Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Sering Menyesal Setelah Curhat? Kenali Istilah Vulnerability HangoverVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Lifestyle

Sering Menyesal Setelah Curhat? Kenali Istilah Vulnerability Hangover

Liputan6 Kesehatan 3 menit baca 629 kata
Sering Menyesal Setelah Curhat? Kenali Istilah Vulnerability Hangover — gambar dari Liputan6 Kesehatan
Gambar dari Liputan6 Kesehatan. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Pernah selesai curhat kepada seseorang, lalu beberapa menit kemudian justru merasa menyesal? Pikiran seperti 'Kenapa tadi aku cerita sebanyak itu?' atau 'Jangan-jangan dia jadi menilai aku?' bisa terus berputar di kepala. Rasa malu, cemas, dan tidak nyaman setelah terlalu terbuka kepada orang lain ternyata memiliki istilah vulnerability hangover.

Kondisi ini muncul ketika seseorang merasa rentan setelah mengungkapkan sisi personal atau mendalam tentang dirinya. Perasaan tersebut tidak selalu berarti seseorang benar-benar telah mengatakan sesuatu yang salah. Bisa jadi, tubuh dan pikiran sedang merespons situasi yang dianggap rentan.

Ketika Keterbukaan Justru Memicu Kecemasan Vulnerability hangover dapat muncul setelah seseorang membagikan cerita pribadi, mengungkapkan perasaan, atau mengakui bahwa dirinya sedang membutuhkan dukungan.

Pikiran seperti “Apakah aku terlalu banyak bercerita?” atau “Bagaimana kalau dia menilai aku?” kemudian muncul setelah percakapan berakhir.

Kecemasan juga bisa semakin kuat karena seseorang tidak dapat mengendalikan respons lawan bicaranya. Ketidakpastian tentang bagaimana cerita tersebut diterima dapat membuat pikiran terus mengulang percakapan yang baru saja terjadi.

Keterbukaan juga dapat terasa bertentangan dengan gambaran seseorang terhadap dirinya sendiri.

Orang yang selama ini menganggap dirinya kuat, tenang, atau mandiri, misalnya, mungkin merasa tidak nyaman ketika menunjukkan kesedihan atau mengakui bahwa dirinya membutuhkan bantuan.

Otak Bisa Menganggap Kerentanan sebagai Ancaman Rasa tidak nyaman setelah terbuka bukan hanya berkaitan dengan pikiran. Sistem pendeteksi ancaman di otak yang melibatkan amigdala juga dapat aktif ketika seseorang menghadapi situasi sosial yang membuatnya merasa rentan.

Penelitian menunjukkan bahwa pada orang dengan tingkat kecemasan sosial lebih tinggi, amigdala dapat tetap aktif lebih lama ketika menghadapi situasi sosial dibandingkan mereka yang memiliki tingkat kecemasan lebih rendah, mengutip ScienceInsights, Senin (5/10/2026).

Itulah sebabnya rasa takut atau tidak nyaman setelah mengungkapkan perasaan dapat tetap muncul meski sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Sistem alarm tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang.

Mengapa Ada Orang yang Sulit Terbuka?

Kebiasaan merasa tidak aman ketika menunjukkan emosi dapat berkaitan dengan pengalaman masa kanak-kanak.

Salah satunya adalah childhood emotional invalidation, yaitu pengalaman ketika emosi anak kerap diremehkan, diabaikan, atau dianggap berlebihan.

Anak yang sering diminta berhenti menangis, disebut terlalu sensitif, atau tumbuh dalam keluarga yang jarang membicarakan masalah secara terbuka dapat belajar bahwa menunjukkan emosi bukan sesuatu yang aman.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/sering-menyesal-setelah-curhat-kenali-istilah-vulnerability-hangover-a15a87bf/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle