Skip to content

Wednesday, 30 September 2026188 stories

Pajar Ariyana dan perjalanannya menaklukkan ombakWamenperin: Penetrasi Pasar Produk Industri Hijau Harus DiperluasIHSG Naik 1%, Ini PenyebabnyaUpdate Terbaru Klaim Asuransi KM Virgo Transport 8, Kapal Mau DiangkatPolisi Bongkar Rumah Produksi Narkoba Etomidate WN China di PIK 2Pemerintah Target Net Zero Emission Lebih Cepat Tercapai pada 20504,1 ton sianida asal Filipina digagalkan di Gorontalo UtaraTrump, bos teknologi sepakati keamanan Super IntelligenceKemenag salurkan Rp65,2 miliar untuk pemulihan pesantren di AcehTaufik Hidayat Penyekap dan Penganiaya YTR Mulai Diadili Hari Ini
International

Pajar Ariyana dan perjalanannya menaklukkan ombak

Antara 2 min read 383 kata
Pajar Ariyana dan perjalanannya menaklukkan ombak — gambar dari Antara
Image from Antara. Summarised by Zona News.

Automatic translation. This article was translated from Indonesian. Names, institutions and figures are kept in their original form. For the authoritative version, read the report at the original source.

Dari warung keluarga di Serangan, Pajar tumbuh bersama laut. Ia pernah takut, pernah trauma, bahkan hampir berhenti. Namun ia memilih kembali ke air dan terus belajar.

Nagoya, Jepang (ANTARA) - Doa Ni Made Puspawati tak pernah terputus saat sang putra bertarung di tengah gulungan ombak. Berdiri di bawah naungan payung, perempuan berusia 55 tahun itu terus merapal doa dengan mata yang tak sekejap pun lepas dari jersey merah I Made Pajar Ariyana.

Pada babak final nomor shortboard putra Asian Games 2026, Pajar bertarung sengit melawan wakil tuan rumah, Kanoa Igarashi. Ketika Kanoa mencetak skor lebih dulu, doa Puspawati tak surut. Sekitar 10 menit berselang, Pajar pun berhasil memecah kebuntuan dan mengamankan poin.

Bagi Puspawati, duel di lautan itu bukan sekadar tentang angka. Ada jejak perjalanan panjang yang terbayang di balik perjuangan anaknya. Perjalanan yang bermula dari Pulau Serangan, Denpasar.

Pajar sudah akrab dengan pantai sejak bayi. Keluarganya memiliki warung di Pulau Serangan. Karena harus berjualan, Puspawati membawa Pajar ke pantai.

“Dari umur satu bulan sudah di pantai,” kata Puspawati.

Pantai kemudian menjadi bagian dari kehidupan Pajar. Ketika berusia enam tahun, ia mulai belajar berselancar. Namun, saat itu ia bahkan belum bisa berenang. Rasa takut sempat lebih besar daripada keinginannya menaklukkan ombak.

Puspawati masih mengingat bagaimana anaknya menolak ketika diajari berenang.

Setahun kemudian, ketakutan itu benar-benar ia rasakan. Pajar pernah tergulung ombak besar dan panik karena belum bisa berenang. Pengalaman tersebut membuatnya trauma dan hampir berhenti berselancar.

Namun sang ayah terus mendorongnya untuk kembali ke laut.

"Never give up." Kalimat itu kemudian menjadi pegangan Pajar hingga sekarang.

Ia kembali berselancar. Rasa takut perlahan berubah menjadi keberanian. Pada usia tujuh tahun, Pajar mulai mengikuti perlombaan.

Setahun kemudian, ia mendapat dukungan sponsor dan berhasil meraih juara ketiga. Memasuki usia delapan tahun, ia mulai menjalani kompetisi dengan lebih serius.

Bagi Puspawati, melihat anaknya bertanding tentu membuat khawatir. Apalagi Pajar masih sangat kecil ketika mulai masuk ke kompetisi. Namun, ia juga melihat keberanian yang berbeda dalam diri anak keduanya.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/pajar-ariyana-dan-perjalanannya-menaklukkan-ombak-1f598f2e/.

Related

Semua berita Internasional