Skip to content

Thursday, 1 October 2026727 stories

Kadri Gandeng Nando Satoko Rilis Mambangkik Batang Tarandam, Kisah Cinta Kandas karena AdatIni Pesan-pesan Sugiono ke Menlu Baru RI Arrmanatha NasirKabur dari Pelatnas Timnas Portugal, Cristiano Ronaldo Terancam Sanksi Berat!Rupiah Lunglai ke Rp17.966 per Dolar AS Kamis SoreRamai Sorak Sorai, Menkeu Suahasil dan PNS Kemenkeu Sambut 2 Wamen BaruTablet Premium Terbaru Samsung, Galaxy Tab S12 Mulai Rp 21 JutaProfil Irwan Meilano, Guru Besar ITB yang kini jadi Wamen KPCerita Suyudi Pagi Hari Diminta Bersiap, Sore Jadi Kapolri64 mobil siap bersaing dalam kompetisi KMHE 2026 di UnejJenderal Sigit Tegaskan Masih Aktif di Polri Meski Tak Lagi Jabat Kapolri
Lifestyle

Kadri Gandeng Nando Satoko Rilis Mambangkik Batang Tarandam, Kisah Cinta Kandas karena Adat

Liputan6 Showbiz 2 min read 438 kata
Kadri Gandeng Nando Satoko Rilis Mambangkik Batang Tarandam, Kisah Cinta Kandas karena Adat — gambar dari Liputan6 Showbiz
Image from Liputan6 Showbiz. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

- Kadri dan Nando Satoko rilis single "Mambangkik Batang Tarandam" tentang cinta terhalang adat.

- Lagu ini mengeksplorasi pertanyaan apakah cinta yang terhalang adat harus benar-benar berakhir.

- Mengusung nuansa alternatif dengan instrumen Minang, mengangkat identitas budaya Minangkabau.

Liputan6.com, Jakarta - Penyanyi senior Kadri kembali menyemarakkan industri musik Tanah Air lewat karya terbaru yang sarat nilai budaya Minangkabau. Kali ini, Kadri menggandeng penyanyi muda Minangkabau, Nando Satoko, untuk membawakan single berjudul "Mambangkik Batang Tarandam" karya Jimmo.

Lagu tersebut mengangkat kisah cinta yang harus kandas karena terbentur adat dan restu. Melalui karya ini, Kadri menghadirkan pertanyaan tentang apakah cinta yang terhalang adat benar-benar harus berakhir.

"Ketika cinta kandas karena adat, apakah kisahnya harus benar-benar berakhir? Pertanyaan itulah yang menemukan gema baru dalam Mambangkik Batang Tarandam," kata Kadri.

Single ini menjadi babak baru dalam perjalanan musikal Kadri setelah sebelumnya mengeksplorasi nuansa retro lewat "Sabana Malu Sabana Rindu". Lagu terbarunya membawa cerita yang masih berkaitan dengan karya sebelumnya, tetapi hadir dengan warna musik dan persoalan yang berbeda.

"Lagu ini hadir sebagai kelanjutan dari 'Sabana Malu Sabana Rindu', yang sebelumnya membawa kisah cinta jarak jauh dalam balutan city pop. Hubungan yang berakhir karena tak mendapat restu adat kini memasuki babak berbeda: sesuatu yang pernah terpendam kembali diangkat ke permukaan," jelasnya.

Pergulatan Cinta dan Adat Kisah cinta yang berbenturan dengan norma adat tersebut juga mengingatkan pada karya sastra legendaris Indonesia. Meski demikian, lagu ini tidak dibuat sebagai bentuk adaptasi dari karya tersebut.

"Napas cerita tersebut mengingatkan pada pergulatan cinta dan adat dalam karya besar Buya Hamka, 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'. Bukan sebagai adaptasi, melainkan sebagai jejak inspirasi tentang cinta, jarak, adat, dan pilihan hidup yang kerap tidak sederhana," urainya.

Makna Mambangkik Batang Tarandam Judul "Mambangkik Batang Tarandam" sendiri memiliki makna filosofis yang kuat dalam budaya Minangkabau. Ungkapan tersebut menjadi pijakan Kadri untuk membawa identitas Minang ke dalam karya musik yang lebih kontemporer.

Dari sisi musikalitas, Kadri menghadirkan warna yang berbeda dibandingkan single sebelumnya. Lagu ini bergerak ke ranah alternative dengan nuansa Minang yang diperkuat penggunaan instrumen tradisional.

Dalam penggarapannya, Kadri juga melibatkan Nando Satoko sebagai rekan duet. Penyanyi yang dikenal melalui lagu "Taragak Pulang" itu dinilai memiliki visi yang sejalan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada pendengar yang lebih luas.

Teluk Bayur Nuansa cerita dalam "Mambangkik Batang Tarandam" juga diterjemahkan melalui video musik garapan DVH Bale. Teluk Bayur, salah satu lokasi yang lekat dengan sejarah dan budaya masyarakat Sumatera Barat, dipilih sebagai latar pengambilan gambar.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/kadri-gandeng-nando-satoko-rilis-mambangkik-batang-tarandam-kisah-b3001f5f/.

Related

Semua berita Lifestyle