Lewati ke konten

Jumat, 2 Oktober 2026964 berita

Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia MerosotPolisi Selidiki Wanita Dianiaya Usai Dituduh Curi Amplop Hajatan di JakselVIDEO: Polisi Bongkar Laboratorium Rahasia Produksi Vape EtomidateThailand Cabut Kewarganegaraan Pengusaha Israel, Ini AlasannyaRusia tegaskan akan merespons atas ancaman terhadap KaliningradTempat Taco di Jakarta yang Sering Direkomendasikan, Bisa Dipesan di GrabFoodKepala BGN minta pemda kontribusi sidak SPPG pastikan keamanan panganPihak Richard Lee Soroti Alokasi Waktu Sidang, Tuntut Kesetaraan Hak Pembelaan di Depan HakimBupati Gowa Tak Ditahan Usai Diperiksa Kortas Tipikor PolriSertijab Kapolri dari Listyo ke Suyudi Digelar Sore Ini
Ekonomi

Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot

CNN Teknologi 2 menit baca 453 kata
Studi: Cuaca Makin Panas, Pendapatan UMKM Indonesia Merosot — gambar dari CNN Teknologi
Gambar dari CNN Teknologi. Ringkasan oleh Zona News.

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa cuaca yang semakin panas karena peningkatan suhu udara imbas krisis iklim turut memberi dampak pada merosotnya pendapatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Kondisi ini disebabkan penurunan kinerja para pekerja dan pelaku usaha akibat tekanan fisik di tengah suhu panas ekstrem, sehingga lebih sering beristirahat. Hal ini juga mengganggu kemampuan kognitif dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan penurunan akurasi kerja.

Hal tersebut terungkap dalam studi yang dilakukan oleh Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Department of Economics Collage of William and Mary. Studi tersebut menunjukkan kaitan antara kenaikan suhu dan penurunan pendapatan usaha.

Penelitian berjudul "Productivity impact of temperature change: evidence from Indonesia household-based enterprises survey" tersebut dianalisis berdasarkan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) yang dikombinasikan dengan data temperatur dan curah hujan di berbagai wilayah Indonesia untuk melihat dampak perubahan iklim terhadap produktivitas usaha rumah tangga.

Usaha rumah tangga dipilih sebagai fokus penelitian karena perannya dalam perekonomian nasional. Diketahui, sekitar 99 persen unit usaha di Indonesia berada pada kategori UMKM dan sebagian besar dijalankan dari rumah tangga.

Namun, kelompok usaha ini sering kali tidak memiliki perlindungan maupun sumber daya yang cukup untuk menghadapi perubahan suhu yang semakin ekstrem.

"Kami menemukan bahwa kenaikan temperatur tahunan sebesar 1 derajat Celsius dari kondisi normal menyebabkan penurunan pendapatan usaha sekitar 13 hingga 14 persen. Sementara itu, pendapatan tiap pekerja dapat turun hingga sekitar 20 persen," kata salah satu peneliti Esa Azali Asyahid, dikutip dari situs resmi UGM.

Angka tersebut menunjukkan bahwa dampak krisis iklim tidak hanya berhenti pada lingkungan, tetapi juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha. Dalam hal ini, usaha berskala kecil serta sektor padat karya seperti konstruksi, manufaktur, dan usaha makanan tercatat mengalami tekanan produktivitas paling besar.

"Produktivitas cenderung optimal pada temperatur rata-rata tahunan sekitar 25 hingga 26 derajat Celsius. Namun ketika temperatur terus meningkat melewati titik tersebut, produktivitas mulai mengalami penurunan secara signifikan," jelasnya.

Sementara itu, rata-rata suhu di banyak wilayah Indonesia sudah melampaui angka tersebut. Suhu maksimum harian di area Jabodetabek bahkan bisa mencapai 36 derajat Celsius.

"Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja," kata Esa.

Dalam konteks ini, perubahan iklim berpotensi memperlebar ketimpangan ekonomi karena kelompok yang rentan seperti sektor informal dan usaha kecil menjadi yang paling terdampak karena memiliki keterbatasan kapasitas adaptasi.

"Perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan juga persoalan produktivitas, kesejahteraan, dan pembangunan ekonomi," tegasnya.

Para peneliti menilai pemerintah perlu menyiapkan kebijakan yang lebih adaptif dan inklusif seperti peningkatan kualitas lingkungan kerja, insentif finansial, akses teknologi pendingin, jam kerja yang lebih fleksibel, dan perlindungan sosial yang responsif terhadap perubahan cuaca.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/studi-cuaca-makin-panas-pendapatan-umkm-indonesia-merosot-8143c6a2/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi