Lewati ke konten

Selasa, 6 Oktober 20262292 berita

Penjualan Rumah Subsidi Ambruk, Ini Biang KeroknyaVIDEO: 17 Pegawai Lapas Cibinong Disanksi, Kalapas Diberhentikan12 pembalap tiba di Lombok, bersiap untuk MotoGP Mandalika 2026Koordinator BEM UI Diserang OTK di Jaksel, Ditendang lalu Nyungsruk dari MotorKapolres Bogor Tekankan Sinergitas TNI-Polri Kunci Mutlak Jaga Keamananamp;nbsp;Juara, Prabowo serahkan trofi FIFA ASEAN Cup ke pemain IndonesiaPolisi imbau suporter rayakan kemenangan Indonesia secara tertibJamal Mirdad Sentil Artis Muda yang Cuma Kejar Viral: “Berikan Karyamu”Pekalongan gelar Festival Literasi untuk bangkitkan minat baca wargaSejumlah menko mulai gunakan Maung Garuda sebagai kendaraan dinas
Ekonomi

Penjualan Rumah Subsidi Ambruk, Ini Biang Keroknya

CNN Ekonomi 2 menit baca 467 kata
Penjualan Rumah Subsidi Ambruk, Ini Biang Keroknya — gambar dari CNN Ekonomi
Gambar dari CNN Ekonomi. Ringkasan oleh Zona News.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Ari Tri Priyono membeberkan penjualan rumah subsidi tahun ini mengalami penurunan jauh lebih buruk dibandingkan saat pandemi Covid-19.

"Ini kita pakai jawabannya orang lain saja. Kalau kata teman-teman yang lain ini lebih buruk dari Covid. Covid itu kita masih bisa tumbuh. Apalagi FLPP masih bisa tumbuh. Kalau ini benar-benar (sulit)," ujar Ari seperti diberitakan detikcom, Sabtu (3/10).

Ari mengatakan kondisi tersebut membuat para pengembang perumahan kini dilanda kebingungan karena lesunya pasar. Padahal, awalnya mereka memperkirakan penyerapan melalui skema KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) bisa menembus lebih dari 200 ribu unit pada akhir tahun ini.

Namun, penyerapan rumah subsidi justru baru menyentuh angka 161.746 unit dari kuota 350 ribu yang disiapkan pemerintah per 29 September 2026.

Ia mengungkapkan bahwa akar permasalahan saat ini bukan terletak pada pasokan atau supply, melainkan lemahnya daya beli dan minat masyarakat atau demand. Menurut dia, para pengembang sebenarnya mampu membangun rumah dalam jumlah berapa pun, tetapi pembelinya justru sangat minim.

Ari pun menyoroti perubahan gaya hidup generasi muda yang saat ini semakin jarang yang memiliki orientasi untuk segera membeli rumah, dan lebih memilih mengalokasikan uangnya demi kebutuhan sehari-hari atau berlibur.

Selain itu, sebagian masyarakat juga terbentur riwayat kredit macet akibat pinjaman online yang tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meskipun OJK telah memberikan relaksasi berupa pengecualian SLIK untuk tunggakan di bawah Rp1 juta, kebijakan tersebut dinilai belum berdampak signifikan karena perbankan masih bersikap hati-hati.

"Walaupun ya kemarin kan OJK sudah memberikan semacam relaksasi dengan SLIK yang di bawah Rp 1 juta, itu tidak tampil. Cuma itu juga rasanya bank juga takut untuk melaksanakannya," beber Ari.

"Jadi bank sikapnya tetap sama walaupun dia tidak menentang (keputusan OJK) itu, tapi kita tidak melihat ada pergerakan signifikan dari sebelum ada kebijakan itu dengan setelahnya," ungkapnya.

Ari menyebut pemerintah sebenarnya telah menggelontorkan berbagai insentif menarik guna mendongkrak sektor properti. Mulai dari pembebasan pajak hingga 100 persen untuk pembelian rumah sampai Rp2 miliar yang diperpanjang hingga Desember 2027, penyediaan KPR subsidi dengan bunga tetap 5 persen, uang muka dan tenor panjang hingga 40 tahun, serta penggratisan BPHTB dan PBG.

Namun, berbagai insentif dari pemerintah itu belum mampu menaikkan minat Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam membeli rumah.

Lebih lanjut, Ari mengatakan situasi kian memprihatinkan lantaran konsumen yang terlanjur mengambil KPR subsidi kini banyak yang mulai kewalahan.

Sejumlah bank turut melaporkan maraknya kasus penghentian cicilan, pengalihan kredit, hingga penjualan rumah secara bawah tangan di tengah jalan karena pemiliknya tidak sanggup lagi membayar angsuran atau memilih pulang kampung.

Ringkasan ini disusun otomatis dari artikel sumber. Untuk konteks, fakta lengkap, dan koreksi, buka artikel asli di https://news.zonaindonesia.com/berita/penjualan-rumah-subsidi-ambruk-ini-biang-keroknya-ef3ecf78/.

Baca juga

Semua berita Ekonomi