Menyelami Lost at Sea di Art Jakarta 2026, Saat Laut Menjadi Metafora Ketidakpastian Masa Depan
Liputan6.com, Jakarta - Laut menjadi ruang yang selalu bergerak. Permukaannya dapat berubah mengikuti cuaca, arus, dan gelombang yang datang tanpa pola tetap. Gambaran tersebut menjadi titik berangkat Lost at Sea, narasi yang membingkai karya School of Medusa II karya seniman asal Yogyakarta, Endry Pragusta, di Art Jakarta 2026.
Karya tersebut membawa gagasan tentang sistem pendidikan yang berada dalam kondisi hanyut. Manusia digambarkan harus menavigasi masa depan dengan perangkat yang belum tentu lengkap.
Perjalanan itu kemudian bersinggungan dengan kehidupan finansial, ketika seseorang perlu menentukan langkah tanpa selalu memiliki gambaran utuh mengenai apa yang akan dihadapi.
"Layaknya berlayar, dalam investasi kita sulit untuk mengendalikan laut maupun memprediksi setiap gelombang. Yang dapat kita lakukan adalah belajar membaca arus, memahami kondisi, menentukan arah, dan menjaga keseimbangan," kata, Head of PR & Corporate Communication Bibit dan Stockbit, William, saat jumpa pers di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Pertanyaan tentang bekal menjadi salah satu lapisan penting dalam narasi tersebut. Pendidikan selama ini lebih sering mengajarkan cara memperoleh penghasilan.
Pengetahuan mengenai cara melindungi, mengembangkan, dan mengelola hasil yang telah diperoleh belum selalu menjadi bagian yang mendapatkan perhatian serupa. Kondisi itu terasa relevan ketika kehidupan terus menghadirkan perubahan.
Pilihan pendidikan, pekerjaan, kebutuhan sehari-hari, hingga rencana masa depan membuat seseorang berhadapan dengan keputusan yang tidak selalu memiliki jawaban pasti. Kemampuan memahami keadaan menjadi bagian dari proses ketika tujuan ingin tetap dicapai.
Rakit Sebagai Perumpamaan Perumpamaan tersebut diteruskan melalui gambaran sebuah rakit. Benda sederhana itu tidak dirancang untuk mengendalikan laut. Daya tahannya justru berkaitan dengan kemampuannya menyesuaikan diri terhadap keadaan di sekitarnya.
"Rakit dapat bertahan bukan karena ia kaku dan tidak berubah, tapi karena mampu beradaptasi, mengikat kembali bagian-bagiannya, dan mencari keseimbangan ketika gelombang datang. Begitu pula dengan investasi, ketika arus berubah kita tetap harus mendayung," tutur William.
School of Medusa II hadir dalam Art Jakarta 2026 yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Ajang tersebut mempertemukan galeri, seniman, kolektor, institusi, serta komunitas seni dari Indonesia dan berbagai negara di Asia.
Bibit dan Stockbit berpartisipasi sebagai Lead Partner Art Jakarta 2026. Kehadiran mereka turut disertai aktivitas interaktif yang dapat diikuti pengunjung selama pameran.
Penekanan dalam Perjalanan Pengetahuan menjadi salah satu bagian yang ditekankan dalam perjalanan tersebut. Investasi tidak ditempatkan sebagai aktivitas untuk menebak arah setiap pergerakan, melainkan sebagai proses memahami kondisi dan membuat keputusan berdasarkan informasi yang dimiliki.
Pengalaman para seniman juga memiliki ruang dalam pembicaraan itu. Proses menciptakan karya membutuhkan gagasan, eksplorasi, ketekunan, serta keberanian menghadapi hasil yang belum diketahui sejak awal.
Perjalanan kreatif memiliki bentuknya sendiri, sama seperti setiap orang memiliki cara berbeda dalam menyusun rencana kehidupan. Pengunjung Art Jakarta 2026 dapat ikut masuk ke dalam percakapan tersebut melalui aktivitas yang disiapkan Bibit dan Stockbit.
Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/menyelami-lost-at-sea-di-art-jakarta-2026-saat-laut-menjadi-metafora-d229ccd4/.
Baca juga
Profil dan Pendidikan Mashudi, Dirjenpas yang Mundur Buntut Kasus Lapas Cibinong
PROFIL dan pendidikan Mashudi menarik diulas. Sebab, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) ini resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Aghniny Haque Semangat Bintangi Film Dewi Siluman Ular, Skenarionya Ditulis Sang Idola
- Film Dewi Siluman Ular diangkat dari kisah nyata podcast, dibintangi aktor ternama. - Aghniny Haque memerankan Lela, karakter lemah lembut yang menantang baginya. - Dedi menikahi siluman ular karena utang dan biaya medis, menjadikan Lela korban.
Margarito Kamis Heran Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Masih Disidangkan MK
Pakar hukum tata negara Margarito Kamis mempertanyakan mengapa gugatan terkait syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih disidangkan Mahkamah Konstitusi.
Fitri Salhuteru Prihatin Richard Lee Masuk Bui: Semoga Jadi Penggugur Dosa
JAKARTA - Fitri Salhuteru prihatin melihat kondisi Richard Lee sejak masuk jeruji besi akibat kasus dugaan pelanggaran hak konsumen dan Undang-Undang Kesehatan yang dilaporkan Doktif.