Lewati ke konten

Rabu, 7 Oktober 20262927 berita

Kematian Misterius Teknisi Lab Wabah Pes di Rusia, Apa yang Diketahui?Alarm Kematian El Nino di RI, Benarkah Belasan Ribu Terancam Tewas?Mediasi Audi Marissa dan Anthony Xie Resmi Gagal, Kuasa Hukum: Pintu Rujuk Masih TerbukaRUU Pelindungan Ketenagakerjaan Atur Dana Cadangan Pesangon hingga Larangan Tahan IjazahDulu Buka Jalan Cawapres, Almas Kini Minta DPR Proses Makzulkan GibranCristiano Ronaldo Ungkap Alasan Tinggalkan Timnas Portugal, Klaim Jorge Jesus Ingkar JanjiSegini Hadiah Timnas Indonesia Usai Kalahkan Thailand di Final FIFA ASEAN Cup 2026Menko Sugino minta Menpora hitung kebutuhan tambahan bonus bagi atletMasalah Kualitas, As Roda Chery Omoda 5 Copot Terjadi di MalaysiaHaji Isam Tambah Kepemilikan Saham Bayan, Manajemen Buka Suara
Internasional

Kematian Misterius Teknisi Lab Wabah Pes di Rusia, Apa yang Diketahui?

Detik 3 menit baca 665 kata
Kematian Misterius Teknisi Lab Wabah Pes di Rusia, Apa yang Diketahui? — gambar dari Detik
Gambar dari Detik. Ringkasan oleh Zona News.

Media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tengah "mencermati dengan sangat serius" kasus seorang teknisi laboratorium Rusia yang meninggal di sebuah pusat penelitian wabah pes di Siberia.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan Washington terkait risiko penyebaran wabah pes dari Rusia, Trump mengatakan dia belum membicarakan hal itu dengan Kremlin.

"Saya prihatin mereka mengalaminya," katanya, sebelum menambahkan: "Kami akan membantu. Siapa pun yang menghadapi masalah seperti itu, kami akan selalu membantu." Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan Washington memantau perkembangan kasus tersebut dengan saksama di tengah kekhawatiran bahwa insiden itu dapat menyebabkan penyebaran pes pneumonik.

Namun, ia mengatakan tidak ada alasan untuk khawatir.

Perempuan yang meninggal itu, yang disebut media Rusia bernama depan Daria dan berusia akhir 20-an, baru-baru ini mengunjungi wilayah Buryatia di perbatasan dengan Mongolia.

Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengumumkan penyebab kematian perempuan itu sebagai "pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui".

Ia mengatakan "tidak ditemukan mikroorganisme" yang berkaitan dengan pekerjaannya dalam "sampel biologisnya".

Rusia pantau ratusan orang yang pernah kontak dengan korban Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengutip badan pengawas perlindungan konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan belum ada laporan mengenai staf lain dari lembaga penelitian wabah pes tersebut yang mencari pertolongan medis sejak teknisi laboratorium itu meninggal.

Rospotrebnadzor mengatakan tim keamanan hayati telah memeriksa Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk dan tidak menemukan situasi darurat di sana.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov meminta masyarakat agar tidak "mendengarkan berbagai rumor", melainkan "berpegang pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor".

Media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.

Menlu AS: 'Kami terus mengawasi' Ketika seorang wartawan meminta "perkembangan terbaru mengenai dugaan kasus pes di Rusia", Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan:

"Tampaknya ada seorang pekerja di laboratorium yang terinfeksi dan ada kekhawatiran bahwa infeksi itu mungkin telah menyebar, setidaknya secara internal. Kita telah melihat mereka melakukan karantina dan langkah-langkah semacam itu.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/kematian-misterius-teknisi-lab-wabah-pes-di-rusia-apa-yang-diketahui-ab858a35/.

Baca juga

Penusukan di Sekolah Turki, 1 Siswa SMP Tewas

Seorang siswa sekolah menengah pertama (SMP) meninggal dunia dalam peristiwa penusukan di sebuah sekolah di ibu kota Istanbul, Turki, pada Selasa (6/10). Peristiwa itu terjadi di distrik Basaksehir, barat laut kota itu, sekitar pukul 08.40 waktu setempat.

CNN Indonesia

Semua berita Internasional