Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

18 Chef Jelajahi 12 Kota di Jawa, Temukan Cerita di Balik Sate Srepeh hingga Tempe Ragi LiarAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Lifestyle

18 Chef Jelajahi 12 Kota di Jawa, Temukan Cerita di Balik Sate Srepeh hingga Tempe Ragi Liar

Liputan6 Lifestyle 3 menit baca 610 kata
18 Chef Jelajahi 12 Kota di Jawa, Temukan Cerita di Balik Sate Srepeh hingga Tempe Ragi Liar — gambar dari Liputan6 Lifestyle
Gambar dari Liputan6 Lifestyle. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Delapan belas chef diajak menjelajahi 12 kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam Culinary Trip yang berlangsung selama lima hari. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari program Future Menu 2026 dari Unilever Food Solutions (UFS) Indonesia yang berlangsung pada Juni dan Juli 2026.

Food Storyteller and Host of UFS Culinary Trip, Ade Putri, mengatakan pengalaman langsung diperlukan untuk memahami sebuah makanan secara utuh.

"Kita nggak bisa menilai sebuah makanan dan membayangkan cuma dari baca terus ngelihat visual yang menarik. Harus dirasakan, kita nggak bisa baca resep terus langsung tahu rasanya persis kayak apa," kata Ade saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Para chef mendatangi sejumlah daerah untuk mencicipi makanan, sekaligus mengenali bahan, bumbu, dan teknik memasak yang digunakan masyarakat setempat. Mereka juga berinteraksi dengan para pembuat makanan untuk melihat proses yang tidak selalu terlihat ketika hidangan sudah tersaji di meja.

Salah satu temuan perjalanan tersebut adalah Sate Srepeh di Rembang. Ade menyebut kuliner itu kini hanya dibuat oleh sekitar empat pedagang. Jumlah tersebut membuat keberadaan makanan khas tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan para chef.

Ade melihat pengalaman mencicipi langsung dapat membuka cara pandang baru terhadap makanan sederhana. "Ini kan kira-kira diciptakan untuk mengangkat sebuah cerita lama menjadi cerita baru tapi tidak melupakan akarnya. Ini yang paling penting," ungkapnya.

Menemukan Inspirasi dari yang Selama Ini Terlewat Perjalanan itu juga membawa para chef menemui pembuat tempe yang masih memakai ragi liar dan daun jati sebagai pembungkus. Teknik tersebut membentuk tampilan tempe mengikuti tekstur daun, sekaligus memberikan pengalaman rasa dan freshness yang berbeda ketika disantap.

Tempe yang mereka temui tidak berhenti pada fungsi sebagai makanan sehari-hari. Para chef dapat melihat proses produksi, sekaligus memahami potensi bahan tersebut sebagai sumber protein yang relevan dengan kebutuhan konsumen yang mencari alternatif selain daging dan ayam.

Ade juga menemukan perspektif lain dari perjalanan tersebut. Ia mengaku selama ini lebih sering memikirkan destinasi di luar pulau ketika merencanakan perjalanan.

"Sebagai warga Jakarta aku selalu merasa setiap mau traveling itu sibuk mikirin tempat-tempat di luar pulau. Sampai lupa bahwa sebenarnya di pulau sendiri itu banyak hal yang kita belum lihat," kata Ade.

Pelajaran dari Pelaku Kuliner Lokal Chef Freddie Salim, Owner Silk Bistro, mendapat pengalaman berbeda saat mencicipi nasi tahu telur gimbal bersama rombongan. Penjual makanan tersebut tetap memasak satu per satu meski harus melayani sekitar 20 hingga 24 orang.

Prosesnya dimulai dari membumbui hingga menggoreng tahu dan gimbal. Freddie melihat konsistensi penjual dalam mempertahankan kualitas saat menghadapi banyak pesanan.

"Mereka melakukannya itu karena they love it. It's not because hanya pekerjaan, but they truly love their job. Kedua, they're true to their identity, dan ketiga yang bikin aku bersemangat lagi adalah mereka sangat disiplin,” ujarnya.

Pengalaman itu membuat Freddie membandingkan standar street food dengan restoran profesional. "Kalau di street food aja bisa ada this high standard, kenapa di restoran bintang lima dan bintang yang lain nggak bisa?" katanya.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/18-chef-jelajahi-12-kota-di-jawa-temukan-cerita-di-balik-sate-srepeh-a71665ab/.

Baca juga

Semua berita Lifestyle