacam itu tidak seharusnya dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan modern. Justru tantangan kita adalah mempertemukan keduanya. Informasi iklim, teknologi pertanian, dan riset modern dapat berkembang tanpa harus menghapus pengetahuan ekologis yang telah terbentuk selama bergenerasi.

Tentu saja, pertanian Baduy tidak perlu diromantisasi. Produktivitasnya tidak dapat begitu saja dibandingkan dengan pertanian intensif. Tekanan terhadap lahan, perubahan iklim, pariwisata, ekonomi pasar, dan perubahan gaya hidup generasi muda juga menghadirkan tantangan.

Namun, masyarakat Baduy memperlihatkan sesuatu yang menarik: perubahan tidak selalu harus berarti meninggalkan seluruh pengetahuan lama. Dunia luar dapat diterima secara selektif dengan tetap mempertimbangkan batas yang ditentukan adat dan keberlanjutan ruang hidup.

Pesan itu kembali terlihat dalam Seba Baduy 2026. Sebanyak 1.552 warga Baduy diterima Pemerintah Provinsi Banten di Kota Serang pada 25 April 2026. Tema Seba, "Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat", menegaskan hubungan antara menjaga amanat leluhur dan merawat bumi. Amanat gunung ulah dilebur, lebak ulah dirusak-gunung jangan dihancurkan, lembah jangan dirusak-kembali disampaikan.

Pesan tersebut bukan sekadar romantisme kebudayaan. Ia berkaitan langsung dengan keberlangsungan sistem pangan. Hutan menjaga air dan tanah. Air menghidupi huma. Tanah menghasilkan padi. Padi masuk ke leuit. Sebagian gabah menjadi benih dan kembali ditanam di huma. Siklus itu berulang dan diwariskan.

Karena itu, perlindungan masyarakat adat tidak cukup berhenti pada festival budaya, pakaian tradisional, ritual, atau promosi wisata. Ruang hidup yang memungkinkan kebudayaan dan sistem pangan mereka bertahan juga perlu dijaga.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/pelajaran-kedaulatan-pangan-dari-masyarakat-baduy-5a62c769/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi