Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Bukan Jejadian, Penyu Langka Berkepala Dua DitemukanAlarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Internasional

Bukan Jejadian, Penyu Langka Berkepala Dua Ditemukan

Detik 4 menit baca 713 kata
Bukan Jejadian, Penyu Langka Berkepala Dua Ditemukan — gambar dari Detik Inet
Gambar dari Detik Inet. Ringkasan oleh Zona News.

Seekor anak penyu dengan dua kepala ditemukan di Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat. Kondisi langka tersebut bukan karena dua penyu menyatu setelah menetas, melainkan akibat kelainan perkembangan embrio yang dikenal sebagai bicephaly.

Penyu kecil tersebut merupakan diamondback terrapin (Malaclemys terrapin). Bobotnya hanya sekitar 5,2 gram. Anak penyu itu ditemukan relawan Mass Audubon Wellfleet Bay Wildlife Sanctuary di sebuah lokasi peneluran yang dilindungi di Wellfleet pada September 2026.

Pada 17 September, hewan tersebut dibawa ke Cape Wildlife Center di Barnstable untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan. Kondisi dua kepala yang dialaminya disebut bicephaly, yaitu keadaan ketika satu embrio berkembang dengan dua kepala yang terpisah, tetapi tetap berbagi satu tubuh.

Menurut Zak Mertz, CEO New England Wildlife Centers, bicephaly biasanya terjadi ketika embrio yang awalnya berkembang menuju pembentukan kembar identik tidak sepenuhnya terpisah.

Akibatnya, dua bagian embrio terus berkembang tetapi tetap terhubung pada satu tubuh. Kondisi tersebut dapat menghasilkan hewan dengan dua kepala dan tingkat penggabungan organ internal yang berbeda-beda.

"Berdasarkan penelitian yang ada, pemahaman kami adalah bahwa bicephaly disebabkan oleh faktor genetik dan epigenetik," ujarnya seperti dikutip dari Science Alert, Selasa (6/10/2026).

Mertz mengatakan faktor lingkungan juga kemungkinan berperan dalam proses tersebut. Beberapa faktor yang dipertimbangkan antara lain suhu dan kelembapan selama inkubasi, karakteristik lokasi sarang, hingga kemungkinan paparan lingkungan yang dialami induknya.

Namun, penyebab pasti bicephaly pada penyu ini belum dapat dipastikan. Meski sangat jarang, penyu dengan dua kepala bukan fenomena yang sama sekali belum pernah ditemukan.

Cape Wildlife Center menyebut anak penyu yang baru ditemukan ini merupakan kasus bicephaly ketiga pada diamondback terrapin yang mereka tangani dalam lima tahun terakhir. Mass Audubon Wellfleet Bay Wildlife Sanctuary bahkan telah menemukan lima terrapin dengan kondisi dua kepala di Cape Cod sejak awal 2000-an.

Setiap kasus memberikan kesempatan bagi peneliti dan dokter hewan untuk mempelajari bagaimana dua kepala dapat berfungsi pada satu tubuh.

"Ini sangat menarik dan merupakan bidang yang tentu layak untuk diteliti lebih lanjut. Kami senang merawat keduanya dan mempelajari sebanyak mungkin untuk membantu penelitian di masa depan," paparnya.

Salah satu pertanyaan terbesar dalam kasus ini adalah bagaimana kedua kepala tersebut dapat mengendalikan tubuh yang sama. Tim dokter hewan kini mengamati nafsu makan, pertumbuhan, perilaku, serta koordinasi kedua kepala dengan tubuhnya. Sejauh pemantauan awal, kondisi anak penyu tersebut cukup menjanjikan.

Penyu kecil itu dilaporkan mampu berenang, makan, dan menggerakkan seluruh kakinya. Kedua kepalanya juga menunjukkan respons terhadap lingkungan. Namun, kondisi tersebut belum berarti anak penyu akan mampu bertahan hidup dalam jangka panjang.

Dua kepala pada satu tubuh dapat menyebabkan masalah koordinasi, termasuk ketika hewan harus bergerak, mencari makanan, atau melakukan aktivitas lain untuk bertahan hidup. Bicephaly juga menarik perhatian ilmuwan karena kelainan perkembangan semacam ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi populasi dan lingkungan tempat hewan berkembang.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/bukan-jejadian-penyu-langka-berkepala-dua-ditemukan-39bf334c/.

Baca juga

Penusukan di Sekolah Turki, 1 Siswa SMP Tewas

Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) meninggal dunia dalam peristiwa penusukan di sebuah sekolah di ibu kota Istanbul, Turki, pada Selasa (6/10). Peristiwa itu terjadi di distrik Basaksehir, barat laut kota itu, sekitar pukul 08.40 waktu setempat.

CNN Indonesia

Semua berita Internasional