Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Singapura Pakai Rumus Pemenang Nobel Buat Biro Jodoh Pegawai NegeriVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Teknologi

Singapura Pakai Rumus Pemenang Nobel Buat Biro Jodoh Pegawai Negeri

CNN Internasional 2 menit baca 372 kata
Singapura Pakai Rumus Pemenang Nobel Buat Biro Jodoh Pegawai Negeri — gambar dari CNN Internasional
Gambar dari CNN Internasional. Ringkasan oleh Zona News.

Pemerintah Singapura mengembangkan aplikasi FirstDate yang akan menjadi biro jodoh bagi pegawai negeri di sana.

Aplikasi itu dikembangkan Badan Teknologi Pemerintah (GovTech). Hal tersebut menjadi inisiatif pemerintah untuk membantu para pegawai negeri lajang usia 21-35 untuk mencari pasangan yang tepat berdasarkan algoritma.

Menurut situs webnya, proyek yang sedang diuji coba di seluruh layanan publik ini bertujuan untuk mengatasi kejenuhan akibat aktivitas menggeser layar (swipe fatigue) yang sering dikaitkan dengan sejumlah aplikasi kencan, serta membangun 'hubungan yang bermakna'.

Dalam mengembangkan aplikasi itu demi memastikan kecocokan yang tepat, pemerintah Singapura menggunakan rumus yang telah dari Lloyd Shapley dan Alvin Roth yang memenangkan Nobel Memorial Prize bidang Ilmu Ekonomi pada 2012 lalu.

Algoritma ini memungkinkan FirstDate menghasilkan pasangan yang stabil, di mana tidak ada dua peserta yang sama-sama lebih memilih satu sama lain dibandingkan pasangan yang telah ditetapkan untuk mereka.

"Program ini mengandalkan algoritma teori pencocokan (matching theory) pemenang Hadiah Nobel untuk benar-benar mempertemukan para pegawai," demikian dikutip Sabtu (3/10).

"Kelelahan akibat aktivitas swiping berakhir di sini," demikian bunyi keterangan pada situs web program percontohan baru tersebut.

Mengutip dari Fortune, FirstDate itu adalah sebuah program pilot yang diperkenalkan GovTech di tengah tren pernikahan yang baru dilakukan pada usia lanjut dan penurunan tingkat kesuburan.

Menurut Departemen Statistik Singapura, tingkat kesuburan total penduduk Singapura turun menjadi 0,87 kelahiran per wanita pada tahun 2025, dari sebelumnya 0,97 pada tahun 2024. Usia median saat pernikahan pertama mencapai 31,1 tahun bagi mempelai pria dan 29,6 tahun bagi mempelai wanita, dibandingkan dengan 30,3 tahun dan 28,2 tahun satu dekade sebelumnya.

Situs web FirstDate menyatakan tujuannya adalah mendukung para lajang dalam perjalanan kencan mereka, tanpa secara eksplisit menyebutkan peningkatan angka kelahiran sebagai salah satu targetnya.

Disebutkan bahwa pengguna akan menerima satu kandidat pasangan dalam satu waktu, lengkap dengan skor kecocokan, deskripsi, dan pesan pribadi.

Mengutip dari Financial Times (FT), program FirstDate ini bermula dari sebuah gagasan dalam acara hackathon tahunan GovTech yang bertujuan untuk mengeksplorasi tantangan yang dihadapi orang-orang saat bertemu dengan seseorang yang baru.

Untuk masuk ke dalam aplikasi tersebut, pengguna harus menggunakan kode khusus warga Singapura (Singpass), dan melengkapi beberapa pertanyaan seputar kepribadian. Program pilot aplikasi itu pendaftarannya ditutup pada 5 Oktober. Pelamar yang memenuhi syarat usia dan mencakup mereka yang lajang, serta mereka yang berstatus janda/duda atau telah bercerai.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/singapura-pakai-rumus-pemenang-nobel-buat-biro-jodoh-pegawai-negeri-c7331d1a/.

Baca juga

Semua berita Teknologi