Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

AS Pernah Jadi Raja Kereta, Kini Tertinggal China dan JepangVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Internasional

AS Pernah Jadi Raja Kereta, Kini Tertinggal China dan Jepang

Liputan6 Bisnis 5 menit baca 927 kata
AS Pernah Jadi Raja Kereta, Kini Tertinggal China dan Jepang — gambar dari Liputan6 Bisnis
Gambar dari Liputan6 Bisnis. Ringkasan oleh Zona News.

Liputan6.com, Jakarta - Jalur kereta api Amerika Serikat (AS) pernah menjadi yang terdepan di era industri, tetapi akibat kurangnya dukungan pemerintah, AS tertinggal lebih dari setengah abad. Sebuah perusahaan kereta api yang didirikan pada 2012, Brightline, ingin mengubah kenyataan itu.

Melansir CNN, Senin (5/10/2026), perusahaan swasta asal Florida ini pernah menjalankan kereta kuning yang melaju dengan kecepatan hampir tinggi antara Miami dan Orlando.

Mereka berencana untuk meluncurkan kereta lain dengan kecepatan 321,87 kilometer (km) per jam. Kereta tersebut akan menghubungkan antara Las Vegas dan Rancho Cucamonga, California. Namun, perusahaan tersebut bangkrut bulan lalu lantaran tak mampu menutup utangnya.

Pun begitu, Brightline masih mengoperasikan layanannya di Florida dan tetap berencana meluncurkan kereta cepat antara Las Vegas dan California Selatan.

Kereta penumpang kecepatan tinggi adalah hal lumrah di berbagai belahan dunia, baik di negara besar seperti Jepang, Prancis, dan China, hingga negara berkembang seperti Maroko.

AS menjadi pengecualian dalam hal ini. Keretanya tidak mencapai kualifikasi kereta kecepatan tinggi dalam definisi global. Selain itu, AS juga tidak memiliki kereta api yang melaju dengan kecepatan setidaknya 241,40 km per jam untuk perjalanan jarak jauh.

AS Lebih Fokus pada Pembangunan Jalan Raya dan Jalur Udara Sebagian dari alasannya adalah budaya, lantaran AS merupakan negara mobil. Namun, alasan utamanya adalah kurangnya sumber daya pemerintah, menurut tokoh terkemuka yang mendukung kereta api berkecepatan tinggi, Lou Thompson.

Thompson, yang terlibat dalam pembentukan Amtrak (layanan kereta api penumpang nasional di AS) pada awal 1970-an dan menjabat sebagai penasihat bidang perkeretaapian bagi World Bank, mengatakan kepada CNN, pemerintah asing menginginkan kereta kecepatan tinggi dan bersedia untuk mendanainya. Namun, dia mengatakan pemerintah AS tidak memenuhi dua hal tersebut.

Dukungan pemerintah AS berfokus pada jalan raya antarnegara bagian dan sistem lalu lintas udara. Sebagian alasannya adalah kebutuhan masyarakat. AS membutuhkan cara yang pasti untuk memindahkan orang dan barang melalui negara yang berkembang cepat setelah Perang Dunia II.

Namun, ini juga didorong oleh kuasa bisnis yang kuat dalam sektor jalan raya dan jalur udara. Contohnya, industri otomotif, minyak, dan konstruksi dalam hal jalan raya, serta maskapai penerbangan dan perusahaan dirgantara dalam hal perjalanan udara.

"Upaya lobi dari industri ini pada dasarnya telah menyingkirkan proyek kereta api berkecepatan tinggi ke latar belakang demi mempertahankan pendanaan untuk jalan raya dan penerbangan,” kata CEO kelompok advokasi US High Speed Rail, Andy Kunz.

Hambatan Geografis di AS Halangi Kereta Berkecepatan Tinggi Selain itu, juga terdapat permasalahan geografi. AS merupakan negara yang besar, dan kota-kota terbesarnya berjarak lebih jauh dibanding negara yang memiliki rel kereta kecepatan tinggi.

Thompson berpendapat, ini menjadi alasan mengapa orang lebih memilih jalur udara dalam perjalanannya di AS.

"Saat jaraknya lebih dari 643,74 km (antar destinasi), maka kereta api berkecepatan tinggi kalah dari jalur udara karena jalur udara lebih cepat (di AS)," ujar Thompson.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/as-pernah-jadi-raja-kereta-kini-tertinggal-china-dan-jepang-8296de73/.

Baca juga

Semua berita Internasional